Hari Raya Kartini dan Sosok Kartono yang Dilupakan

Hari Raya Kartini dan Sosok Kartono yang Dilupakan

Namun lepas dari semua perjuangan Kartini, ada sosok yang selalu terlupakan di setiap perayaan hari Kartini. Padahal, sosok ini juga tak kalah punya andil besar dalam perkembangan pendidikan Indonesia. Siapakah dia? Dia adalah Kartono. (Kartini & Kartono - ist)

JAKARTA, dawainusa.com – Setiap tahun di tanggal 21 April, kita memperingati hari lahir Raden Ajeng Kartini, perempuan yang memiliki andil besar dalam perkembangan emansipasi perempuan Indonesia.

Putri priyayi yang memiliki pemikiran yang cerdas dan visioner ini meninggal di usia yang sangat muda yakni di usianya yang ke 25 tahun.  Kartini, perempuan asli Jawa itu ternyata  tidak hanya lincah di dapur. Di usianya yang relatif muda, ia memiliki kepedulian besar pada perempuan pribumi yang berada pada status sosial terendah.

Kartini tak ingin perempuan selalu di suruh-suruh dan diancam. Maklum, di  era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal.

Baca juga: Dugaan Mahfud MD soal Jokowi dalam Pilpres 2019

Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria, bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya, ia tuangkan  dalam sebuah buku yang berjudul “Door Duistermis tox Licht, (Habis Gelap Terbitlah Terang)”.

Adapun buku tersebut tak lain adalah kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini. Surat-surat itu ia dituliskan kepada sahabat – sahabatnya di negeri Belanda. Buku itulah yang kemudian menjadi pendorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya.

Bahkan lebih dari itu, perjuangan Kartini tidak hanya tertulis di atas kertas, tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.

Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak saat itu, sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.

Namun lepas dari semua perjuangan Kartini, ada sosok yang selalu terlupakan di setiap perayaan hari Kartini. Padahal, sosok ini juga tak kalah punya andil besar dalam perkembangan pendidikan Indonesia. Siapakah dia? Dia adalah Kartono.

Siapakah Kartono?

Kartono, bukanlah yang selalu menjadi candaan dalam berbagi perayaan Kartini. Melainkan dia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono yang merupakan kakak kandung Kartini.

Tak banyak yang tahu kalau Kartono adalah pemberi inspirasi kepada Kartini untuk memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia. Namun lepas dari itu, Kartono adalah seorang yang cerdas dan jenius.

Baca juga: Pansus Tenaga Kerja Asing, Fadli Zon Didukung Fahri Hamzah

Kartono, Seorang Dokter

Jika Kartini dianggap sebagai Pahlawan Nasional, karena pemikirannya, tak berlebihan kalau Kartono disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Sama-sama cerdas dengan Kartini, Kartono menamatkan studinya di Leiden University, Belanda.

Ia juga seorang dokter yang bisa mengobati berbagi jenis penyakit dan bahkan hanya dengan media air putih. Sungguh, kalau Kartono hidup di masa kini dia pasti lebih heboh daripada Ponari si penyembuh penyakit dengan batu celup itu.

Wartawan dan Seorang Genius

Kartono juga berkarier sebagai wartawan perang pada sebuah koran Amerika bernama The New York Herald Tribune di kota Wina, Austria. Lewat pekerjaan tersebut ia diberi pangkat Mayor oleh panglima perang Amerika pada saat itu.

Selepas dari itu, Kartono mendapatkan pekerjaan yang cukup bonafid, yaitu sebagai penerjemah di Liga Bangsa – Bangsa ( pendahulu PBB) pada tahun 1919 – 1921. Hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena kemampuannya dalam berbahasa.

Kartono merupakan seorang poliglot, yaitu seseorang yang fasih berbicara dalam berbagai macam bahasa. Ia bisa berbicara dalam 26 bahasa asing, 10 bahasa nusantara dan jenis – jenis bahasa yang tidak umum bagi orang banyak pada saat itu, misalnya Bahasa Latin dan Bahasa Basken, salah satu suku bangsa di Spanyol.

Dan yang paling keren adalah Kartono bisa memotret kawah gunung Kawi pertama kali di udara tanpa menggunakan pesawat terbang. Keren sekali bukan?*

COMMENTS