Harapan KPUD NTT Untuk Debat Ketiga Pilgub NTT

Harapan KPUD NTT Untuk Debat Ketiga Pilgub NTT

Pihak KPUD NTT memastikan bahwa panelis dalam debat terakhir ini semuanya ialah perempuan (Foto: Debat Pilgub NTT - ist)

KUPANG, dawainusa.com – Debat ketiga pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pilgub NTT) sebentar lagi akan digelar. Dalam agendanya, debat terakhir ini akan dilaksanakan di Jakarta dan akan disiarkan secara langsung atau live oleh stasiun swasta iNews, Sabtu (23/6) nanti.

Terkait pelaksanaan debat tersebut, pihak KPUD NTT melalui juru bicara KPU Yosafat Koli berharap agar dalam debat itu setiap pasangan calon mampu membeberkan dan menjelaskan secara detail soal visi dan missi mereka untuk membangun NTT.

“Kami sangat berharap pada debat terakhir tersebut keempat paslon benar-benar menyampaikan visi dan misi secara detail sehingga masyarakat NTT dapat menilai dan memberikan pilihannya pada tanggal 27 mendatang,” kata Yosafat Koli di Kupang, Senin (4/6).

Baca juga: Debat Pilgub NTT, Bukan Hanya Sekedar Tanya Jawab

Untuk debat terakhir tersebut, pihak KPU memilih tema “Pendidikan dan Kesehatan”. Dengan tema ini, diharapkan setiap pasangan calon yang akan bertarung dalam Pilgub nanti dapat memberikan jawaban atau program solutif serta inovatif mereka untuk mengatasi berbagai masalah dalam hal pendidikan dan kesehatan di provinsi berbasis kepulauan tersebut.

Pihak KPU sendiri, jelas Koli, berencana akan memilih beberapa panelis untuk menyusun pertanyaan yang akan disampaikan dalam debat tersebut. Para panelis yang akan dipilih, kata dia, ialah orang-orang yang memiliki kapasitas atau kemampuan untuk mengelaborasi persoalan pendidikan dan kesehatan di NTT.

Panelis ini akan dipilih dari kalangan akademisi dan praktisi sesuai dengan tema yang akan diperdebatkan tersebut. “Sehingga mereka bisa menyusun pertanyaan yang benar-benar terarah dengan baik,” ujar Koli.

Para panelis itu memang sejauh ini belum dipilih oleh KPU. Tetapi, pihak KPU memastikan bahwa panelis dalam debat terakhir ini semuanya ialah perempuan.

Debat Pilgub NTT Harus Memakai Data

Permintaan pihak KPUD NTT tersebut memang mesti diperhatikan oleh setiap pasangan calon yang akan bertarung dalam kontestasi Pilgub NTT pada 27 Juni mendatang. Pasalnya, setelah melewati debat yang telah berlangsung selama dua kali di Jakarta, yakni pada 5 April dan 8 Mei lalu, masing-masing pasangan calon masih belum mampu memanfaatkan momentum debat dengan baik.

Setiap pasangan calon belum berhasil membahas segala persoalan di NTT dengan baik dan akhirnya tidak bisa meyakinkan masyarakat NTT dengan program-program solutif dan inovatif yang mereka usungkan untuk membangun NTT.

Hal ini sendiri juga sudah ditegaskan oleh Pengamat politik dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang Mikhael Bataona. Mengomentari debat kedua Pilgub NTT kali lalu, ia mengatakan, dalam debat tersebut, setiap pasangan calon belum menjawab persoalan di daerah berbasis kepulauan itu.

Bataona mengatakan, seharusnya dalam debat tersebut, setiap pasangan calon beradu argumentasi dengan berpijak pada data terkait masalah di NTT.

Baca juga: Debat Kedua Pilgub NTT: Saling Memuji, Bukannya Menguji

“Pada acara debat kedua ini juga normatif dan sepertinya semua calon mengemukakan format berpikir yang sangat ideal. Tidak ada satupun yang menggunakan data,” ungkap Bataona di Kupang, Kamis (10/5).

Karena tidak berbasis data, demikian Bataona, debat kedua tersebut terlihat sangat mengawang, tanpa menyentuh langsung persoalan di NTT. Padahal, jelas Bataona, penggunaan data dalam suatu debat sangat penting agar solusi yang ditawarkan juga sesuai dengan kebutuhan.

Bataona mengatakan, data tersebut merupakan alat pembanding. Misalnya, data soal penempatan jabatan di lingkungan pemerintahan dan korupsi di NTT. Data seperti ini, kata Bataona, mesti disajikan lalu digunakan untuk berdebat.

“Panelis sudah sedikit memancing dalam pertanyaan tetapi hal ini gagal dimaksimalkan oleh semua paslon. Mereka tidak berani bicara berbasiskan data dan hanya menyampaikan hal-hal ideal tentang birokrasi dan juga mimpi-mimpi mereka untuk gerakan anti korupsi di NTT,” ujar Bataona.

Bukan Ajang Saling Memuji

Selain mesti memakai data sebagai basis empiris dalam berdebat soal masalah di NTT, debat juga diharapkan tidak dijadikan sebagai ajang untuk saling memuji di antara setiap pasangan calon (paslon).

Debat pada hakikatnya ialah sebuah kesempatan untuk saling mengkritisi, menggeledah, membongkar dan menelanjangi setiap program yang ditawarkan oleh masing-masing paslon. Karena itu, yang dipertandingkan dan diuji dalam debat ialah dalil-dalil rasional dalam rangka membangun NTT dan bukan aksi saling memuji di antara pasangan calon.

Debat seperti ini yang masih absen dalam debat pertama dan kedua Pilgub NTT kali lalu. Bataona sendiri juga sudah mengungkap sikap kecewanya soal ini, secara khusus terkait dengan aksi saling memuji yang dilakukan oleh beberapa paslon dalam debat kedua Pilgub NTT kali lalu.

Baca juga: Debat Kedua: Solusi Paslon Soal Penataan Birokrasi di NTT

“Ada beberapa sesi di mana para paslon saling memuji juga baik tetapi harusnya memuji dengan mendebat kualitas jawaban lawan. Itu tidak terlihat. Debat itu acara di ruang publik atau dalam bahasa filosofis adalah sebuah hajatan di polis. Bukan di rumah atau oikos,” kata Bataona.

Aksi saling memuji dalam debat tersebut, demikian Bataona, merupakan bentuk kegagalan pasangan calon dalam memahami hakikat dari debat itu. Padahal, jelasnya, debat itu sendiri juga dilaksanakan dengan menghabiskan anggaran yang besar.

“Ini patut disayangkan karena mengeluarkan biaya yang tidak kecil dari APBD NTT, tapi hanya menghasilkan hal yang biasa-biasa saja,” tegas Bataona.*

COMMENTS