Hanafi dan Goenawan Mohamad dalam Kolaborasi 57×76

Hanafi dan Goenawan Mohamad dalam Kolaborasi 57×76

Pada 21 Juni hingga 2 Juli 2018 mendatang, Hanafi dan Goenawan Mohamad akan menggelar pameran bertajuk Kolaborasi 57x76 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. (Foto: Hanafi dan Goenawan Mohamad - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Pada 21 Juni hingga 2 Juli 2018 mendatang, Hanafi dan Goenawan Mohamad akan menggelar pameran lukisan kolaboratif di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Kolaborasi 57×76 merupakan tajuk pameran yang dipilih dari usia maestro Hanafi dan sastrawan Goenawan Mohamad.

Pameran tersebut nantinya akan menghadirkan lebih dari 200 karya kolaboratif keduanya di atas kertas dan kanvas. Salah satu keunikan dari kolaborasi ini ialah, satu kanvas dikerjakan oleh dua orang; tanpa kata-kata dan hanya berbicara lewat karya yang dihasilkan.

Menurut Goenawan Mohamad, dalam kolaborasi keduanya, sama sekali tidak ada diskusi tentang konsep. Yang terjadi di sana hanyalah dialog intuitif.

“Dalam kolaborasi ini, kami tak banyak bicara satu sama lain – tanpa pesan, tanpa kata-kata akan mengirimkan karya-karyanya kepada saya, saya kira dengan keyakinan hasil kreasi itu tak akan jadi buruk jika saya menambahkan garis, warna dan bentuk yang saya buat. Tak ada diskusi tentang konsep. Kami masing-masing terjun langsung ke dalam karya yang dihadapi, memberi respons. Sebuah dialog intuitif berlangsung,” kata Goenawan.

Baca juga: Goenawan Mohamad, Menuju Pameran ‘Kolaborasi 57 x 76’

Sementara, Hanafi mengibaratkan karya kolaborasinya seperti sebuah novel yang dibaca di halaman tengah. Pengunjung tidak akan bisa menduga awal dan akhir dari halaman novel.

Pameran Kolaborasi Hanafi dan Goenawan Mohamad: 57x76

Pameran 57×76 (Foto: ist)

“Seperti sebuah Novel yang dibaca dari halaman tengah, karya kami mendorong pemirsa untuk terus menduga akhir dan awal penyebab awal halaman depan tak sempat terbaca. Tetapi sebuah kanvas memiliki banyak pintu, lebih banyak dari yang dimiliki sebuah Novel,” ujar Hanafi.

Keduanya, baik Hanafi maupun Goenawan, sama-sama telah melakukan banyak kolaborasi. Goenawan Mohamad selama beberapa tahun terakhir ini aktif di dunia seni rupa. Selain itu, dirinya telah lama berkiprah di dunia sastra, seni rupa kebudayaan jurnalistik dan beberapa tahun terakhir mengembangkan minatnya lewat seni rupa.

Dunia seni rupa, bagi Goenawan tidak sekonyong-konyong datang, tetapi telah lama dicintainya. Sejak lama ia telah berkreativitas bersama sanggara bambu, sebuah sanggar seni tempat sekumpulan anak muda dari Yogyakarta yang dekat dengan seni lukis, patung dan kriya.

Demikian pun halnya dengan Hanafi. Hanafi telah melakukan banyak kolaborasi. Tak hanya dengan sesama perupa, juga dengan sesama seniman lintas disiplin, seperti sastrawan musisi, dan seniman pertunjukan.

Kolaborasi “57 x 76”, Ingin Bebas untuk Saling ‘Merusak’

Dari dua pandangan di atas, keduanya ingin bebas untuk saling ‘merusak’ layaknya dialog yang tak selalu baik-baik saja. Dua ratus lebih karya di atas kertas dan kanvas dengan tiga instalasi akan menemui Anda, sekalian memperlihatkan bagaimana daya karsa di atas akan saling merusak.

“Bagi saya kata ‘dirusak’ adalah isyarat untuk membuat metamorfosis pada garis, bidang, dan warna yang ia tawarkan. Pada umumnya Hanafi membuat karya-karya monokromatik dan kalau tidak, deretan karyanya mengisyaratkan tema kenangan kepada Picasso, Max Ernst, sugesti erotic, dan bentuk-bentuk surealistis. Saya menyambut ‘corak’ ini mengikutinya justru dengan membuat beda tiap kali,” kata Goenawan.

Baca juga: Perempuan di Istanbul Protes Pemisahan Area Pria-Wanita di Masjid

Revolusi Prancis di atas meja kaca

Revolusi Prancis di atas meja kaca (Foto: ist)

Adapun pameran “57 x 76” ini juga akan menghadirkan sebuah worskhop kolaborasi sebagai metode bersama Goenawan Mohamad, Hanafi dan Agung Hujatnikajennong, pada tanggal 24 Juni 2018, pukul 14.00 WIB di Galeri Nasional Indonesia.

Sedangkan tour media di hari pembukaan, pada 21 Juni 2018, akan berlangsung mulai pukul 16.00 WIB bersama Goenawan Mohamad dan Hanafi.

Tentang Kolaborasi “57 x 76”

Adapun tajuk pameran “57 x 76” merupakan angka yang diambil dari usia maestro Hanafi dan sastrawan Goenawan Mohamad. Sementara metode yang digunakan dalam kolaborasi ini, tergolong sangat unik dan belum pernah dipakai sebelumnya, yaitu satu kanvas dikerjakan oleh dua orang.

Tanpa kata-kata, ternyata proses kolaborasi yang terjadi dapat berbicara dengan sendirinya melalui karya yang dihasilkan. Keduanya memegang spidol dan mencari lokasi yang pas untuk membubuhkan tanda tangan.

Baca juga: Pidato Lengkap Yahya Cholil Staquf Soal Israel-Palestina

Setelah melihat kanvas, menimbang sebentar, Hanafi pun mulai menggoreskan tanda tangannya, disusul Goenawan Mohamad di  sebuah karya. Ia menyandingkan tanda tangannya di samping tanda tangan Hanafi di karya tersebut. “Ini seperti akad nikah,” ujar Gunawan.

Max Ernst dalam Kolaborasi 57x76

Max Ernst (Foto: ist)

Gunawan mengatakan, hanya ada dua jenis lukisan di dunia, lukisan yang terbuka dan dapat menerima apapun serta lukisan yang tidak mau ditambah ataupun dikurangi. Selain itu, ia menyebutkan bahwa jenis karya Hanafi adalah lukisan yang terbuka.

Maka, konsekuensinya adalah adanya kesempatan untuk mengurangi dan atau menambahkan. Karenanya, sangat memungkinkan untuk menambah apa yang penting dan mengurangi apa yang tidak perlu. Kolaborasi yang terjadi ini sangatlah bebas.

Sebelumnya, pada Minggu, 1 April 2018 di Komunitas Salihara telah melakukan proses penandatanganan karya Kolaborasi 57×76 antara Hanafi dan Goenawan Mohamad. Pada 217 karya telah tergoreskan tanda tangan dari maestro Hanafi dan sastrawan Goenawan Mohamad untuk dapat kemudian dipamerkan dan diadopsi oleh para apresiator seni.*

COMMENTS