Hanafi dan Goenawan Mohamad, Cerita di Balik Kanvas 57 x 76

Hanafi dan Goenawan Mohamad, Cerita di Balik Kanvas 57 x 76

Oleh-oleh cerita Dawainusa.com setelah berkesempatan mewawancarai Hanafi dan Goenawan Mohamad pada pembukaan pameran 57 x 76. (Foto: Hanafi dan Goenawan Mohamad - dawainusa.com)

JAKARTA,  dawainusa.com “Menggambar itu proses. Tak perlu konsep, tak perlu identitas. Yang paling penting adalah permainan yang tidak terduga-duga,” ungkap Goenawan Mohamad saat Dawainusa.com menyentil soal ‘kekaburan’ identitas yang ditampakkannya dalam lukisan kolaborasi 57 x 76 bersama perupa Hanafi, di Galeri Nasional Jakarta, Kamis (21/6).

Karya kolaboratif keduanya memang sangat unik sekaligus mendalam. Dua identitas yang berbeda dileburkan dalam satu kanvas yang sama. Bagi Goenawan Mohamad, memangkas promosi identitas dalam sebuah lukisan kolaboratif menjadi salah satu metode baru dalam memahami setiap lukisan.

Sama seperti Adorno, yang menempatkan filsafat dalam usaha menemukan kontradiksi dan non-identitas, Goenawan Mohamad pun demikian. Dalam sebuah lukisan kolaboratif, Goenawan Mohamad hendak menciptakan sebuah kontradiksi baru bahwa setiap lukisan itu tidak selalu identik dengan sang pelukis.

Baca juga: Hanafi dan Goenawan Mohamad dalam Kolaborasi 57×76

Karena itu, mencari tahu siapa pelukis di balik setiap lukisan, bukanlah hal yang penting bagi Goenawan Mohamad. “Anda tahu Adorno, dengan non-identity-nya. Tak perlu identitas,” jelasnya.

Pertanyaan soal identitas sebetulnya muncul dari keingintahuan sejumlah pengunjung yang penasaran mendeteksi bagian mana yang menjadi lukisan masing-masing seniman. Sebelumnya, sejumlah wartawan yang turut hadir dalam acara Media Tour pun mencoba menyentil pertanyaan yang sama; mana lukisan Hanafi dan mana lukisan Goenawan Mohamad.

Usaha peleburan dua identitas yang berbeda dalam satu kanvas yang sama, tanpa berusaha untuk saling menonjolkan, rupanya berhasil dihidupkan keduanya. Goenawan Mohamad hendak menunjukkan, di dalam ruang peleburan, yang tersisa hanyalah kepercayaan untuk saling menerima dan mengakui.

Dawainusa saat berbincang bersama Goenawan Mohamad

Dawainusa.com saat berbincang bersama Goenawan Mohamad (Foto: ist)

Semangat itulah yang dihidupi keduanya selama proses pembuatan lukisan-lukisan yang menghabiskan waktu sekitar enam bulan itu. Goenawan Mohamad sangat merasakan suasana tersebut. Ketika ia harus berduel dengan sang perupa kondang Hanafi dalam sebuah dialog yang ia sebut sebagai dialog intuitif, ada semacam keyakinan yang hendak diedarkan di sana.

“Dalam kolaborasi ini, kami tak banyak bicara satu sama lain. Hanafi tanpa pesan, tanpa kata-kata, akan mengirimkan karya-karyanya kepada saya. Saya kira dengan keyakinan hasil kreasi itu, tak akan jadi buruk jika saya menambahkan garis, warna dan bentuk yang saya buat,” kata Goenawan Mohamad.

Dialog intuitif, tanpa kata, tanpa pesan dan hanya bermodalkan kepercayaan justru mampu menumbuhkan daya cipta sekaligus kreasi yang utuh. Dalam ruang kepercayaan itulah, keduanya membiarkan garis-garis pada kanvas ‘dirusak’, layaknya sebuah dialog yang tak selalu baik-baik saja.

Sebanyak 200 lebih karya di atas kertas dan kanvas, dengan tiga instalasi, memperlihatkan bagaimana daya karsa keduanya untuk saling ‘merusak’.

“Kata ‘dirusak’ bagi saya adalah isyarat untuk membuat metamorfosis pada garis, bidang dan warna yang ia tawarkan. Pada umumnya Hanafi membuat karya-karya monokromatik, dan kalau tidak, deretan karyanya mengisyaratkan tema: kenangan kepada Picasso, Marx Ernest, sugestic erotic, dan bentuk-bentuk surealistis. Saya menyebut ‘corak’ ini, mengikutinya, dan justru dengan membuat beda tiap kali,” paparnya.

“Dalam kekaburan identitas yang ditampakkan setiap lukisan itu, adakah makna yang hendak Anda proklamirkan ke publik?” Demikian Dawainusa.com mencoba mengungkit kembali makna di balik ratusan lukisan yang terpampang di setiap ruangan itu.

Goenawan Mohamad rupanya tidak terjebak dalam pertanyaan umum seperti itu. Ia justru ‘menolak’ untuk menjelaskan makna di balik setiap lukisan 57 x 76. Baginya, menjelaskan apa yang hendak disampaikan dari sebuah gambar tidaklah penting. Setiap lukisan cukup dinikmati dengan seluruh sensasi imajinatif yang dimiliki.

“Tak perlu menjelaskan apa yang hendak disampaikan dalam sebuah gambar, tetapi cukup dengan menikmati. Dalam lukisan modern, jangan seperti melihat cerita, sebab itu membekukan,” ungkapnya.

Membongkar Batas-batas Personal

Sama seperti Goenawan Mohamad, demikian pun Hanafi memahami peleburan identitas dalam satu kanvas yang sama sebagai upaya membongkar batas-batas personal yang subjektif partikular. Selain ruang kepercayaan dan pengakuan yang dimunculkan, ada semacam upaya untuk membuka diri terhadap campur tangan pihak lain.

Bagi Hanafi, kolaborasi keduanya sama seperti novel yang dibaca dari halaman tengah. Di sana, publik diberi ruang yang cukup untuk menduga halaman-halaman yang tak sempat terbaca. Mereka pun seolah tidak menunjukkan ketuntasan lukisan di dalam kanvas, tetapi membiarkan ruang itu diisi oleh imajinasi publik.

Baca juga: Kolaborasi 57 × 76, Dialog Intuitif Goenawan Mohamad dengan Hanafi

“Karya kami mendorong pemirsa untuk terus menduga akhir dan awal penyebab halaman depan yang tak sempat terbaca. Tetapi, sebuah kanvas memiliki banyak pintu, lebih banyak dari yang dimiliki sebuah novel,” paparnya.

Hanafi pun mempersilahkan pengunjung untuk menentukan seperti apa tolok ukur kesuksesan kolaborasi ini: apakah sukses bila ciri khas mereka melebur, atau sebaliknya, sukses bila terlihat jelas mana bagian yang dibuat oleh masing-masing seniman.

Di sisi lain, ada hal yang hendak diucapkan dalam peleburan dan ‘ketidaktuntasan’ setiap lukisan yang tergores di dalam kanvas, sekaligus makna di balik proses selama menyelesaikan lukisan kolaboratif dengan Goenawan Mohamad.

Dawainusa saat berbincang bersama Hanafi Muhamad

Dawainusa.com saat berbincang bersama Hanafi Muhamad (Foto: ist)

Hanafi menyodorkan pendekatan baru dalam memahami setiap lukisan. Ia menganalogikannya dengan orang yang mengikuti perlombaan lari maraton. Menurutnya, kita tidak sekedar menumbuhkan harapan untuk menjadi juara dalam perlombaan, tetapi mengaktifkan kepingan-kepingan peroses sebelum menuju ke sana, tak boleh diabaikan.

“Kita sering mengabaikan hal-hal penting dalam relasi antar-manusia dengan manusia,” tegasnya.

Baginya, kalau kita terjebak hanya sekedar melukis bagus, tanpa secara utuh melihat hal-hal kecil yang penting di balik itu, maka kita tak mampu menangkap sesuatu yang lain, yang sesungguhnya lebih bermakna.

“Yang bagus sudah banyak, kalau cara melihat seperti itu terus, gak dapat apa-apa,” ungkap Hanafi.

Tiba-tiba Menjadi Orang Biasa

Adinda Luthvianti adalah ‘orang dekat’ Hanafi yang selalu mengikuti proses penyelesaian lukisan kolaboratif keduanya. Kepada Dawainusa.com, istri dari perupa Hanafi ini, menceritakan kesabaran kedua sosok yang sangat dikaguminya itu.

Bagi Adinda, dalam kesabaran, Hanafi dan Goenawan Mohamad hendak mendorong semua orang untuk mengaktifkan kebebasan dan daya kreatifitas lewat apa saja.

Baca juga: Goenawan Mohamad, Menuju Pameran Kolaborasi 57 x 76

“Saya melihat proses Mas Gun dan Mas Hanafi, kedua orang ini sabar dan keduanya ingin mengatakan, ‘capailah kebebasan dan kreatifitasmu lewat apa saja’. Bisa dengan seperti mereka berkolaborasi; ada pertemuan, ada kebersamaan,” terangnya.

Dawainusa saat berbincang bersama Bunda Hanafi (Foto: ist)

Dawainusa.com saat berbincang bersama Adinda Luthvianti (Foto: ist)

Di mata Adinda, kedua sosok ini juga hendak mempromosikan makna dari kerendahan hati dengan menjadi pribadi yang biasa, tanpa ‘topeng’. Hal tersebut bisa dilihat dari tulisan-tulisan Goenawan Mohamad yang tidak pernah mendiskreditkan orang lain, sama seperti Hanafi yang selalu tampil apa adanya.

“Mas Gun tidak pernah men-judge orang dalam tulisannya, tidak pernah mendiskreditkan siapapun dalam tulisannya. Dia hanya menulis dengan bahasa yang indah. Hanafi pun demikian,” ungkapnya.

Dalam konteks peleburan identitas, Adinda lebih menyorotinya dalam kerangka penghormatan terhadap keberagaman. Dalam konteks keberagaman, upaya untuk menonjolkan satu identitas tertentu akan meredupkan semangat kebersamaan.

“Artinya mereka berdua mengajak kita semua untuk kreatif menafsirkan apa saja dan melakukan apa saja, atas nama keberagaman dan kebersamaan,” katanya.

Adinda memiliki kesan tersendiri terhadap kedua sosok ini, khususnya selama proses penyelesaian kolaborasi lukisan. Keduanya tiba-tiba menjadi ‘orang biasa’, padahal mereka sedang menciptakan keinginan yang luar biasa.

“Mereka tiba-tiba menjadi orang biasa. Banyak orang datang melihat, ngobrol, biasa saja, kadang-kadang mereka istirahat dan ngopi. Padahal mereka sedang menciptakan keinginan-keinginan yang lebih besar,” tutupnya.*