Golkar NTT Nilai Gubernur Frans Lebu Raya Belum Berhasil Bangun NTT

Golkar NTT Nilai Gubernur Frans Lebu Raya Belum Berhasil Bangun NTT

Banyak persoalan di NTT yang belum ditangani secara serius selama kepemimpinan Frans Lebu Raya (Foto: Frans Lebu Raya - ist)

KUPANG, dawainusa.com – Fraksi Partai Golkar NTT menilai, Gubernur Frans Lebu Raya belum berhasil membangun NTT.  Hal itu disampaikan karena banyak persoalan di NTT yang belum ditangani secara serius selama kepemimpinan Frans Lebu Raya.

Frans Lebu Raya, kata Fraksi Golkar, belum berhasil menuntaskan masalah Kawasan Industri (KI) Bolok. Pasalnya,  sampai saat ini, selain masalah hukum yang dihadapi, juga masalah rancangan peraturan daerah (Ranperda) soal KI Bolok yang belum mendapat nomor registrasi dari pemerintah pusat.

“Fraksi Partai Golkar menilai bahwa saudara gubernur NTT belum berhasil menuntaskan perangkat lunak penataan dan pengembangan KI Bolok. Alasannya, sampai saat ini ada dua Ranperda menyangkut KI Bolok yang belum mendapat nomor registrasi dari Biro Hukum Kemendagri,” kata Juru Bicara Fraksi Partai Golkar DPRD NTT, Gabriel Manek saat rapat paripurna DPRD NTT di ruang sidang utama DPRD NTT, Rabu (30/5).

Baca juga: Klaim Frans Lebu Raya Soal Kualitas Pendidikan di NTT

Dua Ranperda itu, lanjut Manek, ialah Ranperda tentang pengelolaan KI Bolok dan Ranperda tentang PT. KI  Bolok. Dia menjelaskan, dua Ranperda itu merupakan Ranperda terlama dalam proses evaluasinya di Kemendagri RI.

“Dengan ditetapkannya dua ranperda ini maka tentu iklim investasi akan semakin bergairan, termasuk pertumbuhan ekonomi pun akan meningkat,” katanya.

Adapun Rapat paripurna dengan agenda penyampaian pemandangan umum fraksi-fraksi di DPRD NTT terhadap nota pengantar  Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2017 ini dipimpin Wakil Ketua DPRD NTT, Alex Take Ofong didampingi Gubernur NTT Drs. Frans Lebu Raya dan dihadiri anggota DPRD NTT serta Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Lingkup Pemprov NTT.

PT. Flobamor Tidak Menunjukkan Tanda-Tanda Perbaikan

Hal lain yang disoroti Fraksi Partai Golkar, yakni, keberadaan PT. Flobamor tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan kinerja sejak beberapa tahun terakhir hingga sekarang. Perusahaan ini, kata Manek, ibarat ‘hidup enggan, mati tak hendak’.

“Dalam kondisi, hidup enggan, mati tak hendak, justru PT. Flobamor melahirkan beberapa anak perusahaan yang membuat banyak pihak terhenyak. Kondisi ini tentu melawan atau bertolak belakang dengan nurani dan akal  sehat,” jelasnya.

Baca juga: Frans Lebu Raya Sebut Ada Napi Teroris di Sejumlah LP dan Rutan NTT

Manek menambahkan, perusahaan ini juga dilaporkan terus mengalami kerugian. Tentu, jelas dia, hal ini berdampak buruk bagi anak perusahannya. “Anak perusahaan diurus secara sehat atau justru sebaliknya menambah beban  PT. Flobamor sendiri. Kita sesalkan kondisi ini,” ujarnya.

Manek mengatakan, dalam kondisi itu, Gubernur NTT selaku kepala wilayah belum melakukan tindakan penyelamatan yang memadai demi menyelamatkan PT. Flobamor.

Frans Lebu Raya Telah Berbuat Banyak

Terpisah, Kepala Dinas PUPR NTT Ir. Andreas W. Koreh, MT mengakui dan memuji semangat dan kerja keras Frans Lebu  Raya selama 10 tahun membangun NTT. Hal itu disampaikan Andre dalam acara Pamitan Frans Lebu Raya terhadap seluruh pegawai Dinas PU NTT yang akan mengakhiri masa jabatanya di Kantor Dinas PU NTT.

Diakui Andre, selama 10 tahun memimpin NTT, Lebu Raya sudah banyak berbuat untuk memajukan daerah. Selain Program Anggur Merah, ia juga sudah banyak berbuat di bidang infrastruktur seperti jalan, jembatan, embung, perumahan, gedung dan lain-lain. Meski banyak tantangan, ia terus bekerja total  dengan semangat tinggi dan pantang menyerah.

“Contohnya, waktu rencana pembangunan kantor gubernur baru, begitu banyak orang menentangnya. Namun ia tetap bekerja membangun kantor tersebut karena ia meyakini akan bermanfaat besar bagi warga NTT. Saat ini, banyak orang telah menikmatinya,” ungkap Andre Kore, Senin (14/5) di Kantor Dinas PUPR NTT.

Baca juga: Pesan Gubernur Frans Lebu Raya untuk Masyarakat Belu

“Selain kantor gubernur baru, ia juga berani melakukan terobosan baru dengan mulai mendesain pembangunan Jembatan Palmerah Berturbin Listrik di Larantuka, Flores Timur. Meski sedang berproses, tapi selalu optimis akan berhasil,” lanjut dia.

Menurut Andre, Lebu Raya adalah sosok pemimpin yang rendah hati dan lemah lembut. Untuk memuluskan program-program kerjanya, Lebu Raya tampil tegas, komunikatif dengan gaya khasnya yang halus. Lebu Raya, kata Andre, selalu berkonsultasi dengan para kepala dinas dengan keramahan.

“Kalau beliau tidak setuju dan bilang tidak, selalu dengan nada suara yang halus. Belìau tidak pernah berkata kasar dengan nada tinggi umtuk menunjukkan bahwa beliau sedang marah,” kata Andre.

Meskipun mendapat pengakuan dan pujian dari Andre Koreh, Lebu Raya dalam kesempatan itu di hadapan para pegawai  PUPR mengaku kerja kerasnya melalui berbagai program selama 1o tahun terakhir belum selesai karena sumber dana yang selalu terbatas. Untuk itu, Lebu Raya berharap semangat kerja keras dalam membangun NTT harus dilanjutkan di masa mendatang siapapun gubernurnya.

“Saya yakin kerja keras kita selama ini telah membawa perubahan untuk NTT, meskipun belum semuanya selesai karena keterbatasan anggaran. Kerja keras seperti ini harus terus dilakukan demi kemajuan NTT, meskipun sudah berganti gubernur,” kata Lebu Raya sembari menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh jajaran PUPR NTT.*

COMMENTS