Generasi Milenial: Antara Politik dan Perubahan Menuju Bonum Commune

Generasi Milenial: Antara Politik dan Perubahan Menuju Bonum Commune

Jika ada partai baru saat ini yang mengangkut kesuksesan di zaman orde baru, maka hal itu tidak cocok dengan gaya generasi milenial saat ini yang terbuka dan bebas. (Foto: Benny Milo - ist)

SENANDUNG, dawainusa.com “Milenial”, kata yang belakangan ini menjadi topik sering disoroti dan diperbincangkan oleh nitizen (banyak kalangan), apa dan siapa generasi milenial itu. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa generasi milenial adalah generasi Y, dikenal dengan sebutan generasi milenium.

Generasi milenial, lahir antara tahun 1981 -2000, atau yang saat ini berusia 18 tahun hingga 37 tahun. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi seperti email, SMS, instant messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter, dengan kata lain generasi Y adalah generasi yang tumbuh pada era digital (internet). Pola komunikasinya sangat terbuka dibanding generasi-generasi sebelumnya.

Saat ini, generasi milenial tidak hanya unggul dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi mulai menjadi trendsetter dalam bidang politik. Di era globalisasi, tidak bisa dipungkiri bahwa seiring berkembangnya teknologi yang berbasis digital application, para generasi milennial rentan akan dampak positif yang ditimbulkan oleh media sosial.

Baca juga: Toleransi Sebagai Kemerdekaan Individu

Generasi muda ini juga memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap iklim perpolitikan baik berskala lokal maupun berskala nasional di Indonesia dengan memanfaatkan media sosial sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai sarana komunikasi politik.
Kalau kita merujuk tingkat pemilikan akun media sosial serta berdasarkan temuan dari

Centre For Strategic and International Studies (Rilis dan Konferensi Pers “Survei Nasional CSIS, November 2017), bahwa generasi milenial mendominasi sebagai pengguna akun media sosial dan tingkat penetrasi milenial terhadap sumber informasi terdapat perbedaan mencolok akses media online antara generasi milenial dengan non-milenial.

Akun facebook misalnya dimiliki oleh 81.7% milenial dan hanya 23.4% non-milenial yang memiliki akun facebook dan sekitar 54.3% milenial mengaku setiap hari membaca media online, dan hanya 11.9% non milenial yang membaca online. Hal ini, menunjukan akan ada pengaruh dari generasi milenial dalam aspek politik melalui media sosial.  Artinya, bila informasi di media sosial semakin dapat dipercaya, akan membentuk generasi yang lebih kuat.

Kepemilikan kontak sosial yang tinggi, justru memberikan kesempatan untuk memperkenalkan pengetahuan dan pemahaman politik dan memberikan keuntungan bagi generasi milenial terhadap persoalan (isu-isu) politik sekaligus memperkenalkan demokrasitasi politik di Indonesia. Dengan adanya teknologi komunikasi canggih tersebut membuat mereka secara mudah melakukan kontak sosial, memperluas interaksi, sekaligus informasi.

Tulisan ini, saya banyak berbicara mengenai generasi Y, bagaimana kita bisa memandang generasi Y yang hadir sebagai pembeda dari generasi sebelumnya yang juga kita harapkan akan memimpin bangsa kedepannya. Menarik ketika kita mengulas tentang bagaimana jika sebuah bangsa dipimpin dari golongan generasi Y, terkhusus lagi pada hal mendasar yang perlu dipahami mengenai karakteristik mental seorang pemimpin yang mana bisa dijadikan sebagai patron guna perkembangan suatu Negara.

Generasi muda ini juga memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap iklim perpolitikan baik berskala lokal maupun berskala nasional di Indonesia dengan memanfaatkan media sosial sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai sarana komunikasi politik.

Dialektika Politik Indonesia

Estimasi data Alvara Research Center (2017) memprediksi Indonesia akan mencapai pengguna internet 140 juta, Indonesia akan menjadi pasar digital terbesar di Asia tenggara tahun 2020. Tahun 2015 pengguna internet di Indonesia mencapai 93.4 juta pengguna (47.9 % dari populasi ) yang akan terus bertambah hingga tahun 2019 diprediksi akan mencapai 133.5 juta pengguna dan tahun 2020 mencapai 140 juta pengguna.

Ini adalah pertumbuhan yang fantastis. Kita pun tentu patut mengakui, bahwa generasi milenial mendominasi sebagai pengguna akun media sosial dan tingkat penetrasi milenial terhadap sumber informasi. Perkembangan teknologi modern yang mengandalkan ponsel, internet atau apapun yang sifatnya nirkabel, membuat pergaulan mereka melintasi propinsi, negara bahkan benua. Pergaulan di internet membuat mereka mampu melakukan kontak sosial dengan rekan-rekan mereka sesama pemuda yang ada di negara lain.

Baca juga: Tidak Ada Jalan Pulang, Tolak UU MD3

Di tahun 2020 generasi milennial berada pada rentang usia 20 tahun hingga 39 tahun. Misalkan saja, yang lahirnya tahun 1982 dan atau 1996, akan berusia 38 tahun dan 24 tahun di tahun 2020. Usia tersebut adalah usia produktif yang akan menjadi tulang punggung dan tonggak perubahan kemajuan Negara di masa depan seiring dengan munculnya berbagai komunitas online atau media sosial menjadi fasilitator politik yang aktif digalakkan kaum muda generasi millennial.

Pengetahuan generasi muda kepada kegunaan pemilu dan politik dalam suatu negara melalui komunitas online atau media sosial pun tentu berkembang lebih cepat. Secara rata-rata mereka terlibat untuk mendalami apa kegunaan poliitik dan pemilu itu serta mampu melahirkan iklim politik yang lebih demokratis.

Jika ada partai baru saat ini yang mengangkut kesuksesan di zaman orde baru, maka hal itu tidak cocok dengan gaya generasi milenial saat ini yang terbuka dan bebas.

Tentang politik, justru yang dimengerti adalah sebuah persaingan. Artinya mereka menangkap lebih banyak persepsi persaingan diantara para anggota legislatif, untuk mendapatkan kekuasan di parlemen. Ataupun para eksekutif untuk mendapatkan kursi jabatan. Kalau kita mau cari pemaknaannya, politik itu mempunyai pengertian yang luas. Politik juga merupakan upaya untuk memperoleh dan atau mempertahankan kekuasaan.

Hal inilah yang kemudian membuat adanya rasa penasaran bagi generasi milenilal melakukan terobosan baru. misalkan saja adalah Partai milenial peserta baru di pemilu 2019. Dari 14 partai peserta pemilu 2019, ada emapat partai baru untuk berebut suara dalam kontestasi pemilu 2019 mendatang.

Salah satunya adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yaitu partai yang menyasar kalangan muda milenial yang menjadi kelompok politik generasi milenium dengan berupaya membentuk partai anak muda sebagai parai poltik muda untuk ikut dalam pemilihan umum, baik itu pemilihan umum legislatif (DPR, DPRD, DPD maupun eksekutif (Presiden, Gubernur, Bupati).

Ada pandangan yang mengatakan bahwa generasi saat ini juga sudah berbeda dengan generasi sebelumnya. Apalagi pemilih mendatang merupakan generasi tahun 1981-2000 yang isunya sudah pasti meninggalkan isu-isu lama, termasuk tak lagi melirik lagi isu orde baru.

Orde baru yang terbaca sejauh ini adalah soal perampasan Hak Asasi Manusia (HAM) dan sistem politik yang ketat. Jika ada partai baru saat ini yang mengangkut kesuksesan di zaman orde baru, maka hal itu tidak cocok dengan gaya generasi milenial saat ini yang terbuka dan bebas. Partai akan kesulitan maju kalau yang diusung masa lalu ditengah tren seperti ini.

Jika dikorelasikan dengan kekuatan politik, pandangan terhadap politik dalam pemilu, mereka beranggapan bahwa orang yang masih menyukai orde lama sebetulnya karena masih suka bersentuhan secara baik dengan orde baru atau pernah merasa hidup senang saat itu. Dengan adanya antusias seperti ini, maka lebih mudah memastikan harapan paling besar bagi generasi milenium (generasi milenial) untuk ikut berkiprah di dunia politik praktis dalam pemilu sesuai dengan hati nurani.

Perubahan Menuju “Bonum Comune”

“Setiap zaman ada generasinya dan setiap generasi ada zamannya. Begitu pula setiap masa ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada masanya”. Saya pikir, pepatah ini tepat bagi generasi milenum (kaum milenal) saat ini. Generasi muda saat ini pun lahir dengan warna yang baru. Artinya, setiap generasi punya warna masing-masing, mereka bertumbuh dengan semangat optimismenya masing-masing.

Generasi ini sangat tegas terbentuk melalui perubahan zaman dan kemajuan teknologi. Perkembangan tekhnologi pun menjadi jejak lahirnya generasi-generasi baru dalam tatanan peradaban umat manusia sejalan dengan perkembangan zaman. Perkembangan zaman pun tentu akan membawa generasi muda menjadi seorang yang visioner, sehingga menuntut untuk punya pengetahuan yang lebih luas dan daya analisa yang baik dalam menghadapi persaingan, khususnya dalam bidang politik.

Baca juga: Revisi UU MD3: Wakil Rakyat Lupa Diri

Persaingan inilah yang melahirkan orang-orang yang kompetitif,dalam hal ini adalah generasi Y. Dapat saya katakan bahwa generasi Y selalu menjadi generasi yang paling enerjik dalam gelombang zaman untuk melukiskan perubahan. Antusias dan semangat inilah yang coba dibangun sekarang dari generasi Y untuk menatap dan menata masa depan bangsa dan negara.

Memprediksi dan membaca arah Indonesia masa depan sangatlah menarik dalam menatap dan menata arah masa depan bangsa. Momentum Indonesia dalam jangka panjang sangat ditentukan pada kondisi tahun 2020.

Sebab kedepannya, praktek politik yang dibangun generasi milenial menjadi sarana bagi perwujudan kedaulatan rakyat sekaligus sebagai sarana artikulasi kepentingan warga negara untuk menentukan atau menjadikan wakil-wakil rakyat.

Bukan saja karena pemilu presiden dan pemilu legislatif akan dilakukan tahun 2019, tapi tahun 2020 akan menjadi tonggak berbagai perubahan signifikan yang ada di Indonesia, karena penentu keberhasilan suatu bangsa ke depan akan ditentukan oleh seberapa besar (kuantitas dan kualitas) pemuda dan kontribusi pemuda dalam pembangunan.

Target bukan tanpa alasan. Sebab kedepannya, praktek politik yang dibangun generasi milenial menjadi sarana bagi perwujudan kedaulatan rakyat sekaligus sebagai sarana artikulasi kepentingan warga negara untuk menentukan atau menjadikan wakil-wakil rakyat. Salah satu wujud keterlibatan generasi milenial dalam proses politik adalah dengan prosesi Pemilihan Umum (Pemilu).

Pemilu menjadi arena atas berdirinya suatu pemerintahan yang elemen di dalamnya dibangun oleh masyarakat (termasuk generasi milenial). Jadi menyiapkan generasi milenial adalah hal penting sebagai target untuk melahirkan kader muda milenium, karena pemuda yang identik dengan kaum muda milenial juga merupakan generasi bangsa, yang akan menentukan perubahan-perubahan di masa yang akan datang. *

Oleh: Benediktus Milo* (Penulis adalah orang pinggiran. Tinggal di Aimere-Ngada-NTT)

COMMENTS