Frans Lebu Raya Sebut Ada Napi Teroris di Sejumlah LP dan Rutan NTT

Frans Lebu Raya Sebut Ada Napi Teroris di Sejumlah LP dan Rutan NTT

Adapun terkait keberadaan napi teroris itu, Gubernur Frans mengatakan, mereka merupakan titipan dari daerah lain dari luar NTT (Foto: Frans Lebu Raya - NTTNews).

KUPANG, dawainusa.com – Gubernur NTT Frans Lebu Raya (FLR) mengatakan, ada napi teroris di sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (LP) dan Rumah Tahanan (Rutan) yang ada di NTT. Karena itu, ia meminta petugas di Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan yang terdapat narapidana teroris (Napiter) agar ekstra ketat dalam mengawasi setiap pengunjung.

“Saya minta pak kepala BIN, Polri untuk pantau dan awasi, jangan sampai ada kunjungan yang mencurigakan. Kalau ada pengunjung, maka perlu dicek dan catat identitas pengunjung. Siapa orangnya dan tujuan apa. Kita tidak ingin daerah ini menjadi terganggu,” kata Lebu Raya di Kupang, Senin (13/5).

Baca juga: Pernyataan Gubernur NTT Soal Aksi Teror di Mako Brimob dan Surabaya

Adapun terkait keberadaan napi teroris itu, Gubernur Frans mengatakan, mereka merupakan titipan dari daerah lain dari luar NTT. Karena itu, dirinya sekali lagi meminta kepada seluruh LP dan Rutan yang mendapat titipan napiter agar lebih ekstra ketat dalam mengawasi setiap pengunjung napiter tersebut.

“Kita di NTT ada beberapa LP dan Rutan yang mendapat titipan napiter dari luar daerah. Karena itu, saya minta harus diawasi ketat setiap pengunjung napiter itu,” kata Lebu Raya.

Dikatakan oleh Lebu Raya untuk napiter yang ada di NTT, antara lain berada di LP Kupang, Rutan Sumba Timur, Sumba Barat dan Atambua.

Frans Lebu Raya: Masyarakat Jangan Terprovokasi

Sebelumnya, Frans Lebu Raya mengutuk keras aksi teror yang terjadi akhir-akhir ini terutama yang terjadi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Jakarta Timur, dan di tiga Gereja di Surabaya, Jawa Timur. Meski begitu, ia meminta seluruh masyarakat NTT untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh insiden tersebut.

“Seluruh elemen masyarakat NTT agar tidak terprovokasi situasi ini, masyarakat agar tetap menahan diri dan menjaga perdamaian di NTT,” kata Gubernur Frans.

Selain itu, untuk mencegah peristiwa serupa terjadi lagi,  Gubernur dua periode itu bersama Forkopimda NTT juga meminta aparat untuk mengusut tuntas dan menindak tegas setiap orang yang terindikasi berafiliasi dengan jaringan terorisme.

“Karena itu kami minta aparat keamanan agar segera mengusut peristiwa tersebut setuntas-tuntasnya dan menindak tegas pelaku yang terlibat sesuai aturan yang berlaku,” katanya.

Baca juga: Densus 88 dan Polda Sumsel Kembali Tangkap Dua Terduga Teroris

Selain itu, pihaknya mendesak DPR RI agar segera menyelesaikan dan mengesahkan Undang-Undang Anti Terorisme, dan atau Presiden menerbitkan Perpu Anti-Terorisme sambil menunggu proses pengesahan Undang-Undang Anti Terorisme.

Terpisah, kata Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Jules Abraham Abast langsung memerintahkan seluruh jajaran Polres dan Polresta untuk meningkatkan pengawasan terhadap gereja-gereja yang ada setelah serangan teroris terhadap tiga gereja di Surabaya pada Minggu pagi.

Selain memperketat pengawasan di gereja-gereja, jelas Abraham, personel kepolisian juga perlu meningkatkan patroli di wilayah hukum Polda NTT secara berkala baik di gereja atau pun di tempat keramaian lainnya. Terkait keamanan di wilayah NTT pasca bom di Surabaya, Abraham mengatakan situasi Kamtibmas untuk wilayah NTT terpantau masih kondusif.

“Kegiatan ibadah di gereja-gereja, baik di seputaran Kota Kupang maupun kota lainnya di NTT masih terpantau aman dan tertib, dan umat dengan tenang menjalankan ibadat,” katanya.

Aksi Teror Tidak Berkaitan dengan Agama

Semenatar itu, terkait aksi teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Gubernur Frans mengatakan peristiwa tersebut sama sekali tidak brkaitan dengan agama, meskipun menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan tertentu.

“Peristiwa ini murni adalah aksi terorisme karena semua agama pada prinsipnya mengajarkan tentang kebaikan,” katanya.

Baca juga: Usul Terbitkan Perppu, Ketua Pansus RUU Terorisme Minta Tito Mundur

Karenanya, Ia mengimbau seluruh elemen masyarakat setempat agar tidak membawa-bawa agama dalam memandang persoalan tersebut sehingga persatuan dan perdamaian antarumat di daerah itu tetap terjaga secara baik.

Gubernur juga meminta peran media massa, cetak dan elektronik agar menyajikan pemberitaan terkait peristiwa tersebut secara proporsional dan tidak provokatif, serta tidak menyebarkan informasi berupa foto dan video korban kepada pihak lain.

“Para pemimpin agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta semua elemen masyarakat NTT agar tidak menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian, tapi mari kita bersama-sama menjaga suasana agar tetap aman dan damai,” katanya.*

COMMENTS