Pengamat Politik: Flores Jadi Penentu Utama Pilgub NTT

Pengamat Politik: Flores Jadi Penentu Utama Pilgub NTT

Ahmad Atang mengatakan, secara faktual wilayah pemilihan Flores jadi penentu utama kemenangan pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT 2018. (Foto: Ahmad Atang - Ist).

KUPANG, dawainusa.com Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Ahmad Atang mengatakan, Flores jadi penentu utama kemenangan Pilgub Nusa Tenggara Timur (NTT) 2018.

Hal itu disampaikannya saat menilai wilayah pemilihan yang diperkirakan dapat memberikan peluang kemenangan bagi empat pasangan calon (paslon) berdasarkan aspek geopolitik dan ideologis.

“Yang akan menentukan kemenangan pada Pilgub 27 Juni 2018 adalah di Flores. Pemilih Flores, Lembata dan Alor kurang lebih 1,5 juta orang,” ujar Ahmad Atang di Kupang, Selasa (20/2), seperti dilansir Antara.

Ia menjelaskan, pasca penetapan paslon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTT, empat paslon yang maju dalam kontestasi pilkada telah mewakili politik representatif berdasarkan geopolitik dan ideologis.

Karena itu, kata dia, basis dukungan politik terhadap paslon cenderung terpola berdasarkan sentimen ideologis dan kultural.

Baca juga: Pilgub NTT: Sebelumnya Mendominasi, Kini PDIP Hadapi Tantangan

Ia menilai, dengan adanya kasus yang menimpa Marianus Sae, sedikit banyak telah mengubah peta dukungan politik yang berbasis geopolitik, sehingga Flores jadi penentu kemenangan yang awalnya adalah Sumba.

“Kalau Marianus Sae tidak terjerat kasus hukum maka yang menentukan kemenangan dalam Pilgub NTT adalah para pemilih di wilayah Pulau Sumba, tetapi sekarang bukan lagi Sumba sebagai penentu. Yang menentukan kemenangan di Pilgub 27 Juni nanti adalah di Flores,” ungkap Ahmad Atang.

Dalam konteks ini, jelasnya, basis dukungan Flores cenderung kuat pada paslon Harmoni. Paslon ini diuntungkan dan memiliki peluang menang lebih besar terlebih setelah adanya kasus tersebut.

Meski demikian, sebuah ancaman bagi paslon Harmoni jika pendukung Marianus Sae mengambil sikap Golput. “Karena itu memperebutkan pemilih Flores menjadi penting dan strategis jika tidak ingin kalah,” pungkasnya.

Pemilih Flores Jadi Penentu

KPU NTT telah menetapkan empat paslon Gubernur-Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023 untuk bertarung dalam ajang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Juni 2018 mendatang.

Empat paslon tersebut, yakni pasangan Esthon L Foenay-Christian Rotok (Esthon-Chris) yang diusung Partai Gerindera dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Pasangan calon Marianus Sae -Emilia Nomleni (MS-EMI) yang diusung PDI Perjuangan dan PKB, pasangan calon Beny K Harman-Benny Litelnoni (Harmoni) yang diusung Demokrat, PKS dan PKPI, serta pasangan calon Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef Nae Soi (Vicktory-Joss) yang diusung Partai NasDem, Golkar dan Partai Hanura.

Baca juga: Pilgub NTT, Jalur Independen Sepi

Menurut Ahmad Atang, untuk menang di Pilgub 2018, pasangan calon paling tidak mendapatkan dukungan lebih dari 700 ribu.

“Namun, jika tingkat partisipasi masyarakat di bawa 80 persen maka dengan dukungan di atas 600 ribu bisa menang,” ujar Atang.

Ia mengatakan, pemilih yang tersebar di Pulau Flores, Lembata dan Alor kurang lebih 1,5 juta orang, sementara pemilih Timor, Sabu dan Rote sekitar 1,3 juta orang lebih, dan pemilih Sumba sekitar 530.000 lebih.

Apabila dilihat dari latar belakang agama, lanjut Atang, pemilih Katolik sekitar 1,8 juta, pemilih Protestan sekitar 1,2 juta, dan pemilih Islam sekitar 370 ribu lebih, dan sisanya dari Hindu dan Budha.

Ia pun menilai, meskipun saat ini Marianus Sae secara formal ikut ditetapkan sebagai salah satu kontestan, namun secara faktual, menurutnya, pendukung Marianus Sae cenderung melemah di beberapa tempat dan segmen.

Setelah Bupati Ngada itu terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pemilih yang tersebar di pulau Flores jadi penentu kemenangan.

Nomor Urut Paslon dan Zona Kampanye

Pada Selasa (13/2), KPU NTT telah menggelar rapat pleno terbuka pengundian nomor urut paslon peserta pemilihan gubernur dan wakil gubenur NTT tahun 2018.

Berdasarkan undian, pasangan Esthon-Chris nomor urut 1, Marianus Sae-Emi Nomleni nomor urut 2, BKH-Benny Litelnony Nomor Urut 3, dan Victory Joss nomor urut 4.

Pada rapat pleno pengundian nomor urut ini, cagub-cawagub yang hadir adalah Esthon L Foenay-Christian Rotok, Benny K Harman-Benny A Litelnoni, Viktor Bungtilu Laiskodat-Joseph Nae Soi, dan Emmilia Nomleni. Sementara, Marianus Sae, tidak bisa hadir karena masih ditahan KPK.

Sementara, terkait jadwal kampanye, KPU telah menetapkan empat zona kampanye Pilgub NTT dengan satu zona meliputi enam kabupaten untuk empat kali simulasi di zona-zona tersebut.

“Untuk satu zona diberikan interval waktu delapan hari bagi pasangan calon untuk bisa berinteraksi dengan masyarakat pada zona tersebut,” ujar juru bicara KPU NTT Yosafat Koli, Senin (12/2).

Baca juga: Ini Nomor Urut Paslon Gubernur-Wakil Gubernur NTT

Empat zona itu masing-masing, zona satu daratan Timor meliputi Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu dan Malaka. Zona dua meliputi Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, Sabu dan Rote.

Zona tiga meliputi Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada dan Nagekeo. Sedangkan, zona empat meliputi Kabupaten Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata dan Alor.

Yosafat berharap seluruh tim kampanye menyesuaikan dengan waktu dan zona yang sudah ditetapkan KPU, sehingga tidak ada lagi tim kampanye lain yang melakukan kampanye di zona dan waktu milik pasangan calon lain.

“Kami sudah menetapkan zona dan waktu kampanye pasangan calon. Bagaimana memobilisasi tim kampanye dari daerah yang satu ke daerah lain sehingga kami memberikan ruang kepada tim kampanye untuk membentuk tim sampai ke kecamatan,” pungkasnya.*