Fakta Di Balik Prosesi Jalan Salib yang Perlu Anda Ketahui

Fakta Di Balik Prosesi Jalan Salib yang Perlu Anda Ketahui

Salah satu tradisi dalam Gereja Katolik Roma khususnya dan kaum Kristiani pada umumnya ialah prosesi Jalan Salib yang biasanya dijalankan setiap hari Jumat selama masa praspaskah. (Foto: Prosesi Jalan Salib - The Passion of the Christ).

LIFESTYLE, dawainusa.com Prosesi jalan salib merupakan salah satu tradisi dalam Gereja Katolik Roma khususnya dan kaum Kristiani pada umumnya. Prosesi ini biasanya dijalankan setiap hari Jumat selama masa praspaskah dan berpuncak pada hari Jumat Agung (hari wafat Yesus Kristus atau Isa Almasih).

Namun, ada pula di tempat-tempat atau biara-biara tertentu, prosesi jalan salib atau juga yang disebut via dolorosa dilaksanakan setiap hari Jumat sepanjang tahun. Salah satu biara atau komunitas religius yang punya devosi kuat pada misteri jalan salib adalah Ordo Saudara Dina atau Ordo Fratrum Minorum (OFM).

Baca juga: Di Larantuka, Pemprov NTT Siapkan Kapal untuk Peziarah Jumat Agung

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut dawainusa.com paparkan fakta-fakta yang perlu Anda ketahui tentang jalan salib atau via dolorosa.

Dimulai oleh Santo Fransiskus Asissi

Prosesi jalan salib yang berkembang dengan berbagai bentuknya saat ini, secara amat pesat dimulai oleh Santo Fransiskus Asissi (1181/1182-1224).

Adapun tokoh tersebut adalah seorang mistikus dan tokoh spiritual Kristen abad pertengahan yang lahir dan hidup kota Asissi-Italia. Majalah Times tahun 1994 menyebutnya sebagai salah seorang tokoh yang berpengaruh dalam bidang religi selama milenium kedua.

Ia melakukan jalan salib sebagai salah satu bentuk doa. Fransiskus Asissi yang dijuluki si miskin  (Il Poverello) berdevosi kuat terhadap misteri sengsara atau salib Yesus Kristus. Bahkan, karena kekudusannya, pada akhir hidupnya, ia mendapat stigmata (lima luka Yesus, yakni di kedua tangan, kedua kaki, dan lambung).

Tradisi yang dimulai si Miskin dari Asissi ini kemudian disebarluaskan oleh pengikut sang santo itu, yang dikenal dengan sebutan ‘Fransiskan’ pada abad ke-14. Bahkan untuk sampai di Indonesia, juga disebarluaskan oleh para ‘Fransiskan’ yang awalnya berasal dari Belanda.

Baca juga: 7 Fakta Tentang Paskah yang Wajib Anda Ketahui Menurut Alkitab

Jalan Salib Hanya Devosi, Bukan Liturgi

Sejak awal berkembang, prosesi jalan salib berjalan begitu semarak. Namun, yang perlu diketahui adalah jalan salib merupakan devosi  dan bukan merupakan perayaan liturgis.

Mengapa perlu membedakan devosi bukanlah liturgi? Devosi adalah suatu sikap bakti yang berupa penyerahan seluruh pribadi kepada Allah dan kehendak-Nya sebagai perwujudan cinta kasih.

Atau yang lebih lazim, devosi adalah kebaktian khusus kepada berbagai misteri iman yang dikaitkan dengan pribadi tertentu: devosi kepada sengsara Yesus, devosi kepada Hati Yesus, devosi kepada Sakramen Mahakudus, devosi kepada Maria, dan lain-lain.

Semua devosi harus diatur sedemikian rupa sehingga selaras dengan liturgi kudus: sesuai dengan rasa liturgi, bersumber pada liturgi, dan mengantar umat kepada liturgi, sebab menurut hakekatnya liturgi jauh mengungguli semua bentuk devosi.

Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium (SC) menyatakan liturgi sebagai puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja, dan serta-merta sumber segala daya kekuatannya (10).

Meski demikian, Gereja juga tetap mengakui bentuk doa seperti devosi. Karena itu, dikatakan bahwa hidup rohani tidak tercakup seluruhnya dengan hanya ikut-serta dalam liturgi (SC 12). Untuk menyuburkan hidup rohani umat juga terdapat devosi, khususnya devosi yang sudah dianjurkan oleh Takhta Apostolik.

Pendeknya praktek devosi itu didukung sungguh oleh Gereja asalkan selaras dengan iman resmi Katolik. Sehingga, ada baiknya kita melihat beberapa persamaan dan perbedaan antara kedua bentuk doa ini.

Baca juga: Saling Meminjamkan Lahan Parkir, Toleransi ala Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal

Hanya 8 Perhentian dalam Alkitab

Dokumen Konsili Vatikan II yang berbicara tentang Iman dan Wahyu dalam perspektif Katolik Roma, yakni Dei Verbum (DV) menyebut salah satu sumber iman adalah Kitab Suci. Di samping itu, ada tradisi dan magisterium , yang kemudian ditambah oleh Paus Fransiskus, yakni kesalehan rakyat.

Terkait prosesi jalan salib, dari 14 Perhentian atau stasi Jalan Salib, hanya delapan yang tertulis dengan jelas di Alkitab. Adapun kedelapan perhentian atau stasi itu, yakni:

1. Yesus dihukum mati (perhentian/stasi Pertama)

2. Yesus memikul salib-Nya (perhentian/stasi kedua)

3. Simon dari Kirene membantu Yesus memikul salib itu (perhentian/stasi kelima

4. Yesus menghibur wanita-wanita yang menangis (perhentian/stasi kedelapan)

5. Pakaian Yesus ditanggalkan (perhentian/stasi kesepuluh)

6. Yesus dipaku di Kayu Salib (perhentian/stasi kesebelas)

7. Yesus wafat di kayu salib (perhentian/stasi keduabelas)

8. Yesus dimakamkan (perhentian/stasi keempatbelas).

Sementara itu, perhentian-perhentian lainnya dipandang sebagai tambahan. Namun, meski tambahan dan tidak secara ekplisit dikatakan dalam kitab suci, perhentian/stasi itu hidup dan berkembang dalam sejarah tradisi jalan salib.*

COMMENTS