Fadli Zon Klaim Sri Mulyani Pasti Kalah Berdebat Soal Utang

Fadli Zon Klaim Sri Mulyani Pasti Kalah Berdebat Soal Utang

adli juga mengatakan, walaupun Sri Mulyani pernah mendapatkan prestasi sebagai menteri terbaik di dunia, ia sama sekali tidak akan takut menghadapinya. (Foto: Fadli Zon - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fadli Zon mengatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pasti kalah apabila berdebat secara terbuka mengenai utang luar negeri dengan mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli.  Ia juga mengaku pasti berani apabila Sri Mulyani menawarkan diri untuk berdebat dengan dirinya soal masalah ekonomi.

“Sudah pasti kalah lah Sri Mulyani. Udah kalah. Saya juga berani melawan Sri Mulyani berdebat dalam beberapa hal,” ungkap Fadli Zon di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (30/4).

Fadli mengatakan, ia sama sekali tidak akan gentar apabila ditawarkan untuk berdebat dengan mantan Direktur Keuangan IMF itu. Apalagi, jelas Fadli, ia juga pernah belajar tentang perekonomian ketika menjalankan studi di London Scool of Economics.

Baca juga: Sandiaga Curiga Video Intimidasi dari Massa #2019GantiPresiden Hoaks

“Saya juga pernah belajar ekonomi di LSE (London School of Economics). Saya kira (Sri) kalah dengan mudah itu, akan dikalahkan,” tutur Fadli Zon.

Selain itu, Fadli juga mengatakan, walaupun Sri Mulyani pernah mendapatkan prestasi sebagai menteri terbaik di dunia, ia sama sekali tidak akan takut menghadapinya.

“Menteri terbaik versi siapa. Versi rakyat itu ekonomi makin memburuk. Mungkin bagi orang asing terbaik karena dia memberi regulasi-regulasi keleluasaan untuk menguasai Indonesia,” ungkap Fadli Zon.

Siap Debat Terbuka

Adapun sebelumnya, mantan Rizal Ramli pernah menantang Sri Mulyani untuk berdebat secara terbuka mengenai utang luar negeri. Ia mengaku bersedia dan siap untuk menghadapi Sri Mulyani dalam debat tersebut.

“Ini asyik, saya siap dan tolong diatur debat terbuka RR versus SMI. Atur debatnya di CNN Indonesia TV, secara live,” ujar Rizal Ramli seperti diberitakan CNN, Kamis (26/4).

Baca juga: Lima Tahun Jadi Guru Honorer, Herlin Sanu Masih Bergaji Rp150 Ribu

Untuk diketahui, sejauh ini persoalan utang luar negeri telah menjadi amunisi bagi pihak oposisi untuk mengkritik kinerja pemerintah. Presiden Jokowi sendiri mengaku tidak keberatan dengan berbagai kritikan tersebut asalkan hal itu dilakukan dengan berdasarkan data yang jelas dan objektif.

Selain itu, Presiden Jokowi juga mempersilahkan siapa saja yang hendak melakukan debat secara terbuka dengan Sri Mulyani terkait masalah utang ini.

“Soal utang, saat kita dilantik [sebagai Presiden pada Oktober 2014], utang itu sudah Rp2 ribu triliun, bunganya kurang lebih 250-an triliun. Dihitung saja angkanya” tutur Jokowi dalam Mata Najwa ‘Eksklusif: Kartu Politik Jokowi yang ditayangkan di Trans 7, Rabu (25/4) malam.

Terkait masalah utang ini, demikian Jokowi, satu hal yang pasti ialah pemerintah akan menyimpan dana dari utang luar negeri itu pada bidang-bidang yang produktif dan memberikan keuntungan bagi negara. “Jangan itu pinjaman itu dipakai untuk hal-hal yang konsumtif seperti subsidi BBM. Itu yang tidak baik,” jelas Jokowi.

Isu Utang Sengaja Dilebih-lebihkan

Sementara itu, terkait masalah utang ini, Menteri Sri Mulyani sendiri mengatakan, persoalan ini sebenarnya sengaja dilebih-lebihkan. Ada pihak tertentu, jelasnya, sengaja memproduksi hal ini secara tidak objektif dalam rangka menjatuhkan Jokowi.

“Dia (penyebar isu utang luar negeri Indonesia) tahu betul, rakyat ga tahu tentang itu. Dia sengaja. Dia tahu betul tentang APBN. Tapi dia hanya melihat utangnya saja. Tujuannya supaya Presiden Jokowi hanya dilihat jeleknya saja,” kata Sri Mulyani.

Baca juga: Pilpres 2019, KSPI Putuskan Dukung Prabowo dan Rizal Ramli

Sri Mulyani mengatakan, dengan ada utang luar negeri, pihak-pihak tersebut menghasut massa dan membangun persepsi mereka bahwa Indonesia akan segera hancur. Padahal, jelas Sri Mulyani, pemerintah sendiri mengatur utang ini secara hati-hati dan selalu mengikuti perintah undang-undang.

“Mengelola keuangan negara itu harus hati-hati. Prinsipnya dianggap baik dah hati-hati. Tidak ugal-ugalan atau ngawur. Kesehatan keuangan negara harus dengan prinsip sesuai undang-undang, untuk menyejahterakan rakyat,” jelas Sri Mulyani.

“APBN itu instrumen. Utang itu instrumen bukan tujuan. Dibilang utang meningkat mendekati Rp 4.000 triliun, Indonesia akan runtuh. Padahal kalau membandingkan nominal (utang) belum ada apa-apanya dibanding Jepang dan Amerika. Itu negara yang punya utang besar,” lanjutnya.

Sri Mulyani menerangkan, Indonesia tidak akan menjadi negara dengan utang besar apalagi sampai mengalami kehancuran. Sebab, jelasnya, pemerintah selalu mengelolah utang tersebut untuk kepentingan pembangunan bangsa dan negara, yakni demi kesejahteraan rakyat Indonesia sendiri.

Untuk melihat persoalan utang ini, demikian Sri Mulyani, hal itu harus dilakukan secara menyeluruh, yakni dengan memperhatikan APBN secara keseluruhan. Setia orang yang hendak mengkritisi masalah ini harus melihatnya dalam konteks perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

“Sesuai UU (utang) tidak boleh lebih dari 60 persen dari produk domestik bruto (PDB). Saat ini (utang Indonesia) ga lebih dari 30 persen. Ada yang mau memprovokasi. Bikin hoax atau menghasut. Dia hanya lihat satu sisi (jumlah utang Indonesia). Gak lihat keseluruhan ekonomi. Gak lihat secara keseluruhan APBN nya seperti apa,” jelas Sri Mulyani.*

COMMENTS