Facebook Berkutat dalam ‘Persaingan Senjata’ dengan Rusia

Facebook Berkutat dalam ‘Persaingan Senjata’ dengan Rusia

Pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan, perusahaannya tengah melakoni pertempuran dengan sejumlah operator Rusia yang ingin memanfaatkan jejaring sosial itu. (Foto: Mark Zuckerberg - NBC News)

NEW YORK, dawainusa.com Skandal pembocoran data Facebook ke perusahaan Cambridge Analytica telah meningkatkan kecemasan sejumlah negara terkait cara Facebook mengelola data pengguna yang merupakan warga negara mereka. Indonesia pun terseret dalam sekandal ini.

Menurut data yang dibagikan Newsroom Facebook, terdapat 1.096.666 data pengguna Facebook di Indonesia, dicuri Cambridge Analytica dan menenempatkan Indonesia berada di urutan ketiga negara yang datanya paling banyak dicuri.

Dalam kesempatan sesi tanya jawab bersama senator Amerika Serikat, Rabu (11/4), pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan, perusahaannya tengah melakoni pertempuran dengan sejumlah operator Rusia yang ingin memanfaatkan jejaring sosial itu.

Baca juga: Hasil Voting, 128 Negara Termasuk Indonesia Mendukung Resolusi PBB

Menjawab pertanyaan para senator AS soal skandal pembocoran tersebut, Zuckerberg mengungkap bahwa Robert Muelle, seorang penyelidik khusus yang menginvestigasi dugaan campur tangan Rusia pada pemilihan presiden 2016, telah menginterogasi staf Facebook.

“Pekerjaan saya dengan penyelidik khusus tergolong rahasia dan saya ingin memastikan bahwa dalam sesi terbuka ini saya tidak mengungkap sesuatu yang bersifat rahasia,” katanya.

Pada Februari lalu, pihak Mueller mendakwa 13 warga Rusia atas tuduhan mencampuri pemilihan 2016. Tiga perusahaan Rusia turut dalam dakwaan tersebut. Salah satu perusahaan adalah Internet Research Agency yang kerap dijuluki ‘peternakan troll Rusia’ dan disebut mempunyai tujuan strategis dalam menciptakan kekacauan di sistem politik AS.

“Ada sejumlah orang di Rusia yang pekerjaannya mencoba mengeksploitasi sistem kami dan sistem internet lainnya. Kami perlu berinvestasi agar bisa juga lebih baik dalam hal ini,” papar Zuckerberg.

Pria berusia 33 tahun itu menepis beragam pertanyaan mengenai kemungkinan Facebook akan diatur secara ketat. Ketika didesak, dia mengaku akan menyambut aturan jika aturannya tepat.

 Skandal Cambridge Analytica?

Cambridge Analytica merupakan konsultan politik yang dipakai Donald Trump dalam kampanye Pilpres AS pada 2016 lalu. Sekitar 87 juta data pengguna Facebook dibobol oleh firma riset ini.

Skandal Cambridge Analytica terkuak berkat investigasi reporter media Inggris, Channel 4 News yang bertemu dengan sejumlah eksekutifnya dengan berpura-pura sebagai klien potensial dari Sri Lanka.

Baca juga: Alberto Fujimori, Bebasnya Sang Otoriter dan Kemurkaan Warga Peru

Berkedok perwakilan dari sebuah keluarga tajir di Sri Lanka, wartawan yang menyamar mengaku ingin mengubah hasil pemilu di negara Asia Selatan itu. Dalam rekaman kamera tersembunyi, CEO Cambridge Analytica Alexander Nix terekam membeberkan cara kerja perusahaannya.

Meski awalnya membantah bahwa Cambridge Analytica menggunakan teknik ‘jebakan’ untuk lawan, Nix dalam rekaman kemudian justru membeberkan trik-trik ‘kotor’ yang lazim mereka gunakan.

Media New York Times dan The Observer of London melaporkan, Cambridge Analytica diduga mengeksploitasi informasi dari 50 juta pengguna Facebook dan menggunakannya untuk mengembangkan teknik yang bisa digunakan untuk mendukung kampanye Donald Trump dalam Pilpres 2016. Tujuannya, untuk mempengaruhi para pemilih.

Perusahaan yang terafisilasi dengan Strategic Communication Laboratories (SCL) itu punya kantor di London, New York, Washington DC, juga di Brasil dan Malaysia. Sementara, miliarder pengelola investasi global (hedge fund) sekaligus pendukung Donald Trump, Robert Mercer adalah pemiliknya.

Cambridge Analytica memiliki keterkaitan dengan dengan mantan kepala penasihat Trump Steve Bannon dan manajer kampanye Trump 2020, Brad Parscale.

Dituduh Membeli Data

Dalam sebuah investigasi, Cambridge Analytica dituduh membeli data-data yang dikumpulkan seorang akademisi, Aleksandr Kogan, melalui kuis kepribadian yang dimainkan pengguna Facebook.

Baik Cambridge Analytica maupun Facebook menyalahkan Kogan. Menurut Facebook, walau pengguna memberi ijin kepada kuis kepribadian ciptaan Kogan untuk mengoleksi informasi mereka, menjual data-data itu melanggar aturan.

Baca juga: Ketegangan di Timur Tengah dan Akhir Perjanjian Oslo

Adapun Cambridge Analytica mengklaim tidak mengetahui informasi yang mereka peroleh didapatkan secara tidak layak. Kedua perusahaan juga mengatakan mereka memilih menghapus data-data tersebut setelah mengetahui masalah tersebut pada 2015.

Facebook mengungkap bahwa data yang mereka peroleh termasuk pesan-pesan pribadi antar pengguna dari sebanyak 1.500 pengguna Facebook.

Di tangan Cambridge Analytica, data komputer para pengguna Facebook diolah sedemikian rupa dan disinyalir digunakan untuk mengubah pandangan para pemilih dalam pilpres Amerika Serikat dan Brexit dengan mengirimkan berita-berita bohong atau yang telah di pelintir sedemikian rupa.*

COMMENTS