Menguak ‘Evil 8’, Kasus Kekerasan Seksual Terburuk di Australia Barat

Menguak ‘Evil 8’, Kasus Kekerasan Seksual Terburuk di Australia Barat

Seorang ayah di Australia Barat memperkosa putrinya sendiri selama 2 tahun dan menjadi agen untuk ketujuh pria hidung belang melalui internet. (Foto Ilustrasi: Kekerasan Seksual/dreams.com)

AUSTRALIA, dawainusa.com Peristiwa tragis dialami seorang remaja putri di Australia Barat, sebut saja namanya Putri. Putri yang pada bulan ini akan genap berusia 16 tahun pernah mengalami pengalaman yang mustahil ia bisa lupakan seumur hidupnya. Titisan hawa itu diperkosa dan dijual secara online oleh ayahnya sendiri kepada beberapa pria hidung belang ketika masih berumur 11-13 tahun.

Peristiwa yang nyaris sulit dipercaya ini mulai mencuat ke publik untuk pertama kalinya pada konferensi pers satuan Child Abuse Squad pada Juli 2015 lalu. Seorang warga yang dirahasiakan namanya melaporkan kejadian tersebut ke Polisi dan membuka tabir kengerian dari kasus yang terkenal dengan sebutan Evil 8.

(Baca juga: Pak Jokowi, Setya Novanto Layak Diberi Gelar Pahlawan)

“Tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan secara utuh untuk peristiwa jahanam ini,” ungkap Glenn Feeny, seorang inspektur di Australia Barat, dilansir ABC News, Rabu (8/11).

Feeny juga mengkonfirmasi bahwa ada ratusan video dan gambar yang tidak senonoh tentang  Putri yang disita aparat.

‘Evil 8’ dan Sang Ayah Jahanam

Sang ayah yang dari darah dagingnya si Putri ini ada bertindak bagai singa lapar yang berbulan-bulan belum mendapat mangsa. Pada sang buah hati itu, ia melampiskan nafsu liarnya. Dia ayah (salah satu) terkutuk yang pernah ada di muka bumi. Kejam dan terlalu sadis.

Tidak berhenti hanya sebagai pelaku, laki-laki itu kemudian menjadi agen untuk pria hidung belang dari pinggiran kota itu. Para pria hidung belang yang kemudian diketahui memiliki istri dan anak turut mengeksploitasi tubuh suci perempuan itu.

Kurang lebih ada tujuh pria hidung belang itu yang kini diseret ke pengadilan. Ditambah dengan sang ayah jahanam itu maka disematkanlah nama ‘evil 8’ untuk peristiwa kekerasan seksual terburuk di Australia Barat itu.

Hukuman Terhadap Pelaku

Kini kedelapan penjahat seksual itu sudah dijatuhi hukum oleh pengadilan setempat. Keenam pelaku dan sang ayah jahanam itu mengakui perbuatan mereka sementara seorang pelaku yang lain membantah.

Sang ayah jahanam itu oleh pengadilan setempat dijatuhi hukuman 22,5 tahun penjara. Dia sempat dihukum tahanan luar ketika masih belum semua terkuak perbuatanya itu. Pelaku Ryan Trevor Clegg yang melecehkan remaja itu empat kali, mengambil foto tidak senonoh, dan membagikannya di internet dihukum 13 tahun penjara.

(Baca juga: Ini Pacar Kaesang, Calon Menantu Jokowi Berikutnya)

Seorang pelaku lain atas nama David Volmer dijatuhi hukuman 10,5 tahun penjara. Mantan pendeta itu mengakui sejumlah dakwaan di antaranya adalah memberikan zat memabukan kepada remaja itu sehingga dia bisa melecehkannya.

Sementara pelaku Nicholas Beer bertemu dua kali dengan korban. Beer membelenggu korban di ranjang, mengenakan topeng ke korban kemudian difoto dan direkam. Dalam sidang vonis Beer terungkap bahwa pada satu titik, remaja tersebut meminta ayahnya untuk ‘berhenti’. Beer dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara.

Pria asal Bunbury bernama Troy Phillip Milbourne juga terlibat. Ia dijatuhi hukuman lima tahun tiga bulan penjara. Milbourne digambarkan dalam persidangan sebagai ‘pria kesepian’ yang melecehkan korban setelah membaca iklan yang telah dibuat ayah korban.

Seorang pelaku lainnya adalah seorang fotografer Benjamin Simon Clarke. Clarke divonis tiga tahun penjara karena terbukti secara tidak senonoh melecehkan remaja itu saat berbaring telanjang di kasur serta mengambil foto telanjang dan semi-telanjang korban di lokasi tambang yang tidak digunakan lagi.

Mark Lesley Wiggins, sebenarnya tidak melecehkan remaja tersebut. Dia tersangkut dalam kasus ini karena dia menghubungi ayah korban, tapi sama sekali belum pernah bertemu dengan mereka. Namun Wiggins mengaku bersalah dan divonis lebih dari dua tahun karena menggunakan chat room untuk menghubungi lima gadis muda lainnya yang dia minta foto-foto telanjang dan semi telanjang mereka.

Alfred John Impicciatore, merupakan satu-satunya dalam kelompok ini yang mengaku tidak bersalah dan melawan dakwaan terhadapnya.

Kesaksian Korban

Korban mengisahkan, ayahnya tetap tinggal bersamanya guna memastikan dia baik-baik saja dan pria itu tidak terlalu kasar terhadapnya. Namun yang tidak dia sebutkan adalah bahwa ayahnya juga turut berperan dalam pelecehan tersebut. Hal itu merupakan akibat dari apa yang disebut jaksa sebagai ‘anak bermasalah yang putus asa’.

Terdakwa Impicciatore mengaku ayah korban memberitahunya bahwa anaknya berusia 17 tahun, dalihnya ini ditolak. Hakim Mark Herron menolak argumen terdakwa bahwa pengakuannya dalam BAP tidak dapat diandalkan karena dia lelah, stres dan demam, dan memberi tahu polisi apa yang ingin mereka dengar.

Yang juga memberatkan terdakwa adalah bukti DNA yang cocok dengan yang ditemukan pada pembungkus kondom di meja samping ranjang di rumah korban.

Vonis Impicciatore akan dijatuhkan dalam persidangan bulan Maret tahun depan, setelah laporan psikologis dan psikiatrinya selesai, dalam babak terakhir salah satu kasus paling mengerikan ini di pengadilan Australia Barat.*(RSF)