Empat Kabupaten di NTT Alami Bencana Kekeringan

Empat Kabupaten di NTT Alami Bencana Kekeringan

Empat daerah kabupaten tersebut ialah Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Rote Ndao. (Foto: Anak-Anak di NTT - ist)

KUPANG, dawainusa.com – Empat daerah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan mengalami hari tanpa hujan (bencana kekeringan) dengan kategori kekeringan ekstrim.

Berdasarkan keterangan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang Apolinaris Geru, empat daerah kabupaten tersebut ialah Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Rote Ndao.

Untuk Kabupaten Sumba Timur, daerah yang mengalami kekeringan ialah di wilayah Temu atau Kanatang dan Kawangu. Sementara untuk Kabupaten Nagekeo, itu terjadi di sekitar wilayah Danga.

Sedangkan untuk Kabupaten Lembata, daerah yang mengalami kekeringan ekstrim ialah wilayah sekitar Wulandoni. Sementara di Kabupaten Rote Ndao, wilayah yang mengalami kekeringan ialah di area sekitar Feapopi.

Baca juga: Ketika Harmoni Bergerak Bersama Petani, Peternak dan Nelayan NTT

Dari hasil monitoring Hari Tanpa Hujan(HTH) berturut-turut dasarian I Juni 2018, tercatat, daerah NTT umumnya mengalami kriterian HTH dengan kategori pendek (6-10) hari hingga sangat panjang (31-60) hari.

“Tetapi ada beberapa wilayah yang sudah mengalami hari hujan tanpa hujan dengan kategori kekeringan ekstrem (lebih 60) hari,” jelas Geru di Kupang, Selasa (12/6).

Untuk hasil analisis curah hujan, pada umumnya, daerah NTT mengalami curah hujan dengan kategori rendang, yakni 0-50 mm. Akan tetapi, di sebagian kecil Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Malaka diprediksi mengalami curah hujan dengan kategori menengah, yakni 51-150 mm.

“Sebagian besar wilayah Kabupaten Malaka, sebagian kecil Kabupaten Belu, sebagian Kabupaten Timor Tengah Utara, dan sebagian kecil Manggarai diprakirakan berpeluang hujan berkisar antara 21-50 mm sebesar 30-70 persen,” kata Geru.

Siaga Bencana Kekeringan

Sementara itu, pada April lalu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT Tini Thadeus mengatakan bahwa pihaknya akan selalu siaga dengan bencana kekeringan di daerah tersebut.

“NTT mulai memasuki musim kemarau dan ancaman paling nyata sering dihadapi daerah ini yaitu masalah kekeringan, untuk itu kami BPBD di provinsi dan kabupaten/kota sudah mulai siaga,” ujar Thadeus di Kupang, Kamis (26/4).

Saat itu, ia mengatakan, segala upaya seperti penyediaan sarana penyaluran ait bersih berupa mobil-mobil tanki selalu siap untuk digerakan menuju daerah-daerah yang terkena dampak kekeringan tersebut.

Baca juga: Dua Desa Rawan Bencana di Lewoleba Direlokasi

“Selain penyediaan sarana air bersih, kami juga menyiapkan logistik yang sewaktu-waktu siap disalurkan melalui BPBD di setiap kabupaten/kota,” ujar dia.

BPBD provinsi sendiri, terang dia, tidak akan menyediakan bantuan tanggap darurat bencana dalam rupa uang tunai kepada masyarakat. Namun, mereka akan memfasilitasi semua daerah yang mengajukan bantuan anggaran dari Pemerintah Pusat lewat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Karena di BNPB pusat ada dana antisipasi yang siap pakai sekitar Rp1,5 triliun untuk tanggap darurat bencana di seluruh Indonesia, sehingga daerah-daerah yang nantinya terkena dampak kekeringan yang parah bisa mengajukan dan langsung dicairkan dalam 14 hari,” jelas Thadeus.

NTT Butuh 70 Bendungan

Jauh sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTT Andre Koreh mengatakan, untuk mengatasi masalah kekeringan yang terus melanda daerah berbasis kepulauan tersebut dibutuhkan sekitar 70 bendungan.

“Untuk mengatasi kekeringan kita butuh sekitar 70 bendungan. Dan saat ini yang baru dibangun hanya tiga bendungan,” kata Koreh di Kupang, Selasa (26/11/2017).

Tiga bendungan yang sudah dibangun tersebut ialah Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu, Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang dan Bendungan Napunggete di Kabupaten Sikka.

Baca juga: Tim SAR Kupang Berhasil Selamatkan Nelayan yang Hilang di Laut Sawu

“Sementara sisanya masih dalam proses untuk pembangunan karena masih ada kendala di lapangan,” kata Koreh saat itu.

Selama pemerintahan Jokowi, selain tiga bendungan tersebut, ada empat bendungan lainnya juga yang sudah siap dibangun.

Keempat bendungan tersebut, terang Koreh, ialah Bendungan Lambo di Kabupaten Nagekeo, Manikin di Kabupaten Kupang, Temef di Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kolhua di Kota Kupang.

Akan tetapi, jelas dia, pembangunan keempat bendungan tersebut terkendala oleh masalah pembebasan lahan dari warga. “Kendala utama yang dihadapi ya seperti masalah anggaran dan masalah lahan. Itu yang masih terus kami lakukan,” ujar Koreh.*

COMMENTS