Dua Tewas, TNI dan OPM Baku Tembak di Tembagapura

Dua Tewas, TNI dan OPM Baku Tembak di Tembagapura

Karena dihadang oleh TPN OPM, terjadilah aksi saling tembak tersebut yang mengakibatkan adanya korban jiwa dari kedua belah pihak. (Ilustrasi baku tembak - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Tentara Nasional Indonesia (TNI) melakukan aksi saling tembak dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Organisasi Papua Merdeka (OPM). Aksi tersebut terjadi di Banti, Tembagapura, Kabupaten Timika, Papua, Minggu (1/4) dan Senin (2/4).

Berdasarkan keterangan Panglima Operasi Komando Daerah Pertahanan III Kalikopi, Nemangkawi, Papua, Hendrik Manwang, kejadian itu bermula ketika aparat TNI berusaha masuk ke wilayah Banti pada Minggu (1/4).

Karena dihadang oleh TPN OPM, demikian Manwang, terjadilah aksi saling tembak tersebut yang mengakibatkan adanya korban jiwa dari kedua belah pihak.

Baca juga: Menhan Soal Ultimatum Perang OPM: Ya Perang Aja, Masa Makan Soto

“Dari serangan itu ada satu rumah warga yang terbakar. Mereka yang menjadi korban belum dievakuasi. Dari TPN 1 orang, dan juga belum dievakuasi,” tutur Manwang seperti diberitakan CNN, Selasa (3/4).

Di pihak lain, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan akibat baku tembak itu, seorang prajurit TNI dari Yonif 751/Raider, Prajurit Satu Vicky Rumpasium tewas. Tak ada korban luka-luka dari pihak TNI.

“Dari kami gugur satu orang, Vicky Rumpasium, putra asli sorong. Sudah dievakuasi pagi ini,” kata Aidi kepada CNN, Selasa (3/4).

Manwang menjelaskan, warga Banti merupakan penduduk pribumi yang telah kehilangan kedaulatan atas wilayahnya akibat ekspansi PT. Freeport Indonesia di daerah tersebut.

Menurutnya, mereka kerap ditipu oleh pihak PT. Freeport. Karena itu, saat ini mereka tengah berjuang untuk melawan hal tersebut, yakni hendak mengembalikan kedaulatan yang telah dirampas oleh pihak PT. Freeport.

“Saya punya masyarakat sama-sama berjuang untuk tutup PT. Freeport, karena itu akar masalah Papua,” kata Manwang.

Salah satu bentuk perlawanan penduduk Bantil, terang Manwang, ialah dengan membakar berbagai bangunan yang dibangun PT. Freeport seperti rumah sakit dan sekolah. Pasalnya, mereka menilai, keberadaan bangunan tersebut sama sekali tidak memiliki signifikansi bagi masyarakat setempat.

“Bakar rumah sakit dan sekolah, rumah sakit dan sekolah itu bikin dari PT. Freeport, bukannya menyelamatkan masyarakat. Ada rumah sakit saja banyak orang mati di usia yang tidak pantas mati. Coba bayangkan itu. Sekarang sudah ada rumah sakit, tapi anak kecil masih muda sudah mati banyak sekali. Kekurangan gizi di mana-mana,” tutur Manwang.

TPN OPM Siap Perang Melawan TNI

Manwang mengatakan, TPN OPM akan selalu siap untuk berperang melawan TNI. Dengan segala keterbatasan, mereka tidak akan takut untuk bertempur melawan TNI.

“Kalau TNI menyatakan perang, oke-oke saja kami terima. Kami siap. Tidak mungkin kami lari, namanya tempur. Kami siap bertempur, walaupun kami punya keterbatasan-keterbatasan melawan negara yang lengkap dengan persenjataan, dari persenjataan ringan dan persenjataan berat,” tegas Manwang.

Baca juga: Simpang Siur Kabar TPN-OPM Sandera Warga, Ini Kata PP PMKRI

Manwang mengakui peralatan senjata milik TNI jauh lebih lengkap ketimbang persenjataan TPNPB OPM. Akan tetapi, mereka tetap nekat untuk melakukan perlawanan tersebut. Apalagi, katanya, mereka juga telah melakukan komunikasi dengan Komando Daerah Pertahanan lain yang berada di hutan.

Lebih lanjut, Manwang juga mengatakan, selain berperang secara fisik, pihaknya juga akan siap untuk berperang secara intelektual. Ia menerangkan, mereka telah memiliki beberapa diplomat yang tergabung dalam United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) seperti Benny Wenda, Octovianus Mote, Rex Rumakiek dan Paula Makabory. Para diplomat tersebut, katanya, telah melakukan lobi di tingkat internasional.

Tidak Melakukan Dialog

Manwang juga menjelaskan, pihaknya tidak mungkin akan melakukan dialog dengan pemerintah Indonesia terkait masalah di Papua tersebut. Dialog, katanya, dapat dilakukan apabila pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ikut berpartisipasi dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

“Tetapi apa yang menjadi milik Bangsa Papua dan rakyat pribumi Papua, maka kembalikan pada rakyat pribumi Papua,” kata Manwang.

Untuk diketahui, sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan tidak akan takut dengan ancaman perang dari Organisasi Papua Merdeka (OPM). Apalagi, jelasnya, kekuatan alutsista dan pasukan TNI jauh lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan tentara OPM.

Baca juga: Aktivis PMKRI Asal Papua Kutuk Penembak Ibu Emakopera

“Mereka (OPM) ajak perang? Ya, perang saja. Orang ajak perang, masak makan soto sih,” tegas Ryamizard di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (28/3).

Hal senada juga diungkapkan oleh pihak Kodam XVII/ Cenderawasih. Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi menegaskan, pihaknya tidak akan gentar terhadap pernyataan prajurit OPM tersebut. Ia juga menegaskan, mereka tidak menghendaki agar perang tersebut terjadi.

Adapun aksi saling tembak tersebut, terang Aidi, telah menewaskan satu orang dari pihak TNI. Sementara dari pihak OPM, terdapat dua orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.*

COMMENTS