Dua Pelaku Perdagangan Orang Berhasil Diamankan Polda NTT

Dua Pelaku Perdagangan Orang Berhasil Diamankan Polda NTT

Dua Pelaku Perdagangan Orang Berhasil Diamankan Polda NTT. Kedua tersangka merekrut Mariance Kabu (34) pada tahun 2014 untuk di bawa dan dipekerjakan di Malaysia. (ilustrasi - okezone)

Kupang, dawainusa.com Dua pelaku perdagangan orang berhasil diamankan oleh direktorat Reserse Kriminal Polda Nusa Tenggara Timur. Kedua pelaku tersebut adalah TM (39) dan PB (41).

Direktur Kriminal Umum Polda NTT, Kombes Pol Yudi Sinlaloe mengatakan, kedua tersangka merekrut Mariance Kabu (34) pada tahun 2014 untuk di bawa dan dipekerjakan di Malaysia.

“Kasus ini memang kasus lama. Namun berhasil kami ungkap karena memang proses pengungkapannya membutuhkan waktu yang lama dan tidak seperti pengungkapan kasus tindak pidana umum lainnya,” kata Yudi Kamis (15/3).

Baca juga: Human Trafficking di NTT jadi Sorotan Menteri Yohana

Proses yang lama itu lanjut Yudi, dikarenakan pihak kepolisian membutuhkan saksi-saksi dan dokumen-dokumen agar bisa mengungkap siapa dibalik kasus yang menimpa MK pada 2004 silam itu.

Ia mengatakan, pada tahun 2014 TM dan PB serta seorang pelaku berinisial AT merekrut Mariance Kabu tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Usai direkrut oleh AT, AT langsung membawa ke Kupang dan memberikan kepada PB dan TM.

Usai tiba di Kupang dan di inapkan selama dua malam, korban pun langsung dikirimkan ke Malaysia untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga di negeri jiran itu.

Di Malaysia Korban Diperlakukan Semena-mena

Pada kesempatan yang sama Yudi mengatakan, saat berada di Malaysia korban mengalami perlakuan yang tidak adil oleh majikannya yakni disiksa dan dianiaya sehingga mengakibatkan luka berat pada korban. Korban pada akhirnya dipulangkan ke Indonesia pada tahun 2016 lalu.

“Setelah sampai di Kupang korban didampingi oleh Pendeta Marieta Naomi Gerdina S melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian, dan pada akhirnya pengungkapan baru dilakukan pada saat ini,” ujarnya.

Baca juga: Setelah Melahirkan, Terdakwa Kasus Human Trafficking Masuk Tahanan

Yudi menambahkan dalam kasus di atas, tersangka TM adalah seorang resedivis dengan kasus yang sama yakni pada tahun 2015 lalu. Sementara itu AT sampai saat ini masih dalam pengejaran. Siapa orang lain dibalik kasus ini, Yudi mengatakan pihaknya masih terus mendalami.

Sesuai dengan UU kedua tersangka yang kini tengah ditangkap dikenakan pasal 14 pasal 10 UU No. 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman hukuman paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun.

Selanjutnya kedua tersangka, yakni TM sendiri dikenakan penahanan selama 20 hari terhitung sejak tanggal 13 Maret 2018 di Rutan Polres Kupang Kota. Sementara PB dikenakan penahanan selama 20 hari terhitung sejak tanggal 14 Maret 2018 di Rutan yang sama.

Modus Baru Perdagangan Orang

Kombes Pol Yudi Sinlaeloe juga mengungkapkan Modus baru pelaku Human Tracffiking di Wilayah Nusa Tenggara Timur. Modus baru tersebut adalah pengiriman calon tenaga kerja Indonesia (TKI) dari luar NTT menuju Malaysia secara bergantian.

“Kalau dulu dikirim secara bergerombolan melalui Bandara sehingga berhasil digagalkan. Modus sekarang, mereka kita satu-satu TKI hingga tidak kelihatan,” Katanya.

Baca juga: Peduli Human Trafficking, JPIC SsPS Bentuk Komunitas Orang Muda

Semua TKI, kata Yudi kemudian diberangkatkan dari Kupang Menuju Surabaya, Jakarta, Tangerang serta Medan. Mereka kemudian dikumpulkan di tempat penampungan, dan disiapkan dokumen untuk diberangkatkan ke luar negeri.

Sebagian besar paspor para TKI itu dibuat di Blitar, Siak, Pekanbaru, dan Batam, dengan semua identitas dipalsukan. “Modus baru ini mulai terungkap pada tahun 2016, saat kita mencoba untuk melakukan penyelidikan lebih jauh dari tahun sebelumnya,”ungkap Yudi.

Yudi mengungkapkan, saat itu pihaknya tengah menggeledah kantor Imigrasi Kupang. Rupanya selama ini, pihak imigrasi tidak pernah melakukan verifikasi data para calon TKI yang ternyata palsu.

“Selama ini, pengurusan di imigrasi itu, yang penting datanya ada. Contohnya KTP yang dibawa ke sana mereka tidak pernah mengecek lagi ke dinas kependudukan soal KTP tersebut. Padahal KTP yang diserahkan itu palsu,” ungkapnya.

Karena itu, sambung Yudi, usai dilakukan penggeledahan, Imigrasi Kupang mulai berhati-hati dalam mengeluarkan paspor untuk para calon TKI. “Karena imigrasi Kupang mulai berhati-hati dalam mengeluarkan paspor, maka saat ini para pelaku mengurus paspor calon TKI di luar NTT,” pungkasnya.*

COMMENTS