Ditelanjangi Warga, Apa Kata Anak Cucu Kelak?

Ditelanjangi Warga, Apa Kata Anak Cucu Kelak?

Bagaimana perasaan anak-anaknya kelak, ketika mereka tahu kalau ibu dan ayahnya dulu pernah ditelanjangi warga dan diarak keliling kampung? (Foto Ilustrasi - imageduels)

EDITORIAL, dawainusa.com Malam itu menjadi malam traumatis bagi pasangan sejoli R (28) dan MA (20). Tepat pukul 23.00 WIB, kedua pasangan yang hendak menikah ini diarak dan ditelanjangi warga keliling kampung.

Detik-detik mencekam mereka lalui, ketika warga Cikupa, Kabupaten Tanggerang menggerebak keduanya di sebuah kontrakan lantaran diduga berbuat mesum.

(Baca juga: Sidang Vonis Digelar, Alumni 212: Buni Yani Pembela Islam)

Rasa kemanusiaan hilang seketika. Baju yang dikenakan M dilepaskan. Tubuhnya menjadi tontonan gratis warga. Harga diri keduanya pun ambruk dalam sekejab.

Membela diri tak sempat, hanya ada satu kata: pasrah. Pasrah pada amukan dan keberingasan warga yang sok suci itu.

Tak puas diarak, keduanya juga dianiaya. Rasa sakit dan tangis tidak menyurutkan kemarahan warga. Bahkan, saking membucahnya kemarahan itu, warga tega mengabadikan peristiwa itu hingga menjadi viral di media sosial.

Lantas kita bertanya. Jika alasan moral yang menjadi spirit penggrebekan, moral macam mana yang hendak mereka usung? Atau jika atas nama ‘kebejatan’ moral keduanya, bukankah yang paling bejat moralnya adalah mereka yang mengarak sejoli itu keliling kampung?

Pertanyaan lain, jika kekudusan dan kesucian yang direbut, sekaligus menjadi pilar spiritualitas warga yang membuat mereka alergi dengan prilaku keduanya, pantaskah direbut dengan cara menjijikan seperti itu? Wajarkah keduanya diperlakukan seperti bukan manusia, lalu diarak dan ditelanjangi warga di depan umum?

Seandainya mereka adalah anak atau kerabat warga yang mengarak, tegakah mereka melihat keduanya diarak keliling kampung seperti para pendosa kelas kakap yang pantas dihakimi  karena dituduh berbuat zinah?

Peristiwa ini tentu akan selalu membekas di hati keduanya. Memori pasti akan kembali bercerita, bahwa mereka pernah diperlakukan tidak manusiawi oleh sesama saudaranya yang kita sebut manusia itu.

Apa yang hendak mereka ceritakan kelak ketika anak-anaknya tahu jika ayah dan ibunya pernah ditelanjangi dan diarak warga keliling kampung?

Bagaimana membayangkan perasaan anak-anaknya kelak, ketika mereka tahu bahwa pada suatu malam yang pekat, ibu dan ayahnya pernah ditelanjangi warga? Bagaimana membayangkan perasaan anak-anaknya kelak, ketika mereka tahu kalau tubuh ibu dan ayahnya pernah menjadi tontonan gratis sejagad netizen?

Sungguh sangat sulit untuk diterima. Beban batin dan trauma psikologis akan selalu membekas dalam ingatan, ketika kembali mengenang detik-detik mencekam itu. Tentu keduanya akan berjuang keras melupakan kisah kelam itu lalu coba menutup serapat mungkin dari anak-anaknya. Tetapi sampai kapanpun, peristiwa itu akan tetap menghantui.

Kita terlalu cepat menghakimi. Atas nama moralitas, kita justru terjebak pada perilaku pembangkangan nilai-nilai moral itu sendiri. Kita seolah-olah memproklamirkan diri sebagai ‘yang saleh’ dan ‘yang alergi’ dengan perzinahan, tetapi di saat yang sama, kedua pasang mata tetap melotot menikmati tubuh telanjang.

Bisa jadi, itulah yang dilakukan warga dan netizen yang menikmati tontontan perarakan kedua sejoli itu keliling kampung dalam keadaan telanjang. Sesungguhnya mereka ingin menikmati tontonan tubuh tanpa balutan, meski hanya dengan tatapan. Sebab, bila mereka merasa terganggu, kenapa tak laporkan saja ke pihak berwajib. Tak perlu harus main hakim sendiri.

(Baca juga: Gejolak Tembagapura, Seorang Karyawan PT. Freeport Terkena Pluru)

Ditelanjangi Warga: Kronologi Kejadian

Saat ini, polisi telah turun tangan mengusut beredarnya video tersebut. Lokasi penggerebekan telah didatangi untuk mengetahui peristiwa sebenarnya. Polisi juga telah mengantongi sejumlah bukti.

Kapolresta Tangerang AKBP Sabilul Alif menceritakan kejadian warga yang main hakim sendiri itu. Sebelum digerebek warga, korban pria datang ke kontrakan pacarnya membawa makanan. Namun tak lama warga datang dan memaksa kedua mengaku berbuat mesum.

Ditelanjangi Masa

Kondisi Pasangan yang Dipaksa Ngaku Mesum Sangat Terguncang, Ketua RT Biarkan Warga Memotret. (Foto: Tribunnews)

“Dia antar makanan, ke kamar mandi sikat gigi habis itu keluar langsung ditarik suruh ngaku, kalau nggak ditelanjangi. Tapi yang jelas aslinya pakai baju,” ujar Sabilul.

Warga yang menggerebek lalu menarik baju pasangan tersebut. Warga tak hanya menganiaya dan menelanjangi pasangan yang dikatakan polisi tak berbuat mesum itu. Warga juga sengaja membuat video, memotret, lalu mengunggahnya ke internet.

“Habis itu mereka bilang ayo selfie, upload. Ada yang bilang begitu, ‘ada yang mesum!’,” papar Sabilul.

Padahal, Sabilul menegaskan pasangan yang digerebek bukan pasangan mesum. Mereka diketahui sedang menjalin hubungan dan berencana menikah.

“Dia memang sudah mau nikah,” ujar Sabilul.

Buntut dari kasus ini, 4 orang warga ditangkap polisi. Para pelaku itu diduga yang menjadi dalang penggerebekan. Keempat pelaku yang diamankan masing-masing berinisial G (41), T (44), A (37) dan N. Mereka diduga ikut menelanjangi dan menganiaya korban.

Mereka terancam Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan. “Sesuai dengan laporan pihak korban atau pelapor, kita terapkan Pasal 170 KUHP untuk yang diduga tersangka. Kemungkinan penerapan pasalnya akan di-juncto-kan ke Pasal 335 KUHP atau nanti berkembang penyidikannya ke arah UU ITE,” ujar Wiwin.

Semoga peristiwa serupa tidak terjadi lagi di bumi Indoenesia. Kita mendoakan, semoga rasa traumatik mereka segera dipulihkan*. (AT)

Salam Redaksi !!!