Didemo FPI, Apa Salah Tempo?

Didemo FPI, Apa Salah Tempo?

Tempo dituntut meminta maaf terkait pemuatan karikatur yang dinilai telah menghina ulama besar mereka, Muhammad Rizieq Shihab. (Foto: FPI saat menggruduk kantor Tempo - CNN Indonesia)

FOKUS, dawainusa.com “Musuh kita adalah bajingan-bajingan yang ada di dalam gedung ini. Musuh kita bukan bapak-bapak polisi, musuh kita adalah keparat-keparat yang ada di dalam sana,” teriak salah seorang orator dari atas mobil komando.

Jumat (16/3), Jalan Palmerah, Jakarta dipadati ratusan orang beratribut Front Pembela Islam (FPI). Sekitar pukul 14.10, mereka tiba di kantor Tempo. Arak-arakan disertai lantunan selawat terdengar riuh di jalanan.

Kalimat takbir berkali-kali diteriakan massa dan orator saat beraksi. Kehadiran mereka adalah menuntut Tempo meminta maaf terkait pemuatan karikatur yang dinilai telah menghina ulama besar mereka, Muhammad Rizieq Shihab.

Baca juga: Dinilai Lecehkan Rizieq Shihab, FPI Gelar Aksi di Kantor Tempo

Barangkali masih ada yang belum mengenal Rizieq Shihab. Dia adalah tokoh sentral dalam FPI sekaligus penggerak utama demonstrasi berjilid-jilid beberapa waktu lalu. Hampir setahun Rizieq tak pulang ke Indonesia, sejak dia berangkat ke Arab Saudi bersama keluarga untuk menunaikan umrah pada 26 April 2017.

Beberapa pekan kemudian, tepatnya pada 29 Mei 2017, Kepolisian Daerah Metro Jaya menetapkan pemimpin FPI itu sebagai tersangka dalam kasus pornografi terkait percakapan mesum yang diduga antara dia dan Firza Husein. Setelah ada penetapan tersangka itu, Rizieq Shihab tidak pernah kembali ke tanah air.

Dia pun tak bisa memenuhi surat panggilan polisi untuk diperiksa sebagai tersangka. Sebagai sosok yang sangat dihormati dikalangan FPI, mereka tak ingin Rizieq Shihab dihina. Meskipun karikatur yang dimuat Tempo sama sekali tidak bermaksud menyinggung siapapun termasuk Rizieq.

Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Arif Zulkifli mengatakan karikatur yang dipersoalkan Front Pembela Islam adalah sebuah karya seni dan termasuk hasil kerja jurnalistik. Bisa jadi, ini soal interpretasi.

“Enggak ada niat sedikit pun untuk menghina atau memojokkan organisasi atau orang tertentu,” kata Arif saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (16/3).

Mengapa FPI begitu marah dan berontak terhadap karikatur yang dimuat Tempo? Wajah Rizieq tidak pernah ditampilkan di sana. Tulisan yang menyinggung dirinya pun tidak disematkan. Hanya gambar. Rekasi FPI tetap saja bringas. Bahkan, Arif sampai diboyong ke arah mobil komando. Kacamatanya pun dirampas.

“Kacamata saya tadi sempat dirampas dan dilempar. Untung enggak pecah,” kata Arief sambil tertawa saat bercerita kepada wartawan di Gedung Tempo.

Didemo FPI, Tempo Minta Maaf

Soal desakan FPI untuk meminta maaf, Arif dengan tegas mengatakan, permintaan maaf Tempo bukan karena telah membuat karikatur yang dipersoalkan FPI. Namun, dia meminta maaf jika karikatur itu telah menyinggung pihak tertentu.

“Kerja jurnalistik menyimpan dhoif-nya. Kalau kartun majalah Tempo menimbulkan ketersinggungan kami meminta maaf,” kata Arif.

Baca juga: Rizieq Batal Pulang, Pengacara FPI Siap ke Arab Saudi

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers sebelumnya juga telah menyarankan FPI agar persoalan tersebut di bawah ke Dewan Pers sebagai ruang mediasi pihak yang merasa dirugikan atas produk jurnalis Tempo.

Keberatan terhadap produk tersebut seharusnya dilakukan dengan menempuh jalur sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Bukan datang bergerombolan lalu menyerang kantor Tempo.

“Seharusnya, jika salah satu pihak atau kelompok ada yang keberatan atau dirugikan dengan sebuah karya jurnalistik mekanismenya adalah menempuh jalur sengketa jurnalistik dengan memberikan hak jawab atau hak koreksi sebagaimana dalam Pasal 4 UU Pers,” kata Direktur Eksekutif LBH Pers Indonesia Nahwawi Bahrudin.

Meski demikian, pada pekan depan, Tempo akan memberikan ruang hak jawab bagi FPI. FPI melakukan aksi protes lantaran ada karikatur yang menggambarkan sosok orang memakai gamis dan serban. Sosok tersebut berbicara kepada seorang perempuan yang menirukan skenario salah satu adegan film.

“Maaf saya tidak jadi pulang,” ujar pria berserban.

“Yang kamu lakukan itu jahat,” jawab perempuan memakai baju merah.*

 

COMMENTS