Dicokok Petugas Karena Bawa Narkoba, TKI Ini Mengaku Barang Titipan

Dicokok Petugas Karena Bawa Narkoba, TKI Ini Mengaku Barang Titipan

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang baru saja pulang dari Malaysia ditangkap aparat lantaran dirinya diketahui membawa hampir satu kilogram narkoba jenis sabu. (Foto: Sulimah saat ditahan aparat kepolisian - Tribunnews.com).

SURABAYA, dawainusa.com Petugas Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur, menangkap seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang baru saja pulang dari Malaysia. Adapun TKI itu bernama Sulimah (36).  Ia ditangkap lantaran dirinya diketahui membawa hampir satu kilogram narkoba jenis sabu.

Namun, saat ditanyai petugas bandara di kota pahlawan itu, perempuan asal Kabupaten Sampang, Jawa Timur ini mengaku barang titipan rekan sesama TKI-nya. Ia mengaku tidak mengetahui kalau barang tersebut barang haram dan dilarang di Indonesia.

Baca juga: Perempuan Pengedar Narkoba di Maumere Berhasil Ditangkap

“Sulimah hanya mengaku diberi titipan barang oleh rekannya sesama TKI. Dia mengaku tidak mengetahui jika barang tersebut adalah narkoba,” ujar Kepala Kantor Bea Cukai Juanda Budiharjanto, sebagaimana diberitakan Kompas.com, Selasa (27/3).

Atas perbuatannya itu, perempuan berusia 38 tahun ini terancam dijerat Pasal 113 ayat (1) dan (2) Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman pidana penjara 15 tahun.

TKI Sembunyikan Narkoba dalam Rice Cooker

Cara TKI itu menghindar dari pantauan petugas atas barang terlarang itu boleh dibilang amat cerdik. Bagaimana tidak, TKI yang mengadu peruntungan hidup di negeri Jiran Malaysia itu menyembunyikan barang haram itu dalam kotak alat masak atau rice cooker.

Bungkusan narkoba jenis sabu tersebut disimpannya di antara bawang merah dan bawang putih dalam kotak rice cooker. Meski demikian, cara kreatif nan licik itu berhasil digagalkan petugas. Jika tidak, entah berapa anak negeri yang menjadi korban barang haram tersebut.

Baca juga: Di Sebuah Masjid, Polisi Amankan 15 Bungkus Narkoba Jenis Sabu

“Dalam kotak rice cooker yang dibawa, terdapat sabu-sabu seberat 925 gram yang dibungkus plastik. Narkoba itu disimpan bersama bungkusan bawang merah dan bawang putih,” ungkap Budiharjanto.

Adapun perempuan itu telah diamankan petugas Bandara Internasional Juanda Surabaya, Jumat (16/3) lalu, sekitar pukul 15.15 WIB. Saat itu, dia baru saja mendarat dari pesawat Air Asia (XT-327) rute Kuala lumpur Malaysia – Surabaya.

Indonesia Sedang Darurat Narkoba

Sabu merupakan salah satu jenis narkoba. Barang ini menjadi barang haram dan terlarang di Indonesia. Meskipun haram dan terlarang, barang ini tetap memikat sejumlah banyak anak negeri ini.

Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso mengungkapkan  Indonesia darurat narkoba. Menurutnya, Indonesia dinyatakan darurat sejak tahun 1971. Ketika itu, Presiden RI ke-2 Soeharto menyatakan, Indonesia sedang dalam kondisi darurat narkoba.

“Untuk kesekian kalinya presiden kita, beliau sudah menyampaikan Indonesia dalam kondisi darurat narkoba. Sampai hari ini masih darurat narkoba,” kata Jenderal Polisi Bintang III yang disapa Buwas itu dalam acara Ikatan Keluarga Alumni Institut Injil Indonesia di Sekolah Alkitab Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (2/11/2017) lalu.

Buwas menjelaskan, meski pada 1971 sudah berstatus darurat, belum ada upaya signifikan dalam mengatasi status tersebut. Bahkan, kasus tersebut terus meningkat hingga saat ini.

Baca juga: Kepala BNN: Pengedar Narkoba Langsung Ditembak Mati

“Jumlah korban semakin besar, perkembangan peredarannya semakin besar. Pemakaiannya semakin besar. Karena kita semua tidak serius menangani masalah narkoba. Kita cukup mendengungkan darurat narkoba, sudah,” ungkapnya.

Ia mengatakan, pengaruh obat terlarang ini sudah menyentuh setiap lini di setiap daerah di Indonesia. Tidak ada satu daerah pun di Indonesia yang terbebas dari barang haram ini.

“Sekarang kita lihat provinsi mana yang bebas dari narkoba, tidak ada. Kita turun ke kota-kabupaten. Kota-kabupaten mana yang bebas dari narkoba? tidak ada. Kecamatan, tidak ada yang menjamin ada kecamatan yang bebas dari narkoba. Bahkan sampai RT-RW,” tandasnya.

Adapun pada tahun 2017 lalu, Deputi Pencegahan BNN Irjen Ali Djohardi Wirogioto mengatakan, dalam penelitian yang dilakukan pihaknya bersama Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) Depok, hampir 6 juta masyarakat aktif masuk dalam jeratan narkotika berbagai jenis.*

COMMENTS