Dianggap Haram, Sejumlah Warga Menolak Diimunisasi

Dianggap Haram, Sejumlah Warga Menolak Diimunisasi

Sejumlah warga dari 12 desa di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menolak diimunisasi lantaran mereka menganggap bahwa vaksin imunisasi tersebut haram karena terbuat dari minyak babi. (Foto: ilustrasi - merdeka.com)

JAKARTA, dawainusa.com – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung Suparjo mengatakan, terdapat sejumlah warga dari 12 desa di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menolak diimunisasi lantaran mereka menganggap bahwa vaksin imunisasi tersebut haram karena terbuat dari minyak babi.

“Masih ada 12 desa yang menolak untuk imunisasi, tetapi tidak semua warga di desa tersebut menolak. Masih ada warga yang mau diimunisasi,” ungkap Suparjo di Temanggung, seperto diberitkan CNN Indonesia, Rabu (2/5).

Adapun sejumlah desa tersebut ialah Desa Bengkal dan Badran Kecaman Kranggan, Desa Bonjor Kecamatan Tretep serta beberapa desa di kecamatan lainya.

“Warga yang menolak imunisasi itu menganggap bahwa vaksin yang digunakan untuk imunisasi terbuat dari minyak babi,” tutur Suparjo.

Baca juga: Soal Manuver Ruhut Sitompul yang Berseragam PDIP

Suparjo sendiri mengatakan, dirinya memang tidak bisa memastikan kandungan vaksin tersebut. Akan tetapi, ia menjelaskan, vaksin itu merupakan produk dari Bio Farma Bandung yang telah dipercaya dan dipakai di 152 negara.

“Negara-negara yang penduduknya muslim juga mengambil vaksin dari perusahaan tersebut,” jelas Suparjo.

Tetap Berikan Layanan

Meski begitu, Suparjo mengatakan, pihaknya tetap akan terus berusaha memberikan pelayanan kepada para warga yang menolak untuk diberikan vaksin imunisasi tersebut.

Ia berencana akan memberikan pelayanan kesehatan berupa penyuluhan melalui perangkat desa dan bidan desa setempat. “Kami tetap berupaya yang terbaik agar warga tetap mendapatkan hak pelayanan kesehatan,” ujar Suparjo.

Baca juga: Fadli Zon dan Fahri Hamzah Resmi Bentuk Pansus Hak Angket TKA

Selain dengan cara itu, Suparjo juga sudah melakukan advokasi agar para warga yang menolak imunisasi itu dapat menerima vaksin. Hal itu dilakukan dengan melibatkan peran tokoh masyarakat dan tokoh agama di berbagai desa tersebut.

Para tokoh ini dilibatkan untuk memberikan pemahaman kepada warga terkait kondisi vaksin yang akan diterimanya. Karena itu, jelas Suparjo, para tokoh tersebut juga diajak untuk berkunjung langsung tempat pabrik Bio Farma.

“Para tokoh agama ini melihat langsung proses pembuatannya dan mereka mengetahui secara langsung bahwa vaksin yang digunakan untuk imunisasi ini benar-benar halal. Tidak seperti dugaan masyarakat yang masih menolak imunisasi,” jelas Suparjo.

Pentingnya Imunisasi

Pemberian vaksin imunisasi memang mesti dilakukan agar setiap anak memperoleh daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit tertentu. Kementerian Kesehatan sendiri sudah sejak awal menggalakkan program imunisasi ini seperti salah satunya ialah imunisasi Measless Rubella untuk mencegah adanya penyakit campak dan rubela.

Selain untuk mencegah penyakit tersebut, pemberian vaksin ini juga berguna untuk mengatasi berbagai penyakit lainnya seperti tuberkulosis (TBC) dan difteri. Kedua penyakit ini mesti diwaspadai sebab dapat menimbulkan kematian bagi para penderitanya.

Baca juga: Perlukah Regulasi Khusus Soal Netralitas ASN Dalam Pilkada?

Berdasarkan data dari World Health Organization tahun 2015, Indonesia menjadi salah satu dari enam negara yang memiliki kasus TBC terbanyak.

Penyakit yang disebabkan oleh basil Mycobacterium Tuberculosis ini berpotensi mengakibatkan kematian bagi para penderitanya karena bakteri tersebut dapat mengganggu dan merusak sistem kerja paru-paru para penderitanya.

Selain itu, penyakit ini juga penting untuk diwaspadai karena cara penularannya dapat terjadi melalui udara. Seseorang yang menderita penyakit ini diharapkan untuk menjaga dirinya agar penyakit yang dialaminya itu tidak tersebar dan menyerang orang lain.

Sementara itu, Penyakit difteri merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae yang menyerang selaput lendir di hidung dan tenggorokan. Meski terlihat sepele, penyakit ini justru berpotensi mengancam kelangsungan hidup seseorang.

Untuk pencegahan penyakit tersebut seseorang harus menerima imunisasi DPT. Pemberian imunisasi ini mesti dilakukan sebanyak lima kali, yakni sejak seorang anak sudah menginjak usia dua bulan hingga enam tahun. Seorang anak akan disuntik pada usia dua bulan, empat bulan, enam bulan, antara 18-24 bulan dan terakhir lima tahun.*

COMMENTS