Di Sumba Barat Daya, Pensiunan PNS Perkosa Gadis 17 Tahun

Di Sumba Barat Daya, Pensiunan PNS Perkosa Gadis 17 Tahun

Seorang pensiunan PNS di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkosa seorang gadis yang masih berusia 17 tahun. (Foto: Ilustrasi pemerkosaan - Tribunnews).

TAMBOLAKA, dawainusa.com Seorang pria berinisial MDD atau AN yang pernah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) melakukan aksi biadap. Pensiunan PNS ini memperkosa seorang gadis yang masih berusia 17 tahun.

Adapun kejadian tersebut terjadi rumah pelaku, di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (26/3) sekitar pukul 15.00 Wita. Saat itu, korban yang berinisial TGW baru saja selesai membeli mie, sabun, dan shampo di kios milik pelaku.

Baca juga: Pria Pengangguran di Sumba Hamili Adik Kandungnya yang Masih SD

Namun, saat hendak pulang, pensiunan PNS itu menyeret korban ke dapur miliknya. Kebetulan, di rumah pelaku tidak ada orang lain sehingga pelaku dengan bebas melakukan aksi bejatnya itu.

“Saat itu, pelaku (AN) sedang menjaga kiosnya. Setelah korban selesai membeli dan hendak pulang, tiba-tiba pelaku langsung menarik tangan korban dan membawa korban masuk ke dalam rumah pelaku,” terang Kapolres Sumba Barat AKBP Gusti Maychandra, sebagaimana diberitakan Kompas.com, Selasa (27/3).

Korban Pingsan, Pensiunan PNS Ditangkap

Setelah kegadisannya diraib, korban yang masih remaja itu, disuruh pulang pensiunan PNS itu. Bahkan pelaku sempat memintanya untuk datang kembali keesokannya.

Namun, bagi korban, tindakan pelaku tersebut adalah menguburkan kesuciannya. Korban pun langsung menuju kantor Polsek Wewewa Timur, Sumba Barat Daya. Ia dengan berani melaporkan sendiri kejadian tersebut kepada aparat.

Saat hendak tiba di kantor polisi, korban tak kuat lagi. Ia jatuh dan pingsan hingga anggota polisi dan warga yang melihat gadis itu datang membantunya dan membawa korban ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

“Sekitar pukul 18. 30 Wita, korban (TVGW), berjalan kaki dari arah kilometer 12 menuju ke Polsek Wewewa Timur. Sesampainya dekat pintu Gerbang Kantor Polsek, korban yang saat itu belum diketahui identitasnya jatuh dan tidak sadarkan diri,” ungkap AKBP Gusti Maychandra, Rabu (28/3/) pagi.

Baca juga: Lakukan Hal ini, Oknum PNS di Sumba Bersama Istrinya Dipenjara

Setelah korban sadar, ia pun menceritakan peristiwa naas yang menimpanya. Ia mengaku diperkosa AN saat dirinya belanja di kios pelaku. Korban juga menceritakan hal tersebut kepada orang tuanya. Adapun orang tua korban datang setelah ia memberi tahu alamat orang tuanya kepada aparat.

“Korban kemudian memberitahu alamat orang tuanya. Orang tua korban lalu datang ke rumah sakit dan korban menceritakan semua peristiwa pemerkosaan itu,” ujar Gusti.

Setelah mendegar kesaksian korban, terang AKBP Gusti, pihaknya mendatangi rumah pensiunan PNS tersebut. Mereka menangkap pelaku dan menggelandangnya ke Mapolres Sumba Barat.

“Setelah kami menerima laporan, kami bergerak dan menangkap pelaku di rumahnya, Selasa (27/3) dini hari sekitar pukul 2.30 Wita. Selanjutnya pelaku dibawa ke Polres Sumba Barat untuk proses lebih lanjut sesuai prosedur hukum yang berlaku,” tutupnya.

Peristiwa Kekalahan Perempuan

Peristiwa tragis ini meninggalkan luka sekaligus penyesalan, tidak hanya pada korban tetapi juga kaum perempuan. Perempuan menjadi sasaran dari hasrat kaum adam yang tidak teratur atau bablas. Perempuan yang secara fisik tidak lebih kuat dari laki-laki seakan-akan tunduk di hadapan kebringasan hasrat laki-laki.

Data Komnas Perempuan dari tahun 2001–2017, semacam menegaskan pernyataan bahwa laki-laki sedemikian perkasa di hadapan perempuan dan melabrak perempuan sesuai dengan hasratnya.

Menurut catatan Komnas Perempuan, untuk kekerasan seksual di ranah KDRT/personal, pelaku paling banyak ialah orang yang memiliki hubungan darah (ayah, kakak, adik, paman, kakek), kekerabatan, perkawinan (suami) maupun relasi intim (pacaran) dengan korban.

Baca juga: Janda Muda 22 Tahun Diperkosa Tiga Pria Hingga Pingsan

Dalam hal tindak pemerkosaan, hingga saat ini menempati posisi tertinggi sebanyak 1.389 kasus, diikuti pencabulan sebanyak 1.266 kasus.

Di tahun ini, CATAHU juga menampilkan data perkosaan dalam perkawinan sebanyak 135 kasus dan menemukan bahwa pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah KDRT/personal adalah pacar sebanyak 2.017 orang.

Sementara, kekerasan di ranah komunitas mencapai angka 3.092 kasus (22 persen), di mana kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.290 kasus (74 persen), diikuti kekerasan fisik 490 kasus (16 persen).

Adapun kekerasan lain di bawah angka 10 persen yaitu kekerasan psikis 83 kasus (3 persen), buruh migran 90 kasus (3 persen), dan trafficking 139 kasus (4 persen). Jenis kekerasan yang paling banyak pada kekerasan seksual di ranah komunitas adalah perkosaan (1.036 kasus) dan pencabulan (838 kasus).*

COMMENTS