Di Sebuah Masjid, Polisi Amankan 15 Bungkus Narkoba Jenis Sabu

Di Sebuah Masjid, Polisi Amankan 15 Bungkus Narkoba Jenis Sabu

Di Masjid Islamic Center, aparat polisi dari kepolisian resor (Polres) Nunukan mengamankan 15 bungkus narkoba jenis sabu. (Foto: Ilustrasi pengedar narkoba ditangkap - Ist).

NUNUKAN, dawainusa.com Penjualan barang haram seperti narkoba sepertinya tidak mengenal tempat. Bahkan di Masjid, tempat orang-orang beribadah dan dianggap sakral sekalipun, barang haram itu dijual. Di tempat yang dianggap suci tidak menjamin yang haram itu tidak ada.

Peristiwa yang terjadi di Masjid Islamic Center, Nunukan, Kalimantan Utara menjadi salah satu contohnya. Aparat dari kepolisian resor (Polres) Nunukan mengamankan 15 bungkus narkoba jenis sabu dari lingkungan tempat suci tersebut.

Baca juga: Terlibat Kasus Narkoba, TKI Ilegal Asal Ende Ditahan Polisi Malaysia

“Kami amankan 15 bungkus sabu yang dikemas dalam plastik dan disimpan di dalam kotak kecil. Barang bukti yang kami amankan sebanyak 1,80 gram,” ujar Kasubag Humas Polres Nunukan Iptu M Karyadi, Kamis (22/3).

Menurut Karyadi, selain 15 bungkus yang diamankan tersebut, pihaknya juga menemukan kurang lebih 5 bungkus yang telah dijual pelaku di tempat tersebut.

Dari hasil interogasi awal kepada pelaku, pemilik dari barang-barang yang bisa merusak generasi masa depan bangsa itu adalah Anca, warga Sei Jepun, yang dititipkan kepada mereka untuk dijual.

Ditangkap di Masjid, Pelaku Diamankan

Saat ini, penjual obat terlarang tersebut telah ditangkap aparat kepolisian. Ada dua pelaku yang langsung ditangkap di tempat, yakni  Nasrudi alias Aco (30) dan Ahmad (31).

“Keduanya ditangkap di Masjid Islamic Center Kabupaten Nunukan pada Rabu (20/3/2018) sekitar pukul 17.00 Wita. Dari pengakuan mereka, sudah terjual 5 bungkus,” ujar Karyadi.

Baca juga: Terlibat Peredaran Narkoba, Dua Oknum Polisi di Palembang Dipecat

Karyadi menerangkan, keberadaan kedua pelaku di lingkungan suci tersebut meresahkan umat lain. Keresahan itu mendorong umat lain melaporkan mereka kepada pihak berwajib. Dari laporan tersebut, aparat kemudian mendatangi lokasi dan mengamankan pelaku.

Saat ini, terang Karyadi, kedua pelaku diamankan di Mapolres Nunukan. Kedua pelaku akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Indonesia Darurat Narkoba

Sabu merupakan salah satu jenis narkoba. Barang ini menjadi barang haram dan terlarang di Indonesia. Meskipun haram dan terlarang, barang ini tetap memikat sejumlah banyak anak negeri ini.

Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso mengungkapkan  Indonesia darurat narkoba. Menurutnya, Indonesia dinyatakan darurat sejak tahun 1971. Ketika itu, Presiden RI ke-2 Soeharto menyatakan, Indonesia sedang dalam kondisi darurat narkoba.

“Untuk kesekian kalinya presiden kita, beliau sudah menyampaikan Indonesia dalam kondisi darurat narkoba. Sampai hari ini masih darurat narkoba,” kata pria yang disapa Buwas itu dalam acara Ikatan Keluarga Alumni Institut Injil Indonesia di Sekolah Alkitab Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (2/11/2017) lalu.

Baca juga: Kepala BNN: Pengedar Narkoba Langsung Ditembak Mati

Buwas menjelaskan, meski pada 1971 sudah berstatus darurat, belum ada upaya signifikan dalam mengatasi status tersebut. Bahkan, kasus tersebut terus meningkat hingga saat ini.

“Jumlah korban semakin besar, perkembangan peredarannya semakin besar. Pemakaiannya semakin besar. Karena kita semua tidak serius menangani masalah narkoba. Kita cukup mendengungkan darurat narkoba, sudah,” ucapnya.

Ia mengatakan, pengaruh obat terlarang ini sudah menyentuh setiap lini di setiap daerah di Indonesia. Tidak ada satu daerah pun di Indonesia yang terbebas dari barang haram ini.

“Sekarang kita lihat provinsi mana yang bebas dari narkoba, tidak ada. Kita turun ke kota-kabupaten. Kota-kabupaten mana yang bebas dari narkoba? tidak ada. Kecamatan, tidak ada yang menjamin ada kecamatan yang bebas dari narkoba. Bahkan sampai RT-RW,” tegasnya.

Adapun pada tahun 2017 lalu, Deputi Pencegahan BNN Irjen Ali Djohardi Wirogioto mengatakan, dalam penelitian yang dilakukan pihaknya bersama Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) Depok, hampir 6 juta masyarakat aktif masuk dalam jeratan narkotika berbagai jenis.*

COMMENTS