Decotourism Flores, Kaum Muda Cipta Paradigma dan Gairah Agrowisata

Decotourism Flores, Kaum Muda Cipta Paradigma dan Gairah Agrowisata

Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko dan pemuda-pemudi Indonesia Alumni Young South East Asian Leaders Initiative (YSEALI) berhasil menggagas program Detusoko Ecotourism (Decotourism) Flores. Program ini bertujuan untuk membangkitkan minat kaum muda dalam upaya mengembangkan potensi lokal berbasis agriculture. (Foto: Launching program Detusoko Ecotourism (Decotourism) Flores - Ist).

ENDE, dawainusa.com – Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu destinasi wisata yang dikenal memiliki potensi yang sangat besar. Potensi wisata yang menjanjikan itu kemudian menjadi cikal bakal lahirnya program Detusoko Ecotourism (Decotourism) Flores.

Selain karena keindahan panorama alam yang luar biasa eskotis, pulau ini juga memiliki aset biota laut yang indah, peninggalan warisan sejarah dan kearifan budaya lokal yang sangat unik, tatanan perkampungan adat, juga peradaban masyarakat dengan beragam aktivitas dan rutinitas alamiah, dan jauh dari sentuhan modernisme.

Di tengah arus wisata yang kian meningkat secara signifikan, para wisatawan masih menjumpai aktivitas dan rutinitas alamiah masyarakat; memasak nasi dengan menggunakan tiga batu tungku, menenun kain motif daerah dari bahan-bahan khas hingga seremoni dan ritual adat khas daerah sebagai bentuk penghargaan bagi setiap wisatawan yang berkunjung.

Paradigma dan gairah wisata berbasis potensi dan kearifan lokal, belum sepenuhnya diamini sebagai efek sosial dari gaung pariwisata Flores yang kian menyedot intensitas kunjungan para wisatawan baik domestik maupun asing.

Beberapa waktu lalu, Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko dan pemuda-pemudi Indonesia Alumni Young South East Asian Leaders Initiative (YSEALI) berhasil menggagas sepekan kegiatan (8-12 Januari 2018) dan launching program Detusoko Ecotourism (Decotourism) Flores, Jumat (19/1/18) bertempat di Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende.

Baca juga: Labuan Bajo Darurat Sampah, KLHK Turun Tangan

Kegiatan ini digagas bersama dengan tujuan untuk membangkitkan minat kaum muda dalam upaya mengembangkan potensi lokal berbasis agriculture guna meningkatkan daya ekonomi kreatif dan agrowisata masyarakat.

“Sebagai proyek percontohan, kami berinisiatif membantu petani dan pemuda di Desa Detusoko, Ende guna membangkitkan sektor pertanian dan wisata yang menjadi urat nadi sekaligus gerbang kesejahteraan bagi masyarakat. Program ini didukung oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan Kenan Institute Asia dalam kerjasama dengan RMC Detusoko dan Kelompok Tani Bungalomu Detusoko,” ungkap Tim Leader YSEALI, Muhammad Arsalan kepada dawainusa.com.

Sementara itu, jauh dari atensi masyarakat di balik meningkatnya arus wisata ke Taman Nasional Kelimutu dengan keindahan Danau Tiga Warna yang memikat daya simpatik para wisatawan, aset keindahan alam dengan panorama hamparan sawah bertingkat serta kearifan budaya lokal yang masih terjaga di Detusoko juga menjadi paradigma baru yang diangkat dalam Decotourism Flores ini.

“Segmen pertanian dan agrowisata menjadi pilot project Decotourism. Juga kearifan budaya lokal yang sangat potensial untuk dikembangkan dan dioptimalkan. Kami menilai segala potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal ini disebabkan oleh minimnya strategi promosi dan packaging pariwisata di Desa Detusoko. Maka dari itu, kami tergerak untuk berkontribusi mewujudkan agrowisata untuk Desa Detusoko,” ujar Bertha Lovita Dwi.

“Dalam jangka panjang, kami ingin membangun wisata berbasis agrikultur yang ramah lingkungan bekerjasama dengan RMC Detusoko dan Kelompok Tani Desa sehingga para wisatawan dapat berbaur dengan penduduk lokal, berpartisipasi dalam kegiatan pertanian sembari menikmati indahnya pemandangan alam,” lanjutnya.

Bertha juga menambahkan masyarakat lokal dapat secara mandiri menjalankan industri pariwisata strategis di Flores yang merupakan salah satu dari 10 ‘Bali’ baru yang diinisiasi pemerintah.

Paradigma Industri Wisata Decotourism: Networking dan Partnership 

Upaya mengubah mindset atau paradigma masyarakat untuk menangkap peluang pariwisata ke depan, tidak terlepas dari kesamaan pemahaman (mutual understanding) terkait pengembangan pariwisata berbasis agriculture guna meningkatkan branding destinasi dan dunia pasar (marketing) melalui berbagai Informasi Teknologi (IT) untuk sampai ke segmen pasar wisata.

“Decotourism bertujuan menciptakan branding destinasi dan networking sesuai standar industri marketing modern melalui sosial media. Sebagai salah satu cara, Decotourism memiliki akun instagram: @decotourism.id, fanpage Facebook: Detusoko Eco Tourism, juga website (www.decotourism.com),” tutur Project development officer Decotourism, Khoirun Nisa Sri Mumpuni.

“Kami juga akan melakukan school visit, eksplorasi pariwisata, pembentukan destinasi paket dan merevitalisasi fasilitas wisata untuk mendukung kegiatan agrowisata. Diharapkan, agar melalui project program Decotourism Flores ini dapat menumbuhkan gairah ramah wisata masyarakat dan perluasan networking hingga mencapai segmen pasar wisata berkelanjutan (sustainable tourism),” tambahnya.

Sementara, Nando Watu, selaku Founder RMC Detusoko mengungkapkan bahwa program ini sebagai sebuah upaya menerjemahkan konsep pembangunan Global (Sustainable Development Goals) juga mengajak masyarakat baik anak-anak, remaja dan kaum muda terhadap gerakan literasi lewat konten ‘Decotourism news.’

Baca juga: Pada 2017, Wisata Komodo Raup Pendapatan Sebesar Rp 29,1 Miliar

Menurutnya, wisatawan butuh informasi secara online karena mudah, cepat sehingga tercatat 60% wisatawan mengenal wisata Flores melalui internet dan media online.

“Salah satu poin penting dari konsep pembangunan global yakni partnership for the goals, juga sebuah gebrakan di tingkat lokal dalam payung Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan kegiatan Decotourism ini, kolaborasi RMC Detusoko dengan Pemuda Asean melalui YSEALI merupakan salah satu model implementasi dari Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 14 tentang Pedomaan Destinasi Pariwisata Berkelanjutan guna meningkatkan ekonomi masyarakat lokal,” ungkap Nando.

Dengan banyaknya potensi pariwisata tersebut, mantan STFK Ledalero ini mengharapkan, agar ke depannya, Flores menjadi prioritas pembangunan pariwisata berkelanjutan.

“Taman Nasional Kelimutu dan Detusoko sangat strategis untuk mendorong pembangunan ke depan. Karena itu, RMC Detusoko sebagai komunitas kawula muda mengharapkan dukungan dan kerjasama dari berbagai stakehoder guna menyiapkan SDM masyarakat di tingkat lokal sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyrakat melalui aktivitas kepariwisataan,” pungkas Nando.

“Karena karakter daerah Detusoko sebagai daerah pertanian, maka sangat cocok mengembangkan masyarakat lokal dalam payung agrowisata sesuai dengan amanah RIPARDA Kabupaten Ende yang menjadikan Detusoko sebagai bagian dari cluster pembangunan pariwisata berbasis pertanian,” tutupnya.

Adapun kegiatan ini mendapat apresiasi dan dukungan dari berbagai kalangan di antaranya Kepala Desa Detusoko Barat, Ambrosius R. Rawi, Ketua Kelompok Tani Bungalomu Detusoko, Mikhael Minggus Dillak yang menjadi pilot project kegiatan Decotourism, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara region Flores-Lembata, Phlipus Kami,  dan segenap masyarakat serta pegiat dan pelaku wisata di Kabupaten Ende.*(GM/Kontributor Ende).

COMMENTS