Debat Pilgub NTT: Jatuh Cinta Pada Tayangan Pertama

Debat Pilgub NTT: Jatuh Cinta Pada Tayangan Pertama

Perang  sindiran tentang 'gugup dan gagap', 'salah hitung', 'daun kelor' dan 'susu sapi' lantas lebih mendapat tempat ketimbang pembahasan konten yang disajikan para paslon. Ini seolah menjadi bukti, betapa persepsi visual telah membuat orang jatuh cinta dan semakin mencintai pilihannya. (Foto: Debat Perdana Pilgub NTT - Facebook)

EDITORIAL, dawainusa.com Debat perdana Pilgub NTT berhasil digelar di Jakarta. Antusiasme warga terlihat begitu tinggi. Tak hanya menjadi perbincangan di warung kopi, tetapi juga menghangat dalam silang pendapat di dunia maya. Bisa dimaklumi, sebab debat kali ini merupakan ajang pertama keempat pasangan calon (paslon) berdiri sepanggung, unjuk gigi dan beradu ide membangun NTT.

Memang, semenjak ditetapkan KPUD NTT pada Februari lalu, keempat paslon yakni Esthon L Foenay-Christian Rotok (Esthon-Chris), Benny K Harman-Benny A Litelnoni (Harmoni), Marianus Sae-Emilia Nomleni (Marianus-Emi) dan Viktor Bungtilu Laiskodat-Joseph Nae Soi (Victory-Joss) gencar menggelar kampanye ke seluruh pelosok NTT. Antusiasme warga pun sama, tak pernah alpa dalam percakapan di ruang publik.

Sebetulnya, selain untuk menunjukkan kualitas diri para paslon, debat yang dipandu Tina Talisa itu merupakan kesempatan berharga untuk memikat hati rakyat NTT secara keseluruhan, baik yang punya hak pilih maupun yang tidak. Tentu, ini bukan perkara mudah. Dibutuhkan taktik dan strategi yang di-dopping kecerdasan para paslon. Apalagi berhadapan dengan karakteristik pemilih NTT yang beragam.

Baca juga: Mencermati Klaim Viktor Laiskodat Tentang Pesan Ben Mboi

Dalam ruang diskursus publik semacam itu, kualitas para paslon akan diuji. Yang disodorkan bukan lagi pidato massal tanpa titik dan koma, sama seperti saat kampanye, tetapi materi yang dipersiapkan dengan matang. Sejauh mana mereka mampu menjabarkan ide dan gagasan membangun NTT secara logis dan sistematis, meskipun dalam waktu yang sangat singkat?

Pada titik inilah, tanggung jawab publik untuk menilai, seperti apa penampilan para paslon dalam debat bertajuk ‘Pembangunan Ekonomi dan Infrastruktur’ itu.

Mendeteksi Kegugupan

Rupanya, tak semua paslon berhasil menunjukkan kualitas penguasaan panggung dalam ruang perdebatan itu. Kita menemukan ada yang seolah gugup ketika berada di atas podium. Yang paling kentara terekam adalah gestur tubuh ketika berhadapan dengan sorotan kamera. Ada yang berdiri dengan gelisah, tangan terlihat bergetar, menyilangkan tangan dengan angkuh,  dan sejumlah detail kecil lainnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gugup berarti berbuat atau berkata dalam keadaan tidak tenang; gagap; sangat tergesa-gesa; bingung. Kegugupan, sebetulnya merupakan ekspresi kegagalan seseorang mengolah situasi. Efek yang ditimbulkan bisa bermacam-macam. Bisa berupa ketidaktuntasan menyampaikan materi, kehilangan logika dan sistematika berpikir atau ketidakdisplinan menggunakan waktu.

Baca juga: Di Mata Mendikbud, NTT Adalah Borok Pendidikan Indonesia

Hal ini bisa terbaca pada segmen pertama, misalnya. Moderator memberikan kesempatan kepada keempat paslon untuk menjelaskan visi dan misi. Pasangan Esthon-Christ justru tidak mampu menggunakan waktu yang diberikan secara maksimal. Terperangkap dalam pengantar yang berlebihan, pasangan nomor urut satu ini pun gagal menyampaikan visi dan misi secara utuh.

Kegagalan menyampaikan visi dan misi dalam sebuah perdebatan memang sangat memilukan. Apalagi yang menyaksikannya bukan hanya rakyat NTT, tetapi ditayangkan secara live ke seantero nusantara, bahkan ke seluruh penjuru dunia lewat streaming media sosial. Visi dan misi Esthon-Christ tidak tersampaikan dengan tuntas. Padahal, visi dan misi merupakan bagian penting yang harus diketahui publik, seperti apa NTT lima tahun mendatang jika keduanya ‘direstui’ memimpin NTT.

Pada Selasa (3/4) lalu, di Kupang, kedua pasangan ini memang mengaku tidak membutuhkan persiapan khusus untuk menghadapi debat perdana Pilgub NTT. Mereka mengklaim, semua persoalan NTT yang akan dibahas dalam debat sudah cukup dikuasai. Pada posisi inilah, publik NTT semestinya bisa memaklumi jika keduanya gagal menyampaikan visi dan misi di segmen pertama karena ketidaksiapan.

Lain lagi yang terjadi di pasangan  Victory-Joss. Selama dua menit waktu yang diberikan, Viktor Laiskodat yang menjadi juru bicara visi-misi pasangan itu, sama sekali tidak menjelaskan secara jelas, runut dan runtut, apa visi dan misi mereka untuk membangun NTT lima tahun mendatang. Penjelasannya justru melompat pada penjelasan program kerja.

Kita menemukan ketidaksistematisan berpikir dari paslon nomor empat ini dalam menjawab dan menjabarkan pertanyaan. Padahal, pertanyaannya sangat mudah dan sederhana: apa visi dan misi pasangan Victory-Joss. Tentu, ketidakmampuan Viktor Laiskodat menjabarkan visi dan misi secara sistematis bisa dibaca dalam konteks ketidaksiapan dan rendahnya penguasaan materi. Atau, bisa juga dibaca dalam konteks ketidaksanggupannya memainkan logika berpikir yang sistematis.

Padahal, beberapa waktu lalu, sekretaris umum tim pemenangan Victory-Joss, Honing Sani, secara tegas mengatakan bahwa pasangan nomor empat tersebut telah melakukan persiapan dengan mengumpulkan sejumlah pakar. Artinya, dengan bantuan para pakar, bobot pembicaraan dan logika berpikir Viktor Laikodat setidaknya ‘bisa’ lebih baik. Namun itu tidak ditampilkan Viktor pada tayangan perdana debat pilgub NTT.

Meski demikian, ada juga paslon yang sangat memahami pertanyaan. Secara obyektif, kita bisa temukan itu pada paslon nomor tiga yakni Benny K. Haraman dan Benny Litelnoni serta ‘wakil’ paslon nomor dua, Emi Nomleni. Dalam waktu dua menit yang diberikan, keduanya mampu menjabarkan secara sistematis visi dan misi. Kemampuan mereka untuk menjelaskan dengan tepat waktu merupakan representasi kesiapan keduanya, sebelum tampil pada tayangan pertama debat pilgub NTT.

Benny K. Harman, dengan tampilannya yang begitu rileks dan santai, sangat sistematis menjabarkan visi dan misi yang diusung paket Harmoni. Ia tuntas menjelaskannya dalam waktu dua menit. Ia paham pertanyaan. Penjelasannya pun tidak melebar kemana-mana. Meski sangat akrab di layar kaca dan terbiasa dengan debat di parlemen, Benny K. Harman tetap mengakui bahwa dirinya banyak belajar dan mempersiapkan diri semaksimal mungkin sebelum debat perdana diselenggarakan.

Emi Nomleni pun demikian. Diawali dengan beberapa pengantar, ia secara tegas menjelaskan ke publik visi dan misi Marianus-Emi, meski tanpa kehadiran Marianus Sae, sang calon gubernur. Emi tampil cukup memukau. Persis dengan statemen yang disampaikannya sebelum debat, bahwa pendalaman visi dan misi akan menjadi prioritas persiapannya jelang tayangan perdana debat pilgub NTT.

Lantas, kepada siapakah Anda jatuh cinta?

Jatuh Cinta Pada Tayangan Pertama

KPU, dalam debat pertama yang ditayangkan itu, untuk pertamakalinya menghadirkan kepada segenap masyarakat NTT: inilah tampilan dan ‘isi’ keempat paslon yang akan dipilih masyarakat NTT, silahkan menentukan pilihan. Tentu ada yang jatuh cinta saat pandangan (baca: tayangan) pertama itu, mengingat tidak semua warga NTT pernah mengikuti kampanye dan menyaksikan para paslon memaparkan ‘apa jadinya NTT’ jika mereka terpilih sebagai nakhoda.

Memang, tidak semua orang meyakini ‘cinta pada pandangan pertama’ itu sungguh nyata. Nasihat para tetua, pun filsuf kelas dunia semisal Bertrand Russel sejak lama telah mewanti-wanti hal itu: Anda perlu mengenali secara langsung sebelum mencintainya, “knowledge by acquaintance”. Namun, dalam konteks pilgub, dengan keterbatasan waktu dan kesempatan yang dimiliki masyarakat NTT untuk mengenal masing-masing paslon, tayangan debat perdana itu adalah kesempatan untuk menentukan atau memantapkan pilihan hati.

Baca juga: Pernyataan Mendikbud, Kado Hitam Jelang Ultah NTT

Persis di sinilah tayangan debat pertama harusnya menjadi kesempatan bagi setiap pasangan calon untuk membuat pemilih yang belum menentukan suara agar bisa ‘jatuh cinta’. Para paslon seharusnya bisa mengoptimalkan apa yang ditegaskan oleh Linda Blair, seorang psikolog asal Amerika, tentang faktor yang bisa membuat seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama, yakni persepsi visual. Di layar kaca, penguasaan panggung, penguasaan materi, dan kemampuan para paslon untuk memanfaatkan waktu adalah tiga faktor kunci yang akan membentuk persepsi visual masyarakat NTT.

Memang, masyarakat NTT tidak sedang memilih ‘aktor’ yang baik, yang bisa tampil di layar kaca dengan sempurna. Tetapi, masyarakat juga tentu akan enggan memilih calon gubernur dan wakil gubernur yang gagap di panggung, tidak menguasai materi, dan tidak dapat  memanfaatkan waktu dengan baik. Pada tayangan pertama, kegagalan untuk bisa unggul dalam ketiga faktor itu sekaligus juga kegagalan dalam menyampaikan secara utuh dan persis, seperti apa NTT lima tahun mendatang jika mereka dipilih sebagai gubernur dan wakil gubernur.

Tidak heran, pokok bahasan yang menjadi viral diperbincangkan masyarakat NTT di media sosial pasca debat bukan menyangkut apa yang menjadi substansi debat, visi dan misi lima tahun ke depan khususnya di bidang ekonomi dan infrastruktur, namun lebih pada persepsi visual atas ‘penampilan’ para paslon.

Perang  sindiran tentang ‘gugup dan gagap’, ‘salah hitung’, ‘daun kelor’ dan ‘susu sapi’ lantas lebih mendapat tempat ketimbang pembahasan konten yang disajikan para paslon. Ini seolah menjadi bukti, betapa persepsi visual telah membuat orang jatuh cinta dan semakin mencintai pilihannya.

Berangkat dari itu, tentunya kita berharap bahwa pada tayangan debat kedua nanti, masing-masing paslon lebih baik lagi saat tampil menyajikan materi. Evaluasi, kesiapan, dan penguasaan diri lantas menjadi kata kunci pada tayangan debat berikutnya jika ingin memikat hati masyarakat NTT. Namun, jangan menyesal jika ada yang sudah terlanjur jatuh cinta pada tayangan pertama atau berpindah ke lain paslon gara-gara ketidaksiapan atau ketidakmampuan mengolah panggung.*

Salam Redaksi !!!

COMMENTS