Debat Perdana: Jawaban Para Paslon Soal Infrastruktur Jalan di NTT

Debat Perdana: Jawaban Para Paslon Soal Infrastruktur Jalan di NTT

Jawaban paslon Victor-Jos terkait infrastruktur jalan dibantah oleh pasangan  Benny Kabur Harman-Benny Litelnoni. Melalui juru bicara paslon Benny K. Harman, program yang ditawarkan oleh paslon Victor-Jos tersebut dinilai sama sekali tidak masuk akal. (Foto: Para paslon debat perdanan Pilgub NTT - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Debat perdana Pilgub NTT baru saja digelar pada Kamis (5/4) malam. Acara debat tersebut disiarkan langsung melalui stasiun televisi swasta iNews dan dipandu oleh moderator Tina Talisa. Tema yang diangkat adalah ‘Pembangunan Ekonomi dan Infrastruktur’.

Ketika membahas tema tersebut, setiap pasangan calon, yakni Esthon L Foenay-Christian Rotok (Esthon-Chris), Benny K Harman-Benny A Litelnoni (Harmoni), Marianus Sae-Emmilia Nomleni (Marianus-Emi) dan Viktor Bungtilu Laiskodat-Joseph Nae Soi (Victory-Joss) masing-masing diminta memberikan solusi ketika ‘direstui’ oleh masyarakat NTT memimpin daerah kepulauan itu selama lima tahun kedepan.

Untuk diketahui, panelis debat yang dibagi dalam empat segmen itu ialah Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang, Prof Frederick L Benu, dosen dari Universitas Kristen Artha Wacana Kupang Fritz O Fanggidae dan Kadin NTT Theodorus Widodo.

Baca juga: Debat Pilgub NTT: Jatuh Cinta Pada Tayangan Pertama

Segmen pertama, pemaparan visi-misi paslon. Segmen kedua, menjawab pertanyaan yang disusun oleh para panelis. Segmen ketiga, para paslon mendapatkan pertanyaan undian dari panelis yang dibacakan oleh moderator untuk dijawab oleh masing-masing paslon dan kemudian ditanggapi oleh paslon lain.

Adapun dalam segmen ketiga, pasangan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Joseph Nae Soi (Victor-Jos) mendapatkan pertanyaan tentang cara mengatasi ketimpangan anggaran antara pembangunan infrastruktur jalan secara khusus bagi jalan provinsi. Pertanyaan tersebut dibacakan oleh moderator Tina Talisa.

Rasionalisasi Anggaran

Menjawab pertanyaan tersebut, Victor Laiskodat mengatakan, pasangannya akan melakukan rasionalisasi anggaran, yakni dengan membangun kerja sama antara pemerintah dengan badan usaha. Mereka menerangkan, pasangannya akan memaksimalkan pemakaian APBN untuk pembangunan infrastruktur dan ditargetkan akan selesai dalam waktu tiga tahun.

“Untuk mengatasinya, tidak hanya dari APBD saja. Rasionalisasi anggaran, kerja sama pemerintah dan badan usaha harus jadi perhatian. APBD harus prioritaskan pembangunan infrastruktur. Pemerintah harus bekerja sama dengan badan usaha. Dalam waktu 3 tahun kami akan bereskan permasalahan ini,” kata juru bicara paslon Victor-Jos, Josep Nae Soi.

Baca juga: Tema Debat Perdana Pilgub NTT dan Persiapan Para Paslon

Jawaban paslon Victor-Jos tersebut kemudian dibantah oleh pasangan  Benny Kabur Harman-Benny Litelnoni. Melalui juru bicara paslon Benny K. Harman (BKH), program yang ditawarkan oleh paslon Victor-Jos tersebut dinilai sama sekali tidak masuk akal.

Pasalnya, dengan keadaan anggaran daerah seperti sekarang, rencana pembangunan jalan yang ditargetkan akan dapat diselesaikan dalam waktu tiga tahun tersebut tidak mungkin bisa terwujud.

“Saya rasa tidak masuk akal karena bangun jalan itu tidak gampang. Jalan provinsi di NTT ini adalah 2.472 km, jalan yang rusak sekitar 1.400-an km. Bangun jalan 1 km itu bisa menelan biaya hingga Rp 1 miliar. Kalau kalikan 1 km 3 miliar berarti berapa biaya yang harus dihabiskan jika harus memperbaiki jalan sekitar 1.400 km?” tegas BKH.

Menurut Benny K. Harman, solusi yang tepat untuk mengatasi persoalan infrastruktur jalan tersebut ialah dengan mengajukan pinjaman. Sebab, jelas BKH, tidak mungkin APBD hanya dipakai untuk membangun jalan tanpa memerhatikan aspek lain yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Fokus Menata Kembali Jalan Provinsi

Berbeda dengan kedua pasangan calon tersebut, untuk mengatasi persoalan infrastruktur jalan, pasangan calon Esthon-Christ berencana akan fokus pada penataan kembali jalan provinsi. Rotok sebagai juru bicara paslon mengatakan, mereka berencana bahwa sebagian dari APBD akan dipakai untuk membangun jalan di setiap kabupaten.

“Kami gunakan Rp 500 miliar dari APBD untuk pembangunan jalan di 22 kabupaten. Setiap kabupaten akan mendapatkan 22 miliar untuk pembangunan jalan tersebut,” jelas Rotok.

Baca juga: Pengamat Politik: Flores Jadi Penentu Utama Pilgub NTT

Sementara itu, paslon Marianus Sae-Emilia Noemleni mengemukakan pandangan yang berbeda. Juru bicara paslon Emilia Noemleni mengatakan, untuk persoalan infrastruktur jalan di NTT, tidak perlu semua jalan harus diaspal.

Noemleni menerangkan, yang paling penting untuk dilakukan ialah soal kualitas jalan tersebut apakah sesuai dengan standar rata-rata percepatan atau tidak. Ia menegaskan, pembangunan jalan akan dan harus dilakukan dengan mempertimbangkan sumber-sumber produktif.

“Bicara soal jalan bukan hanya sekedar dia harus diaspal. Tetapi, yang paling utama ialah bagaimana kita memenuhi standar-standar rata-rata percepatan 30-40 km/jam sehingga yang kita bangun ini bukan hanya sekedar kita membangun seluruh jalan provinsi untuk menjadi aspal,” jelas Noemleni.

“Tetapi, yang paling utama bagaimana jalan-jalan itu kita melihat dari sumber-sumber ekonomi produktif. Sehingga mungkin saja tidak semua jalan harus diselesaikan dalam tempo yang singkat, tetapi kita melihat fungsinya adalah ketika dia menjadi penghubung dari setra produktif,” lanjut Noemleni.*

COMMENTS