Debat Kedua Pilgub NTT: Saling Memuji, Bukannya Menguji

Debat Kedua Pilgub NTT: Saling Memuji, Bukannya Menguji

Debat kedua Pilgub NTT seharusnya menjadi ajang adu argumentasi untuk membedah persoalan secara komprehensif serta mengkritisi argumentasi lawan dengan dalil yang masuk akal; saling menguji bukannya saling memuji. (Foto: Pintu masuk ruang debat Pilgub NTT - dawainusa.com)

EDITORIAL, dawainusa.com Debat kedua Pemilihan Gubernur NTT yang berlangsung di Jakarta, Selasa (8/5), cukup menyedot perhatian publik. Setelah beberapa waktu lalu, publik NTT mengikuti debat pertama yang terkesan tidak menggigit, kerinduan untuk menyaksikan perdebatan yang tajam di debat kedua, tentu semakin tinggi.

Namun sayangnya, kerinduan publik untuk menyaksikan debat yang berkualitas belum bisa terjawab. Kegugupan beberapa pasangan calon (paslon) yang pernah terekam dalam debat pertama, kembali dihadirkan dalam debat kedua kali ini. Alur debat pun terkesan mengambang dan tidak menggigit.

Pada sesi pertama terkait penjabaran visi dan misi dalam konteks penataan birokrasi dan korupsi, misalnya. Kegugupan yang sama pada debat pertama kembali terdeteksi ketika Paslon Esthon-Christ menyampaikan visi dan misi. Esthon, yang ditugaskan untuk menjabarkan visi dan misi paslon, terjebak dalam pengantar yang melebar tanpa fokus pada visi dan misi sesuai yang ditanyakan.

Baca juga: Debat Pilgub NTT: Jatuh Cinta Pada Tayangan Pertama

Tak beda jauh dengan pemaparan visi dan misi pada debat pertama, ia  terlihat gugup dan terkesan kehilangan ide. Hal itu berdampak pada ketidakmampuannya untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bagaimana mungkin kandidat yang selalu tampil gugup dan tidak percaya diri ketika berbicara di depan publik, bisa mengangkat NTT ke arah yang lebih baik? Bagaimana mungkin kandidat yang tata bahasa Indonesianya sangat memprihatinkan bisa dipercaya untuk memimpin NTT lima tahun ke depan?

Memang kehadiran Christ Rotok sedikit membantu sekaligus menyelamatkan ekspresi kegugupan dan ketidakmampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar yang ditampilkan Esthon. Tetapi, semuanya akan tetap terekam dalam memori publik, bahwa keduanya masih belum siap untuk bertarung di arena debat.

Hal yang hampir sama bisa ditemukan pada Emi Nomleni yang berpasangan dengan Marianus Sae. Meskipun di awal Emi membeberkan poin-poin penting dalam upaya penataan birokrasi dan korupsi, Emi tetap gagal menjelaskan secara lebih terarah visi dan misi pasangannya pada debat kedua pilgub NTT kali ini.

Sulit dibedakan antara menjabarkan visi dan misi atau sedang berpidato politik saat kampanye di pasar. Apalagi, dirinya menghabiskan cukup banyak waktu hanya untuk mengucapkan selamat kepada Marianus Sae dan meminta pendukung untuk tetap berjuang bersama marhaen. Tentu, pernyataan Emi sudah lari jauh dari pertanyaan moderator soal visi dan misi. Sesi penjabaran visi dan misi telah dipakai untuk menguatkan Marianus Sae yang sedang dalam tahanan KPK, serentak memantik emosi publik agar tetap bertahan dalam pilihannya.

Kita akhirnya menemukan penjabaran yang terukur dan sistematis dari Paslon Harmoni. Benny K Harman yang mewakili paslon nomor 3 tersebut berhasil menjelaskan secara baik visi dan misi paslon sesuai dengan maksud pertanyaan. Ia tidak terjebak dalam pengantar awal yang bertele-tele dan membias, apalagi berpidato menarik dukungan massa.

Benny paham betul maksud pertanyaan moderator. Karena itu ia langsung memulai dengan mengucapkan visi paslon dengan empat kata kunci: bersih, profesional, akuntabel dan transparan. Keempat kata kunci tersebut menjadi acuan utama agar NTT bisa maju, khususnya dalam penataan birokrasi dan korupsi.

Setelah dengan sangat jelas menyebutkan visi, Benny K Harman menjabarkan secara sistematis strategi yang tertuang dalam lima misi pokok untuk mencapai visi tersebut. Bahkan ia secara detail menjelaskan misi tersebut demi mencapai empat kata kunci utama seperti yang tertuang di dalam visi paslon. Kita pun secara obyektif menilai, bahwa tak ada kegugupan yang terbaca ketika dirinya menjabarkan visi dan misi. Cara berpikirnya pun sangat runtun dan sistematis.

Rupanya, tak ada yang berbeda dari debat sebelumnya, paslon nomor urut tiga ini tetap konsisten dan terukur dalam menjawab pertanyaan moderator. Tentu, kesanggupan Paslon Harmoni untuk menjawab pertanyaaan secara jelas dan sistematis hendak menegaskan sejauh mana kesiapan keduanya dalam mengikuti debat. Mereka tidak terjebak dalam pidato yang nir-makna.

Apa yang diucapkan secara terukur dan sistematis oleh Paslon Harmoni sangat berbeda jauh dengan penjelasan Paslon Viktory-Jos pada debat kedua Pilgub NTT ini. Melalui Yoseph Nai Soi, kedua paslon ini rupanya tidak memahami apa itu visi dan apa itu misi.

Mari kita perhatikan baik-baik jawaban Nai Soi. Nai Soi menyebut misi paslon nomor empat itu yakni: “Mewujudkan reformasi birokrasi dan peningkatan pelayanan berkualitas untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat NTT”. Pertanyaannya adalah, apakah yang disampaikan Nai Soi adalah misi atau visi paslon?

Menurut KBBI, visi adalah kemampuan untuk melihat pada inti persoalan, pandangan atau wawasan ke depan, gambaran atau tujuan untuk melihat ke depan. Sedangkan misi adalah cara untuk mencapai tujuan tersebut.

Mewujudkan reformasi birokrasi sebagaimana yang diucapkan Nai Soi adalah gambaran dan tujuan tentang masa depan (visi). Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan langkah-langkah strategis yang nantinya tertuang di dalam misi. Kalau Nai Soi menyebutkan reformasi birokrasi dan peningkatan pelayanan berkualitas sebagai misi, lantas dimanakah letak perbedaan dengan visi paslon?

Ataukah Nai Soi hendak menjabarkan strategi mencapai misi tersebut dalam visi paslon? Harus jujur dikatakan, Nai Soi tidak paham pertanyaan. Ia tidak bisa membedakan mana visi dan mana misi. Jika hal yang menjadi dasar untuk mereka berjuang tidak dimengerti dan dipahami, bagaimana mungkin kita bisa percayakan keduanya untuk memimpin NTT?

Ruang Debat: Harusnya Saling Menguji, Bukannya Memuji

Pada sesi keempat, kita mendeteksi sebuah irama percakapan yang sangat memalukan. Tak ada perkelahian ide di sana. Diskursus berbobot yang semestinya diedarkan dalam ruang perdebatan, redup tertelan puja-puji.

Mari kita mengingat kembali tanggapan Viktor Laiskodat setelah Esthon menjawab pertanyaan paslon nomor empat. “Saya pikir Pak Esthon itu birokrat sejati. Pertanyaan ini saya pikir susah dijawab padahal luar biasa jawabannya. Karena itu respek untuk pasangan nomor satu”.

Mari kita cek jawaban Esthon atas pertanyaan Paslon nomor 4 yakni: Strategi apa yang digunakan dalam rangka sinergisitas program antara pemerintah pusat, pemerintah kabupaten dan kota guna mewujudkan visi dan misi Anda?

Esthon membeberkan tiga poin. Namun, mari kita fokus di poin pertama. “Koordinasi antar-instansi vertikal dan horisontal untuk memastikan terhadap upaya-upaya yang secara sinergitas baik dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.

Baca juga: Catatan Bawaslu Soal Debat Perdana Pilgub NTT di Jakarta

Butuh nalar kritis untuk menggeledah maksud jawaban Esthon. Seolah ada yang terpotong di sana, tersembunyi dalam ungkapan yang tersurat.  Apakah benar Viktor Bungtilu mengerti dengan poin pertama yang dijawab Esthon? “untuk memastikan terhadap upaya-upaya yang secara sinergisitas baik dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten kota”. Apa maksud  jawaban ini?

Mungkinkah Viktor sengaja untuk tidak menanggapi, ataukah Viktor sendiri kehilangan daya kritis untuk menguji penjelasan Esthon? Boleh diduga, tanggapan Viktor yang memuji jawaban Esthon, yang terkesan mengambang itu, merupakan representasi ketidakmampuan Viktor dalam menajamkan daya kritis di ruang diskursus publik.

Hal yang tak kalah menarik adalah tanggapan balik paslon 1 usai diberi pujian oleh paslon 4. “Terimakasih banyak. Kami juga menyampaikan apresiasi kepada paslon nomor 4, terutama calon gubernurnya. Saya mohon maaf kalau saya harus ungkap di forum yang bisa ditonton oleh seluruh Indonesia. Tapi kalau saya sedikit mau masuk ke dalam budaya lokal itu karena situasi yang baru terjadi. Saya melihat calon gubernur dari Paslon 4 tidak akan mau berlawanan dengan ‘tonya’. Dan, paslon-paslon seperti ini akan diberkati Tuhan.”

Christ Rotok tidak mampu menggunakan akal sehatnya sebagai basis percakapan publik. Ia kemudian terjebak dalam narasi kultural, kedekatan personal dan hubungan kekerabatan antara Esthon dan Viktor Laiskodat. Padahal, dalam debat semacam itu, hal-hal yang berbau suku dan ras tidak boleh diucapkan.

Apalagi, dalam debat kedua Pilgub NTT ini, Chritian Rotok menyelundupkan khotbah teologis dengan memohon berkat Tuhan bagi paslon nomor empat. Tidak berlebihan jika muncul anggapan bahwa Christ Rotok dan Viktor Laiskodat telah menelanjangi forum perdebatan ilmiah pilgub NTT kali ini.

Debat sesungguhnya merupakan ajang adu argumentasi. Yang dibutuhkan di sana adalah daya kritis untuk membedah persoalan secara komprehensif, mengkritisi argumentasi lawan dengan dalil yang masuk akal. Debat bukan ajang saling memuji, apalagi menyeret kedekatan personal dan keluarga.

Tentu, dengan tampilan debat yang sangat memilukan ini, ditambah pula anggaran besar yang digelontorkan, menjadi catatan serius masyarakat NTT untuk memilih calon pemimpin nantinya. Mereka tidak menunjukkan kualitasnya sebagai calon pemimpin, bagaimana bisa calon seperti ini bisa diharapkan membawa NTT bersaing dengan daerah lain kalau habis untuk memuji, tanpa mempelajari, menguji dan berusaha mengungguli yang lain?

Rakyat harusnya melihat, siapa sebenarnya menyia-nyiakan anggaran besar dan kesempatan yang diberikan rakyat untuk membuktikan kapasitas dirinya sebagai pemimpin. Semoga hal ini menjadi catatan penting yang sepatutnya diperhatikan masing-masing paslon pada debat ketiga nanti.*

Salam redaksi!!

COMMENTS