Cerita Tsamara Amany di Balik Susahnya Mencari Jodoh

Cerita Tsamara Amany di Balik Susahnya Mencari Jodoh

Tsamara sendiri pernah menikah tapi perjalanan keluarganya kandas. Kabar status pernikahan ini sempat menjadi perhatian publik karena politisi muda yang tengah naik daun itu dianggap menyembunyikan status pernikahannya. (Foto:Tsamara Amany - detik.com)

JAKARTA, dawainusa.com Tsamara Amany Alatas, Politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ternyata punya cerita soal susahnya mencari jodoh dari sesama Hadhrami (keturunan Arab). Tsamara menceritakan pengalamnnya itu dalam Talkshow Festival Hadhrami di kampus UI, Kamis (26/8).

Menurutya, level pendidikan yang cukup tidak menjamin laki-laki untuk terbuka dan mampu melepaskan diri dari cara berpikir patriarkis. Justru menurutnya, konservatisme pemikiran itu semakin kental ketika soal perempuan kembali diangkat.

“Pintar ini tidak menjamin terbuka pada perempuan. Saya melihat banyak sekali lelaki keturunan arab pandangan keagamaan dan politiknya keren ini. Tetapi kalau bicara perempuan menjadi konservatif lagi,” kata Tsamara.

Baca juga: Kritik ke Megawati dan Pengakuan Tsamara Amany

Dalam pengalamnnya saat mulai terjun ke politik, Tsamara mengaku pernah mendengar pergunjingan soal dirinya. Seorang teman laki-laki sesama keturunan Hadhrami yang juga dikenalnya membicarakan seperti apa kelak hubungan Tsamara dengan suami. Jawaban Tsamara membuatnya kaget.

“Kalau menikah mungkin suaminya diajak debat,” ujar Tsamara menirukan pergunjingan yang terjadi.

Ia mengaku, cara berpikir konservatif seperti ini tak hanya dijumpainya sekali. Hal itulah yang memepertegas bahwa sebagian lelaki keturunan Hadhrami masih konservatif. Mereka menganggap jika ada perempuan yang berpikir maju maka akan mengganggu kedudukan mereka di rumah tangga.

“Jadi kalau mencari jodoh itu dibuat lingkaran, pendidikan yang sama maka peluangnya semakin kecil. Nah, ketika soal mau menerima aktivitas kita maka akan mengecil lagi, jadi tambah sedikit,” terangnya.

Tak menutup Diri Jika Menikah dengan Komunitas Lainnya

Menurutnya, problem patriarki ini sebenarnya tak hanya di kalangan Hadhrami saja. Etnis lain-pun juga memiliki masalah yang sama. Tsamara sendiri tak menutup diri jika menikah dengan komunitas lainnya.

Tsamara sendiri pernah menikah tapi perjalanan keluarganya kandas. Kabar status pernikahan ini sempat menjadi perhatian publik karena politisi muda yang tengah naik daun itu dianggap menyembunyikan status pernikahannya.

Baca juga: Intip Kemesraan Azizah Maumere Bersama Sang Pacar

Direktur Keuangan PT Bukaka Teknik Utama, Sofia Balfas, mengakui masalah yang sama. Ia sudah bertekad untuk membangun rumah tangga dengan sesama Handhrami. Ia sempat kesusahan mencari jodoh tapi tekad ini kesampaian dan keluarganya dikelola dengan cara tradisional.

Sedangkan perempuan keturunan Hadhrami lain, Rayya Makarim, tak mau ambil pusing dengan jodoh dan pernikahan. Penulis naskah film Pasir Berbisik dan Jermal ini dididik oleh keluarga Hadhrami yang terbuka. Ia lahir di Amerika Serikat, sempat mengenyam pendidikan di Indonesia dan Australia.

“Perkawinan itu bikin pusing,” ujarnya.

Dominasi Patriarki

‘Patriarki’ merupakan konsep strategis yang kerap disebut dalam teori feminisme. Ia juga merupakan jantung dari nomenklatur filsafat feminisme. Sylvia Walby telah lama menjadi tokoh utama dalam teorisasi feminisme dalam perspektif materialisme.

Dalam bukunya yang paling berpengaruh Theorizing Patriarchy (Wiley-Blackwell, 1990), Walby menarasikan kondisi ketaksetaraan selama empat dekade terakhir dan masih aktual sampai dengan sekarang.

Baca juga: Politisi PPP Ditemukan Tewas Telanjang di Tempat Waria

Walby mendeskripsikan bagaimana patriarki berubah dan mengalami evolusi serta migrasinya, dari rumah (private) menuju luar rumah (public). Secara bertahap, bagaimanapun, perempuan mendapatkan akses yang lebih besar ke ruang publik; terutama peluang mereka untuk pekerjaan meningkat, tetapi sistem kapitalisme tetap menjadikan mereka sebagai sapi-perah.

Walby juga menunjukkan bahwa dalam masyarakat kontemporer berbagai kelompok perempuan dapat dimanfaatkan oleh berbagai kombinasi kebijakan publik yang buta-gender dan kepentingan rumah keluarga kaya.

Dalam karyanya History Matters, Judith Bennett menuliskan bahwa patriarki merupakan problem utama dalam sejarah perempuan dan bahkan merupakan problem terbesar dalam sejarah manusia.

Ia menarasikan bagaimana sesungguhnya, meskipun telah banyak perjuangan kesetaraan, tetapi patriarki masih tumbuh besar, segar, pesat dan subur sebagai anakronisme baru abad ini.*

COMMENTS