Cerita Saksi Mata Soal Ledakan Bom di Gereja Surabaya

Cerita Saksi Mata Soal Ledakan Bom di Gereja Surabaya

Sebelum ledakan bom terjadi, ada tiga perempuan bercadar berjalan cepat ke arah Gereja (Foto: Ilustrasi Ledakan Bom - Tribunnews).

SURABAYA, dawainusa.com – Ledakan bom kembali terjadi di tiga Gereja di Surabaya, Minggu (13/5) pagi. Gereja yang terkena ledakan bom tersebut ialah Gereja Pentekosta Jalan Athena, Gereja GKI di Jalan Diponegoro, dan Gereja Santa Maria Tak Bercela.

Berdasarkan keterangan juru parkir di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro Mulyanto, sebelum ledakan bom terjadi, ia melihat tiga perempuan bercadar dan berompi berjalan cepat ke arah Gereja. Ia menjelaskan, ketiga orang tersebut terdiri dari satu orang dewasa dan dua orang anak-anak. Mereka berbelok masuk tepat di depan Gereja.

“Kira-kira pukul 08.15 WIB. Jemaat sudah pada datang, tapi sembayang belum dimulai,” jelas Mulyanto di lokasi kejadian.

Baca juga: 358 Orang Tewas Akibat Ledakan Bom Truk di Somalia

Melihat ketiga orang bercadar tersebut, lanjut Mulyanto, seorang satpam sempat menghalangi mereka agar tidak sampai masuk ke dalam Gereja. Ia sendiri juga hampir menyusul masuk untuk membantu satpam itu menghalangi ketiga orang tersebut.

Akan tetapi, ketika hendak membantu, suara ledakan tiba-tiba terdengar dari arah mereka. Satpam tersebut, jelas dia, terlihat tergeletak minta tolong dengan badan penuh luka. Selain satpam dan ketiga orang tersebut, Mulyanto juga melihat seorang jemaah di sekitar lokasi mengalami luka di bagian kaki akibat ledakan itu.

Ledakan kedua, jelas Mulyanto, kemudian menyusul setelah 5 menit ledakan pertama berlangsung. Suara ledakan kedua itu, jelas Mulyanto, tidak begitu keras seperti sebelumnya.

Sementara itu, Mulyanto mengatakan, polisi baru datang ke lokasi sekitar 30 menit pasca ledakan dan kemudian mensterilkan lokasi kejadian dengan radius puluhan meter.

Adapun dari informasi terkini, sudah ada 9 orang meninggal dunia dan 40 orang luka-luka dalam ledakan tersebut. Semua korban sudah dilarikan ke RSUD Dr Soetomo.

Jangan Sebarkan Gambar atau Video Ledakan Bom

Menanggapi peristiwa tersebut, dari Jakarta, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal (Pol) Muhammad Iqbal meminta kepada masyarakat untuk tidak menyebarkan gambar atau video korban ledakan bom tersebut.

“Gambar-gambar di media sosial (terkait ledakan, stop (menyebarkannya). Jangan sampai (kita) terperangkap tujuan teroris. Tujuan (para teroris membuat) kita ketakutan semua. Tunjukkan kita tidak takut! Jangan jadi bagian pelaku dengan sebarkan (gambar) teror,” kata Iqbal di Jakarta, Minggu (13/5).

Baca juga: Terungkap, Pelaku Teror di Gereja Sta. Lidwina Sempat Ingin ke Suriah

Karena itu, Iqbal meminta kepada semua masyarakat terutama di Surabaya agar tetap tenang. Ia mengatakan, saat ini, seluruh aparat keamanan di Surabaya dan Jawa timur sudah bergerak dalam operasi guna mempersempit gerak para terduga pelaku pengeboman tersebut.

Ia juga mengatakan, pihak kepolisian sendiri telah mencurigai keterlibatan kelompok tertentu dalam aksi pengeboman ini. Saat ini, jelas Iqbal, langkah utama kepolisian ialah mengendepankan faktor pengamanan, lokalisir lokasi, pengalihan lalu lintas, evakuasi korban, dan antisipasi kemungkinan bom lain.

Untuk Kapolri Jendral Pol Tito Karnavian sendiri, jelas Iqbal, ia akan segera berangkat ke lokasi di Surabaya. “Sesegera mungkin. Untuk memotivasi, briefing juga untuk langkah-langkah selanjutnya. Saya mendampingi,” tutur Iqbal.

Terkait Kejadian di Mako Brimob?

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menduga, ledakan bom di Kota Pahlawan itu memiliki kaitannya dengan kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok beberapa hari lalu.

Ia pun mengatakan agar warga Jawa timur tidak boleh takut atas aksi teror tersebut. Soekarwo menegaskan agar semua pihak mesti bersatu melawan aksi terorisme ini.

Baca juga:Ketua GP Ansor: Pelaku Teror di Gereja Sta. Lidwina ‘Gila’ Agama

“Harus kita lakukan, kita tidak takut, kita harus lawan, kita harus lawan dan kita tidak takut,” tutur Soekarwo.

Selain mengatakan demikian, Soekarwo melanjutkan, untuk antisipasi dan keamanan, pihak kepolisian telah melakukan penjagaan dan pengawasan yang ketat. Ia juga meminta kepada semua masyarakat agar secara bersama-sama membantu aparat keamanan dalam hal keamanan ini.

“Kami gerakkan tiga pilar lurah, babinsa, babinkamtibmas, tokoh masyarakat, sekali lagi jangan takut, ini bagian kita melawan terorisme yang merusak dan menghancurkan kehidupan bernegara,” ujar Soekarwo.*

COMMENTS