Cerita Rina Dius, Warga Bangka Ajang yang Dicekik Kadesnya Sendiri

Cerita Rina Dius, Warga Bangka Ajang yang Dicekik Kadesnya Sendiri

Sebelum melakukan aksinya itu, Kades Siti sempat menantang Dius bahwa ia tidak akan takut untuk berperkara dengannya (Foto: Katarina Dius usai diperiksa di Mapolres Manggarai - Elvis/Dawainusa)

RUTENG, dawainusa.com – Nasib kurang beruntung dialami Katarina Dius (Rina Dius), warga Desa Bangka Ajang, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Nenek berusia 62 tahun itu menjadi korban tindakan represif Kepala Desa Bangka Ajang Siti Jaimah (Rabu, 23/5) lantaran ia berusaha untuk mempertahankan lahan miliknya yang akan digusur oleh Pemerintah Desa.

Ketika ditemui Dawai Nusa usai memberi keterangan di Mapolres Manggarai, Dius mengaku, kejadian itu bermula saat dirinya melakukan penghadangan terhadap aktivitas pembukaan jalan baru yang dilakukan di atas lahan miliknya.

Baca juga: Sawah dan Kopi Digusur, Warga Bangka Ajang Datangi DPRD Manggarai

“Saya tidak rela tanah saya digusur lagi oleh Pemerintah Desa Bangka Ajang. Saya hadang di lokasi hari Rabu saat alat sudah di lokasi. Kades datang dan marah-marah lalu cekik saya sebanyak tiga kali,” katanya kepada Dawai Nusa di Ruteng, Jumat (25/05).

Sebelum melakukan aksinya itu, Kades Siti sempat menantang Dius bahwa ia tidak akan takut untuk berperkara dengannya. Bahkan ia juga mengaku berani apabila Dius mendatangkan seorang pembela untuk mengadukan dirinya ke pihak berwewenang.

“Siapa yang dukung kau bawa dia ke sini, siapkan uang 1 karung kalau mau perkara,” kata Dius meniru pernyataan Kadesnya sebelum pencekikan terjadi.

Adapun terkait masalah ini, warga setempat sempat melakukan mediasi di Rumah Gendang Ajang. Akan tetapi, mediasi itu tidak menemukan solusi dan Kades dinilai berkelit.

Akibat tindakan Kades itu, Dius mengalami 3 luka gores di bagian leher. Kejadian ini sendiri telah dilaporkan korban kepada Polisi.

Kasus Rina Dius Masih Terkait Pembukaan Jalan Baru

Seperti diberitakan Dawai Nusa edisi 18 Mei 2018, kasus yang menimpa Rina Dius merupakan lanjutan dari persoalan penggusuran lahan Kopi dan Sawah milik beberapa warga Desa Bangka Ajang untuk membuka jalan baru dari Tasok menuju TRK Ajang.

Proyek pembukaan jalan itu diketahui bersumber dari APBD Manggarai 2017 yang pelaksanaannya diserahkan kepada Pemerintah Desa setempat.

Baca juga: Hoaks di Kota Ruteng, Anggota DPRD Desak Bupati Tindak Tegas Pelaku

Dius dan kedelapan warga lain saat itu sempat mendatangi DPRD Manggarai untuk mempertanyakan masalah itu. Kedatangan mereka sa’at itu didampingi oleh koordinator JPIC SVD Ruteng Pater Simon Suban Tukan.

Selanjutnya, menanggapi keluhan pemilik lahan yang mengaku menjadi korban penggusuran semena-mena dari Pemerintah Desa itu, DPRD Manggarai melakukan pemanggilan terhadap Pemerintah Desa serta Dinas Pekerjaan Umum.

Warga Tidak Konsisten

Atas surat panggilan DPRD Manggarai, Pemerintah Desa Bangka Ajang bersama Camat Rahong Utara dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai menggelar rapat klarifikasi yang dipimpin oleh Simprosa Rianasari Gandut pada 20 Mei 2018.

Dalam dialog yang berlangsung alot itu, Kades Bangka Ajang membantah semua tuduhan warga korban pemilik lahan. Menurut dia, apa yang diadukan oleh warga ke DPRD tersebut sama sekali tidak benar dan tidak konsisten.

“Kami sudah melakukan semua tahapan dengan benar. Mereka yang lahannya digusur untuk pengerjaan jalan hadir saat rapat di Rumah Gendang. Berita acara dan daftar hadir kami pegang,” kata Kades Bangka Ajang melalui sekretarisnya.

Baca juga: Berita Hoaks Soal Terorisme di Ruteng, Polisi: Pelaku Resahkan Warga

Tidak hanya itu, Kepala Desa Bangka Ajang juga saat itu mengaku keberatan untuk meminta maaf kepada warga yang lahannya telah digusur. Sebab, merurut dia, hal itu sudah dilakukannya.

Dalam rapat bersama pada 20 Mei itu, DPRD dan Eksekutif yang diwakili oleh kepala Dinas Pekerjaan Umum Adrianus Empang menyarankan agar pemerintah setempat perlu melakukan mediasi dengan dipimpin langsung oleh camat sebagai kepala wilayah.

Permintaan DPRD dan Dinas PU saat itu diterima oleh Camat Rahong Utara dan Pemerintah Desa Bangka Ajang.
Seminggu berlalu, kabar terkait mediasi Katarina Dius dan warga korban lain tak kunjung terjadi.

“Masalah lahan sawah dan kopi kami yang digusur sebelumnya belum diatasi. Sekarang tiba-tiba ada penggusuran lagi,” tegas Dius.*(EY).

COMMENTS