Cerita Profesor Peter Carey tentang Wajah Pendidikan Indonesia

Cerita Profesor Peter Carey tentang Wajah Pendidikan Indonesia

Suatu negara hanya dapat berkembang pesat jika didukung oleh sistem pendidikan yang bermutu. (Foto: Peter Carey - YouTube).

ENDE, dawainusa.com – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi (Prodi) Pendidikan Sejarah Universitas Flores-Ende mengundang Profesor Emeritus Universitas Oxford Inggris Peter Carey untuk memberikan materi  dan sebuah seminar nasional bertema “Pendidikan Sejarah Berbasis Budaya Menuju Indonesia Berwawasan Ipteks” yang digelar di Aula Abdon Longginus, Mautapaga-Ende, Sabtu (5/5).

Setelah selesai membawakan materi dalam seminar tersebut, pada sore harinya, Dawai Nusa berkesempatan mewawancarai Peter Carey secara langsung. Dalam wawancara tersebut, Peter Carey secara khusus menjelaskan pandangannya tentang persoalan pendidikan di Indonesia saat ini.

Baca juga: Peduli Sejarah Indonesia, Universitas Flores Gelar Seminar Nasional

Adapun Carey sendiri ialah seorang sejarahwan yang sangat menguasai tentang sejarah Indonesia, bahkan ia dapat menguraikan secara detail tentang perjalanan bangsa Indonesia sampai saat ini. Berikut merupakan hasil perbincangan Dawai Nusa dengan dirinya.

Peter Carey soal Wajah Pendidikan Indonesia

Sebagai seorang peneliti sejarah, Peter Carey yakin bahwa suatu negara hanya dapat berkembang pesat jika didukung oleh sistem pendidikan yang bermutu. “Pendidikan adalah kunci, walaupun suatu negara tidak terlalu kaya, bisa melejit,” demikian Carey.

Ia mencontohkan, pada 1949, Indonesia jauh lebih kaya dari Korea Selatan. Akan tetapi, sekarang Korea Selatan justru melampaui Indonesia. Semua itu, jelas Carey, terjadi karena peran pendidikan. Carey mengatakan, wajah pendidikan Indonesia ternyata tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Bagi Carey, Indonesia sangat lemah dalam sistem pendidikan.

Carey juga mencontohkan, 43 tahun lalu Vietnam jauh dalam situasi terpuruk karena perang, tetapi menurut ranking PISA (Program for International Students Assessment), sekarang Vietnam berada di peringkat ke 8 dunia.

Baca juga: Membenahi Sistem Pendidikan Kita

Bahkan, jelas Carey, kalau dibandingkan dengan berbagai sekolah yang berada di pelosok desa di Vietnam, sekolah-sekolah di Indonesia sangat jauh ketinggalan. Ia mengatakan, berdasarkan laporan World Bank, kualitas sekolah-sekolah paling ‘mentereng’ di Jakarta sangat jauh di bawah kualitas sekolah-sekolah di pelosok desa di Vietnam. Kondisi seperti ini, kata Carey, tentu patut disayangkan.

Carey kemudian menerangkan akar persoalan terkait rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia ini. Ia mengatakan, rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia saat ini merupakan dampak langsung dari sistem pendidikan yang diterapkan pada zaman Orde Baru.

Pada zaman Orde Baru, demikian Carey, kebebasan berpikir dan berbendapat masyarakat Indonesia dikekang habis-habisan. Pemerintah Orde Baru, kata Carey, sangat anti terhadap kritik sehingga pendidikan itu sendiri cenderung menghasilkan masyarakat ‘patuh’, miskin kreativitas, serta tidak mampu berpikir mandiri dan inovatif.

Dalam genggaman rezim Orde Baru, terang Carey, segala bentuk kultur kritis diruntuhkan. “Destroy your intelektual life,” demikian Carey. Hal ini pun masih berlanjut sampai sekarang.

Keluar Dari Zona Nyaman

Persoalan seperti itu, demikian Carey, tentu mesti segara diatasi. Ia mengatakan, apabila semua orang ingin serius untuk menata kembali sistem pendidikan Indonesia, dibutuhkan suatu keberanian untuk “keluar dari zona nyaman”. Carey menegaskan, sikap seperti ini tidak hanya berlaku dalam bidang pendidikan, tetapi untuk semua lini kehidupan.

Carey sendiri mengambil contoh, misalnya, di dalam sebuah universitas ada 91 persen dosen berstatus sebagai Pegawai Negri Sipil (PNS). Sistem seperti ini bagi Carey tentu sangat bermasalah karena kemungkinan dosen PNS untuk melakukan suatu penelitian pasti tidak ada.

Dosen PNS sangat sulit untuk mendapatkan izin cuti untuk melakukan suatu penelitan. Padahal, demikian Carey, penelitian merupakan bagian kunci untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan itu sendiri.

Baca juga: Klaim Frans Lebu Raya Soal Kualitas Pendidikan di NTT

Sebagai seorang peneliti, ia mencontohkan dirinya ketika membuat suatu buku. Ia mengatakan, biasanya, untuk menulis sebuah buku, ia mesti menjalankan cuti sebagai dosen untuk melakukan penelitian. Ia diberi waktu 1 tahun tanpa mengajar.

Jadi, jelas Carey, dalam 6 tahun ada 1 tahun bagi dirinya untuk melakukan penelitian dan universitas juga memberikan izin kepada dirinya untuk pergi ke suatu daerah atau negara untuk kepentingan penelitian.

Namun, jelas Carey, dengan sistem dosen PNS, hal seperti itu tentu tidak dapat dilakukan. Tuntutan profesionalisme, demikian Carey, akan kalah dengan kekuatan sistem. “Kita harus bertindak secara profesional, dan ini artinya kita harus tinggalkan zona nyaman,” tegas Carey.

Soal Profesionalisme

Carey menerangkan, tuntutan profesionalisme dalam melakukan sebuah penelitian berarti penelitian tersebut mesti dilakukan sampai memahami obyek yang diteliti secara utuh dan mendalam.

Sebagai sejarahwan misalnya, tidak cukup seorang sejarahwan hanya sekedar mengetahui arsip sejarah, tidak cukup hanya tahu bahasa, juga tidak cukup bagi seorang sejarahwan hanya mengumpul bahan. Seorang sejarahwan, terang Carey, mesti mampu menyemplungkan diri ke dalam pikiran atau situasi obyek yang diteliti.

“Seumpanya dalam penelitian tentang Pangeran Diponegoro, saya harus bisa masuk dalam otak dia dan situasi saat itu. Salah satu pertandanya adalah, jika Diponegoro membuat guyon di abad XVII, apakah kita mampu tertawa di saat ini, jika kita mampu tertawa, maka kita sudah bersentuhan dengan pikiran dan situasi Diponegoro saat. Karena itulah profesionalisme melakukan penelitian selalu sejalan dengan kebutuhan atas waktu,” jelas Carey.

Baca juga: Memajukan Kebudayaan Melalui Kekuatan Pendidikan

Untuk diketahui, Carey sendiri memang pernah melakukan penelitian tentang Pangeran Diponegoro. Hasil penelitiannya itu dituangkan dalam 3 jilid buku dengan judul “Kuasa dan Ramalan”. Untuk menghasilkan buku tersebut, jelas Carey, ia membutuhkan waktu penelitian selama 30 tahun.

“Ini membutuhkan 30 tahun untuk kumpulkan semua data, belajar bahasa Jawa, belajar tentang ‘babat’ (sastra Jawa) dan lain-lain,” terang Carey.

Adapun di akhir perbincangan dengan Dawai Nusa, Peter Carey memberikan masukan tentang pentingnya menghargai sejarahwan sebagai syarat tumbuhnya minat untuk meneliti. Ia mengatakan, harus ada dukungan yang memadai kepada setiap sejarahwan agar mereka dapat termotivasi dan fokus dalam melaksanakan kegiatan penelitiannya.

Seorang peneliti juga, demikian Carey, tidak boleh memikirkan semisal ‘kerja sampingan’ untuk kebutuhan hidup. Hal itu dilakukan agar ia dapat menjalankan penelitan itu secara maksimal.*(AR).

COMMENTS