Cerita Anak Pelaku Teror Bom Sidoarjo, Tolak Ajakan Sang Ayah

Cerita Anak Pelaku Teror Bom Sidoarjo, Tolak Ajakan Sang Ayah

Sang ayah setiap hari selalu memperlihatkan video jihad kepada mereka dan berusaha untuk memengaruhi mereka agar mengikuti kehendaknya untuk bertindak radikal (Foto: AR bersama Polisi - Kompas)

SURABAYA, dawainusa.com – Seorang anak pelaku teror bom di Sidoarjo berinisial AR menceritakan soal keberaniannya menolak ajakan sang ayah untuk menjadi seorang teroris. Kapolda Jawa Timur Irjen Machfud Arifin mengungkapkan, anak dari Anton Febrianto (47) yang menjadi pelaku pengeboman di Sidoarjo tersebut mengaku selalu diminta oleh ayahnya untuk berhenti sekolah dan menjadi teroris.

Akan tetapi, jelas Arifin, permintaan sang ayah selalu ditolak oleh anaknya tersebut. AR memutuskan untuk tidak seperti kakak dan adik-adiknya yang tidak bersekolah serta memilih untuk mengikuti ajakan sang ayah.

“Ada satu anak dewasa yang di Rusun Wonocolo itu menolak ikut ajaran dari orang tuanya. Ia memilih untuk tetap bersekolah dan ikut dengan neneknya,” jelas Arifin di Media Center Polda Jawa Timur, Selasa (15/5).

Baca juga: Cerita Saksi Mata Soal Ledakan Bom di Gereja Surabaya

Berdasarkan keterangan AR, jelas Arifin, sang ayah setiap hari selalu memperlihatkan video jihad kepada mereka dan berusaha untuk memengaruhi mereka agar mengikuti kehendaknya untuk bertindak radikal. Anton juga sering membawa anak-anaknya itu mengikuti pengajian di rumah Dita yang menjadi pelaku pengeboman di tiga Gereja di Surabaya, Minggu (13/5) lalu.

“Seperti rajin memberikan tontonan video jihad kepada anak-anak untuk membentuk ideologi sejak dini. Cara ini dilakukan oleh semua pelaku, mereka satu jaringan. Mereka juga rutin hadir di pengajian rumah Dita,” kata Arifin.

Selain itu, AR juga menceritakan soal situasi sebelum ledakan bom di rumahnya terjadi. Ia mengatakan, ketika diketahui bahwa sang ayah ternyata telah menyimpan bom di rumah, ia kemudian meninggalkan rumah karena takut akan mati terbunuh oleh ledakan bom itu.

Setelah bom di rumahnya itu meledak, ia juga sempat menyelamatkan kedua adiknya yang terkena ledakan bom dan membawa mereka ke rumah sakit. Saat ini, jelas Arifin,  AR dan adik-adiknya tersebut sedang menjalani perawatan intensif.

Untuk diketahui, ledakan bom di Sidoarjo dengan pelaku utama Anton itu terjadi tepat di Rusunawa Wonocolo, Minggu (13/5) malam. Ledakan itu menewaskan sejumlah anggota keluarga Anton, yakni sang istri bernama Puspitasari (47) dan anak perempuan mereka HAR (17). Anton sendiri tewas setelah ditembak oleh aparat karena keberadaannya membahayakan lantaran ia memegang saklar bom di Blok B lantai 5 nomor 2 Rusunawa Wonocolo.

Rentetan Serangan Teror Bom

Serangan teror bom beberapa hari ini marak terjadi. Sebelum ledakan bom di Sidoarjo tersebut, ledakan bom menghantam Kota Surabaya, Minggu (13/5). Ledakan itu pertama terjadi pukul 07.13 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya, Minggu (13/5).

Setelah itu disusul ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan di Jalan Arjuno. Terakhir di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro 146 di Jalan Raya Diponegoro.

Sementara pada Senin (14/5) pagi sekitar pukul 08.50 WIB, ledakan bom kembali terjadi di depan Polrestabes Surabaya. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak kepolisian, aksi pengeboman ini dilakukan oleh empat pelaku dengan memakai dua buah sepeda motor. Semua pelaku itu meninggal dunia.

Baca juga: Moeldoko Bantah Aksi Teror Terjadi Karena Kecolongan Intelijen

Berdasarkan keterangan yang dirilis oleh pihak kepolisian, ada 21 orang warga dan 13 pelaku yang tewas dalam serangan bom tersebut. “Saya ingin update jumlah korban secara menyeluruh, khususnya di Surabaya dan Sidoarjo hingga hari ini. Total ada 21 orang masyarakat meninggal pagi ini di Surabaya. Kemudian 13 pelaku tewas,” ungkap Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin di Surabaya, Senin (14/5).

Pelaku pengeboman di Surabaya dan Sidoarjo tersebut, demikian Arifin, dipastikan melibatkan keluarga mereka. Hal ini diketahui dari hasil identifikasi dan pengecekan aparat dan ditemukan bahwa semua pelaku merupakan satu keluarga. “Perlu saya sampaikan kejadian(pengeboman) yang di Sidoarjo dan Surabaya semuanya satu keluarga,” jelas Arifin.

Serangan teror lain juga kembali terjadi di Mapolda Riau hari ini, Rabu (16/5) pagi. Berdasarkan keterangan Kapolda Riau Irjen Nandang, serangan itu dilakukan oleh empat terduga teroris dan mengakibatkan 1 orang anggota polisi meninggal dunia. Semua pelaku berhasil ditembak mati oleh aparat.

Tetap Tenang dan Jangan Panik

Menanggapi serangan teror ini, Presiden Republik Indonesia (RI) Ir. Joko Widodo melalui Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (purn) Moeldoko mengajak seluruh masyarakat Indonesia agar tetap tenang dan tidak panik dengan maraknya serangan terorisme saat ini. Ia mengatakan, Presiden Jokowi sendiri juga telah mendorong aparat keamanan negara untuk menindak tegas para pelaku terorisme bersama jaringannya.

“Saya pikir sebuah pesan khusus kepada masyarakat untuk tenang, untuk tidak panik, karena aparat keamanan sudah mendapatkan perintah yang jelas, tegas dari Presiden, untuk memberikan tindakan tegas tanpa ampun keakar-akarnya,” jelas Moeldoko di Menara 165, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (14/5).

Baca juga: Mapolda Riau Diserang Teroris, Satu Anggota Polisi Meninggal Dunia

Untuk mengatasi persoalan terorisme ini, jelas Moeldoko, aparat penegak hukum akan melakukan tindakan represif. Presiden Jokowi sendiri, kata Moeldoko, telah meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto untuk segera berkolaborasi dengan Polri dalam rangka memberantas terorisme ini.

“Polri sudah meminta kepada TNI, dan Presiden sudah memerintahkan kepada Panglima TNI untuk berkolaborasi menyelesaikan persoalan ini. Sehingga kepolisian memiliki kekuatan yang semakin kuat untuk membasmi terorisme ini. Untuk itu saya mengimbau kepada masyarakat untuk tenang,” kata Moeldoko.*

COMMENTS