Catatan JHRC Atas Maraknya Kasus Bunuh Diri di Manggarai dan Matim

Catatan JHRC Atas Maraknya Kasus Bunuh Diri di Manggarai dan Matim

JHRC dalam berbagai riset yang dilakukan menyimpulkan, dalam berbagai kasus bunuh diri yang sudah terjadi, faktor tekanan mental berat ditengarai menjadi salah satu penyebab utama para pelaku memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. (Ilustrasi - ist)

RUTENG, dawainusa.com Kasus Bunuh diri terjadi lagi. Kali ini korbannya adalah Petrus Wadas (51 tahun), Warga Desa Compang Congkar, Kecamatan Sambi Rampas, Manggarai Timur,NTT.  Wadas yang mengakhiri hidupnya dengan mengenaskan itu melakukan aksinya dengan menggantung diri pada sebuah pohon yang tak jauh dari rumahnya.

Kematian Wadas yang diduga melakukan aksi nekadnya karena depresi menambah catatan panjang terhadap maraknya kasus bunuh diri di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur, Provinsi NTT.

Jefrin Haryanto Research Center (JHRC), sebuah lembaga riset dan konsultan psikolog yang berbasis di Ruteng Kabupaten Manggarai mencatat, kasus bunuh diri yang menimpa Dawas di Manggrai Timur (Matim), merupakan kasus ke 9 yang terjadi di dua kabupaten yang merupakan bagian dari wilayah kerja Polres Manggarai itu.

Baca juga: Pose Setengah Bugil di Puncak Padar, Dua Wisman ini Dikecam

“Hari ini dalam catatan kami kasus bunuh diri di Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Manggarai (wilayah Polres Manggarai) adalah korban ke 9 ditahun 2018 sejak Januari. artinya setiap bulan ada satu orang lebih yang melakukan aksi bunuh diri,” tulis JHRC dalam release yang diterima Dawainusa.com, Minggu (10/06).

Sebagai Lembaga Riset dan Konsultan Psikologi, JHRC yang selama ini concern dalam berbagai riset dan melayani klien dengan kasus depresi di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur, lembaga besutan Jefrin Haryanto ini memberi beberapa catatan penting mengingat kasus bunuh diri pada dua wilayah ini kian genting.

Bunih Diri

Manager Program Konseling dan Terapi JHRC Timotius Yuanuario Jonta, S. PSI (Foto: ist)

Mengapa Orang Memilih Jalan Bunuh Diri?

JHRC dalam berbagai riset yang dilakukan menyimpulkan, dalam berbagai kasus bunuh diri yang sudah terjadi, faktor tekanan mental berat ditengarai menjadi salah satu penyebab utama para pelaku memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Kasus bunuh diri menurut JHRC selama ini juga menyasar korban yang mengalami ketidakberdayaan akut. Sebagian besar korban adalah orang-orang yang mengalami depresi.

Baca juga: Gelar Kampanye 16 Hari, Ini Tuntutan 13 Elemen di Manggarai

Depresi, menurut JHRC adalah kondisi gangguan mental yang juga jsa diwariskan secara genetik. Artinya, ada individu-individu yang rentan mengalami depresi karena warisan genetik yang ada dalam dirinya.

Di sisi lain, potensi depresi juga bisa sangat mudah menyerang atau terjadi pada setiap individu lebih khusus pada mereka yang memiliki ketahanan psikologis yang ringkih atau rapuh.

Kepekaan Orang Sekitar

Biasanya seorang individu yang mengalami tekanan mental berat juga mengalami kesulitan untuk mencari pertolongan. Hambatan ini biasanya bersifat psikologis, jadi bukan karena orang lain yang enggan untuk memberikan bantuan.

Oleh karena itu, ketika sebuah tekanan batin muncul (rasa frustasi, kecewa, sedih, putus asa) maka keterbukaan komunikasi sangat diperlukan agar mendapatkan timbal balik berupa input positif yang baru.

Baca juga: Ketua Gerindra Tanggapi Usulan Ganti Ketua DPRD Manggarai

Di sisi lain, kepekaan orang sekitar sangatlah penting dalam mencegah peristiwa ini terjadi. Seringkali pernyataan tentang tekanan mental yang berat dilontarkan oleh individu berpotensi. Namun, lontaran itu kurang begitu tegas sehingga seringkali informasi itu terlewatkan begitu saja.

Kepekaan orang terdekat untuk bertanya sangatlah penting. Selain itu, sikap komunikasi yang lemah lembut dan mendengarkan penuh empati menjadi kunci kesuksesan dalam merangkai sebuah solusi dari permasalah berat tersebut.

Apabila terjadi kesulitan dalam mencari jalan keluar, maka menghubungi para profesional merupakan langkah berikut yang penting untuk diambil.

Apakah Bunuh Diri ini menular?

Belum dapat dipastikan bahwa bunuh diri merupakan sebuah peristiwa menular. Namun, melihat pola kejadian yang ada maka bisa dikatakan bahwa peristiwa ini seolah-olah menjadi tren.

Hal ini bisa terjadi sebagai akibat dari penyampaian berita yang tidak aman, sehingga mempengaruhi pemaknaan khalayak tentang peristiwa itu. Oleh karena itu, dalam menyampaiakan perlu diperhatikan cara membungkus nilai pencegahan terhadap perilaku ini.

Baca juga: Bupati Deno: Mari Beri Tempat Terhormat untuk Petani

Perhatian penting juga perlu dilakuakn terhadap para penyintas (anggota keluarga atau kerabat dari individu yang meninggal karena bunuh diri).

Perhatian ini harus dilakukan oleh masyarakat sekitar, elemen masyarakat dan tokoh agama berupa dukungan positif dalam bentuk penguatan psikologis dan kampanye pencegahan terhadap aksi bunuh diri. Perlu kembali diingatkan bahwa pola komunikasi penuh empati merupakan kunci dari penyampaian dukungan ini.

Suicide Postvention

Suicide postvention adalah tindakan pencegahan perilaku bunuh diri tiruan (copycat) pada individu yang terpapar kejadian bunuh diri.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah dengan menciptakan pola pemberitaan yang aman, memfasilitasi pemulihan keluargan dan kerabat korban, menyediakan dukungan dan petunjuk bagi orang-orang dekat korban.

Adapun orang-orang yang membutuhkan pencegahan ini adalah: keluarga korban, kerabat, saksi atau orang pertama yang menemukan korban, tenaga penolong seperti konselor/ teman curhat korban serta individu yang terpapar berita bunuh diri.

Peran media mainstream?

Di jaman dengan perputaran informasi yang sangat cepat ini, media memiliki peran yang sangat besar dalam mempengaruhi perilaku masyarakat. Pengaruh besar ini diiringi dengan tanggung jawab yang pesar pula.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberitaan, pertama, penyampaian berita sebaiknya bersifat objektif dan berisi fakta-fakta tentang kejadian tanpa ada unsur judgemental.

Kedua, konten berita yang disampaikan harus selalu mempertimbangkan dampak psikologis terhadap keluarga, teman dan kerabat korban. Dalam hal ini, isi berita sebaiknya menunjukan sebuah sikap empatik terhadap peristiwa tersebut.

Ketiga, hati-hati dengan detail berita. Sekalipun berisi fakta, sebaiknya media perlu hati-hati dalam menyampaikan detail berita, sehingga pemberitaan yang dilakukan sebaiknya bukan merupakan deskripsi terperinci tentang kejadian, melainkan lebih menenkankan pada nilai penyuluhan tentang pencegahan dan penanganan dari peristiwa tersebut.

Bijak Menggunakan Medsos

Pengguna media sosial juga perlu hati-hati dalam menyebarkan berita tentang kasus bunuh diri. Ada beberapa aspek penting yang harus diperhatikan.

Catatan pertama yang perlu diperhatikan adalah cara melihat individu yang melakukan bunuh diri sebagai korban kondisi psikologis berat. Secara bijak harus disadari bahwa ada tekanan batin yang sangat kuat sehingga mendorong korban memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Perlu juga disadari bahwa sangat sedikit orang yang pernah mencapai level tekanan psikologis tersebut.

Selain itu, diperlukan juga kendali diri untuk tidak menanyakan detail penyebab kejadian tersebut. Pertanyaan-perntanyaan itu dapat menambah tekanan orang terdekat korban yang sedang mengalami kedukaan.

Peran Tokoh Agama

Tokoh agama memiliki peran yang sangat besar untuk menanamkan nilai-nilai religiusitas di dalam masyarakat. Kehadiran mereka sangat besar pengaruhnya dalam membimbing penyintas sehingga timbul rasa terkuatkan secara rohani.

Selain itu, pencerahan tentang nilai-nilai spiritual kehidupan, citra diri, serta pemaknaan masalah duniawi dapat menjadi pedoman bagi keluarga dan individu yang terpapar berita bunuh diri tersebut.

Peristiwa bunuh diri terjadi ketika seseorang mengalami tekanan batin yang sangat kuat disertai dengan kesulitan dalam mendapatkan bantuan. Apabila anda mengalami perasaan yang sama, jangan pernah menyerah atau mengakhiri hidup anda.* (Elvys Ynuani)

COMMENTS