Catatan Bawaslu Soal Debat Perdana Pilgub NTT di Jakarta

Catatan Bawaslu Soal Debat Perdana Pilgub NTT di Jakarta

Menurut Bawaslu, jika memungkinkan, volume debat yang semula direncanakan digelar tiga kali harus dikurangi menjadi dua kali sehingga mengurangi defisit anggaran. (Foto: Para Paslon Pilgub NTT - ist)

KUPANG, dawainusa.com – Debat perdana Pilgub NTT yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (5/4), menelan biaya yang cukup besar bagi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur, tak terkecuali bagi simpatisan dan masyarakat NTT yang ingin menyaksikan debat tersebut secara langsung.

Hal itu diungkapkan oleh Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Jemris Fointuna di Kupang, Sabtu (7/4). Lantas, untuk menekan biaya tinggi tersebut, ia meminta debat kali berikutnya dilaksanakan di Kota Kupang, NTT.

“Kami mengharapkan debat berikutnya dilaksanakan di Kupang, karena kalau di Jakarta, cost yang dikeluarkan oleh calon cukup besar. Simpatisan dan masyarakat NTT yang ingin menyaksikan langsung pun harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak, Ucap Jemris.

Baca juga: Debat Pilgub NTT: Jatuh Cinta Pada Tayangan Pertama

Jemris menambahkan, jika memungkinkan, volume debat yang semula direncanakan digelar tiga kali harus dikurangi menjadi dua kali sehingga mengurangi defisit anggaran.

“Atau bisa saja KPU mengusulkan anggaran tambahan ke Pemerintah Daerah melalalui DPRD NTT, sehingga debat calon bisa dilaksanakan di Kupang,” pungkasnya.

Adapun sebelumnya Ketua KPU Provinsi NTT Maryanti Lutumars Adoe mengatakan, debat Pilgub NTT digelar sebanyak tiga kali yakni pada tanggal 5 April, 8 Mei dan 23 Juni.  Tema yang diudung pada debat perdana adalah ‘Pembangunan Ekonomi dan Infrastruktur.’

Debat perdana Pilgub NTT, Catatan Lain Dari Bawaslu

Selain menyoroti soal besarnya anggaran yang dikeluarkan dalam pelaksanaan debat perdana Pilgub NTT, Bawaslu pada kesempatan yang sama juga menyampaikan catatan penting kepada lembaga penyiaran dalam hal ini INews TV.

Bawaslu mengharapkan agar INews TV taat pada perjanjian kerja sama dengan KPU untuk melaksanakan debat dan tidak melakukan aktivitas lain seperti polling pendapat di Media sosial.

Baca juga: Debat Perdana: Jawaban Para Paslon Soal Infrastruktur Jalan di NTT

“Kami juga berharap pada debat kali berikutnya latar panggung atau layar dan setingan lampu dalam ruangan yang digunakan untuk debat agar menggunakan warna yang netral,” katanya.

Sementara mengenai materi debat, ia mengungkapkan, khusus materi debat Bawaslu tidak menemukan adanya ucapan atau pernyataan pasangan calon yang berindikasi melanggar larangan-larangan dalam kampanye.

“Larangan-larangan kampanye itu seperti ujaran kebencian, provokasi menyerang suku, agama dan ras tertentu atau mempersoalkan dasar negara dan UUD 1945,” paparnya.

Debat Harus Beri Solusi

Sebelumnya, mengomentari debat perdana cagub NTT, pengamat Politik dari Universiats Muhhamadyah Kupang Ahmad Atang mengatakan, debat dilakukan harus memberi tawaran solusi ekonomi dan infrastruktur  untuk masyarakat NTT, khususnya di bidang kesejahteraan rakyat.

“Krena kita tahu NTT merupakan Provinsi miskin ketiga nasional. Diharapkan konsep pembangunan ekonomi dari pasangan calon dapat membawa perubahan lima tahun ke depan,” kata Atang.

Baca juga: Gizi Buruk di NTT, dari Perubahan Mindset Orang Tua hingga Daun Kelor

Menurutnya, masalah infrastruktur dasar masih menjadi problem yang memperlambat akselerasi pembangunan di NTT. Rakyat NTT tentu berharap ada program terobosan yang benar-benar membuka aksebilitas dalam rangka mendorong pembangunan berkelanjutan.

Selain itu ia mengatakan, debat calon melalui media elektronik TV hanya memenuhi segmen kelas menegah ke atas yang terdidik di perkotaan. Sementara segmen kelas menengah ke bawah pedesaan tidak dapat terjangkau oleh pola debat tersebut.

“Dengan demikian terjadi kesenjangan informasi politik dari pasangan calon kepada masyarakat Indonesia yang penyebarannya tidak merata. Apalagi debat calon gubernur dan wakil gubernur kali ini dilaksanakan di Jakarta,” katanya.*

COMMENTS