Cakeda Minta Doa Rizieq, Pengamat: Itu Mistifikasi Politik yang Tak Wajar

Cakeda Minta Doa Rizieq, Pengamat: Itu Mistifikasi Politik yang Tak Wajar

Sejumlah cakeda yang menemui dan meminta doa Rizieq Shihab dinilai pengamat sebagai bentuk mistifikasi politik yang tidak wajar. (Foto: Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said saat bertemu Rizieq Shihab - Tribunnews).

JAKARTA, dawainusa.com Pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Adi Prayitno menanggapi aksi sejumlah calon kepala daerah (cakeda) yang menemui Rizieg Shihab di  Mekkah, Arab Saudi. Ia menyebut, aksi tersebut merupakan bentuk mistifikasi politik.

Menurut dia, yang dilakukan sejumlah cakeda tersebut adalah mistifikasi politik yang melampaui batas kewajaran. “Ini mistifikasi politik yang di luar batas kewajaran,” ujar Adi Priyatno, seperti diberitakan Tempo.coKamis (29/3).

Baca juga: Pilpres: Rizieq Shihab Desak Gerindra Segera Berkoalisi Kalahkan Jokowi

Sebelumnya, pengacara Rizieq Kapitra Ampera menuturkan, sejauh ini, belasan cakeda menemui kliennya. “Calon kepala daerah yang datang ke rumah Habib Rizieq memang sudah banyak,” tutur Kapitra, Rabu (28/3).

Adapun cakeda yang dimaksud adalah calon gubernur Jawa Tengah Sudirman Said dan calon wali Kota Bekasi Nur Supriyanto. Mereka meminta doa dan dukungan agar bisa memenangi kontestasi Pilkada 2018 mendatang.

Mistifikasi Politik dan Ironi Demokrasi Elektoral

Selain sebuah bentuk mistifikasi politik yang melampaui batas kewajaran, Adi Priyatno melihat fenomena tersebut sebagai sebuah ironi di era demokrasi elektoral.

Menurut dia, hal itu disebut ironi karena di era yang mengandalkan visi, misi, rekam jejak, dan integritas calon, masih ada cakeda yang menganggap ada orang yang mampu meningkatkan elektabilitas.

Apalagi, kata dia, orang yang dianggap mampu meningkatkan elektabilitas itu tidak ada di Indonesia dan bahkan enggan untuk pulang karena tersandra kasus pornografi.

“Ironis, di tengah demokrasi elektoral langsung seperti ini, masih saja mengganggap ada orang yang mampu meningkatkan elektabilitas,” kata dia.

Baca juga: Bandingkan Ahok dan Rizieq, Faizal Assegaf Dicopot dari Presidium 212

Semestinya, ungkapnya, demokrasi berbanding lurus dengan logika. Orang memilih pemimpin karena kinerja, bukan hal lainnya. “Kandidat menggadaikan akal sehatnya, dengan mendatangi Rizieq Shihab jadi ironis,” ujarnya.

Adi Priyatno mengatakan, ketimbang mendatangi Rizieq nun jauh di Mekkah sana, lebih baik kandidat blusukan mendatangi konstituen. Karena tidak ada hubungannya mendatangi pentolan Front Pembela Islam (FPI) tersebut dengan kemenangan pada perhelatan pilkada Juni mendatang.

Pengaruh Rizieq Shihab, lanjutnya, tidak akan sehebat yang mereka bayangkan seperti pada Pilkada Jakarta lalu. Rizieg terasa besar dan berpengaruh di Pilkada merebut kursi di ibukota karena ada momentum yang dimainkan yakni isu penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, calon gubernur inkumben DKI saat itu.

Rizieq Tingkatkan Elektabilitas Calon

Berbeda dengan Adi Priyatno, peneliti senior dari Pusat Penelitian Politik LIPI Siti Zuhro mengatakan, tersangka kasus pornografi yang tidak pulang-pulang itu masih bisa meningkatkan elektabilitas calon.

Ia menilai, permintaan dukungan calon kepala daerah kepada Rizieg dilakukan untuk menguatkan pemilih muslim. Menurutnya, hal ini dilakukan karena Rizieq dianggap bisa mendongkrak elektabilitas calon.

“Bila ada calon-calon yang meminta dukungan Rizieq Shihab, bisa jadi Rizieq Shihab dinilai mampu mendongkrak elektabilitas. Hal itu biasa saja bila dikaitkan dengan ikhtiar calon untuk meyakinkan diri bisa memenangkan pilkada,” kata Siti, Rabu (28/3).

Baca juga: Partisan Parpol Mendominasi Penyebaran Ujaran Kebencian

Sementara itu, calon gubernur Jawa Tengah Sudirman Said yang ikut menemui Rizieg di Mekkah berujar, pertemuannya dengan Rizieq Shihab diharapkan bisa mengenal lebih dekat sosok Rizieq dengan berkomunikasi langsung. Menurutnya, suatu saat pertemuan tersebut akan memberikan manfaat.

“Ketika Pilkada DKI, saya temui para pendukung fanatik Pak Basuki Tjahja Purnama (Ahok). Saya sampaikan pada mereka, politik hanya sebentar, selebihnya kan hidup bersama,” ucap Sudirman.

Sudirman mengatakan, dalam semangat yang sama, ia ingin merajut kemajemukan membangun persatuan. Bertemu Rizieq menjadi salah satu tindakan mengamalkan sila ke-3 Pancasila, yakni Persatuan Indonesia. “Untuk membangun persatuan, saya menemui Habib Rizieq,” tandasnya.*

COMMENTS