Bupati Sunur Undang Presiden Jokowi ke Lembata, Ada Apa?

Bupati Sunur Undang Presiden Jokowi ke Lembata, Ada Apa?

Pemerintah Kabupaten Lembata, NTT sedang gencar mempromosikan festival tiga gunung api sebagai destinasi wisata dunia untuk dikunjungi wisatawan mancanegara (Foto: Salah satu gunung api di Lembata - ist)

LEMBATA, dawainusa.com Bupati Lembata Eliaser Yantji Sunur akan mengundang Presiden Joko Widodo ke Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata dalam rangka menghadiri puncak festival tiga gunung api sekaligus  menyaksikan tradisi penangkapan ikan paus oleh nelayan Lamalera pada Oktober 2018 mendatang.

“Pada puncak perayaan festival tiga gunung api itu, pak bupati (Eliaser Yantji Sunur) berencana akan mengundang Presiden Joko Widodo untuk menyaksikan keunikan gunung api Batutara yang meletus tiap 20 menit itu,” kata Sekretaris Dinas Kominfo Kabupaten Lembata Karolus Kia Burin di Lembata, Minggu (27/5).

Sejauh ini, kata Karolus, Pemerintah Kabupaten Lembata di Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang gencar mempromosikan festival tiga gunung api sebagai destinasi wisata dunia untuk dikunjungi wisatawan mancanegara.

Baca juga: Pemprov NTT Dorong Kerja Sama Pentas Seni kepada Dua Negara Ini

“Lembata memiliki tiga gunung yang sangat indah dan telah ditetapkan sebagai produk baru wisata alam dunia untuk menarik kunjungan wisatawan mancanegara. Kami terus gencar mempromosikan potensi wisata itu agar lebih dikenal wisatawan mancanegara,” katanya.

Ketiga lokasi wisata alam itu adalah Gunung Api Batutara, Gunung Api Lewotolok dan Gunung Api Werung yang  memiliki keunggulan masing-masing dan mampu memanjakan mata wisatawan yang datang berkunjung ke tanah Lepanbata, sebutan khas Pulau Lembata.

Ia mengatakan, puncak festival wisata tiga gunung api tersebut akan berlangsung pada Oktober 2018 yang dipadukan dengan kegiatan puncak tradisi perburuan ikan paus oleh nelayan Lamalera di pantai selatan Lembata.

“Pemerintah daerah ini akan mengundang Presiden Joko Widodo ke Lembata untuk melihat berbagai keunggulan wisata yang dimiliki daerah itu termasuk melihat secara langsung tradisi perburuan ikan paus oleh nelayan Lamalera,” kata Karolus.

Selain itu, jelas dia, kehadiran Presiden Joko Widodo juga untuk mendorong percepatan pembangunan di Lembata sebagai daerah 3T yaitu tertinggal, terdepan dan terluar di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pesona Tiga Gunung Api di Lembata

Sebelumnya, pada 22 Mei 2018, Karolus Kia Burin menyebut dan membeberkan pesona tiga gunung api di Lembata. Ketiganya, sebut Karous, adalah Gunung Batutara, Gunung Ile Lewotolok dan Gunung Ile Werung.

Karolus mengatakan, Gunung Batutara menjadi salah satu obyek wisata terunik ke 11 di Indonesia, sehingga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke kabupaten tersebut.

Gunung Batutara memiliki keunikan karena gunung berapi ini meletup setiap 20 menit dengan menyemburkan asap serta bunga api sehingga akan memperlihatkan pesona keindahan gunung api.

Baca juga: Kaya Potensi Pariwisata, DPRD NTT Minta Dukungan Pemerintah Pusat

Sedangkan Gunung Ile Lewotolok, memiliki keunggulan karena hamparan kawah yang sangat luas serta udaranya yang sejuk dan gunung ini telah berkontribusi pada kesuburan tanah serta panorama alam yang indah di kawasan itu. Gunung Ile Werung di Kecamatan Atadei, salah satu gunung berapi dengan karakteristik kawah yang dalam dengan dinding batu terjal bekas letusan.

“Daya tarik tiga gunung itu sangat beraneka ragam dan menarik untuk dikunjungi wisatawan sehingga mendorong pemerintah Lembata mengelar festival tiga gunung dalam menarik wisata dunia,” tegas Karolus.

Adapun terkait festival tiga gunung api yang menjadi agenda pemerintah setempat, Karolus mengatakan, ini merupakan rencana yang sudah matang karena Pembukaan Festival sendiri telah dilakukan di Jakarta pada tanggal 9 Mei 2018. Berbagai promosi, lanjutnya, gencar dilakukan pemerintah dengan menggandeng pelaku wisata guna mempromosikan potensi wisata tersebut ke mancanegara.

“Pemerintah Lembata sudah membuka festival tiga gunung itu pada tanggal 9 Mei 2018 di Jakarta. Berbagai promosi gencar dilakukan pemerintah dengan menggandeng pelaku wisata guna mempromosikan potensi wisata tersebut ke mancanegara,” tegas Karolus.

Tentang Lembata

Lembata hanyalah sebuah gugusan kepulauan yang terletak di antara himpitan Pulau Adonara, Solor, Flores Timur daratan dan Pulau Alor atau warga Nusa Tenggara Timur sering menamakannya dengan sebutan Lamaholot.

Jauh sebelum 24 Juni 1967 ketika untuk pertama kalinya masyarakat Lembata melaksanakan musyawarah kerja luar biasa pembentukan Kabupaten Lembata, pulau seluas 1.266,39 km2 berpenduduk 117.829 jiwa ini, selalu disebut Pulau Lomblen.

Namun, sejak 01 Juli 1967, nama Lomblen akhirnya diganti dengan sebutan Lembata berdasarkan sejarah asal masyarakatnya dari Pulau Lepanbatan. Pada 4 Oktober 1999 sesuai UU No. 52 Tahun 1999, Lembata akhirnya terbentuk menjadi sebuah daerah otonom sendiri lepas dari kabupaten induk, Flores Timur.

Baca juga: Dinas Pariwisata NTT Berencana Gaet Wisatawan Asal Tiongkok

Saat berdiri menjadi sebuah kabupaten baru, pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur atas petunjuk dari Kementerian Dalam Negeri, menunjuk Petrus Boliona Keraf sebagai penjabat bupati 1999-2001 sampai terpilih Andreas Duli Manuk-Felix Kobun sebagai Bupati-Wakil Bupati Lembata periode 2001-2006.

Pada saat berlangsungnya Pilkada 2006 di Kabupaten Lembata, Andreas Duli Manuk terpilih kembali memimpin kabupaten tersebut bersama wakilnya Andreas Nula Liliweri (2006-2011).

Saat berakhirnya masa jabatan kedua Andreas Duli Manuk sebagai Bupati Lembata, rakyat kabupaten itu kembali mengadakan pemilu untuk memilih pemimpinnya yang baru dan Eliaser Yentji Sunur akhirnya terpilih menjadi bupati Lembata bersama wakilnya Viktor Mado Watun selama periode 2011-2016.

Selama lima tahun masa kepemimpinan mereka di tanah Lembata, pasangan tersebut akhirnya pecah kongsi. Rakyat kembali menjatuhkan pilihannya kepada Eliaser Yentji Sunur lewat pemilu untuk meneruskan pembangunan bersama Thomas Ola Langoday.

Thomas Ola Langoday yang dikenal kalangan pers sebagai pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Widya Mandiri (Unwira) Kupang itu, akhirnya meletakkan jabatannya sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan memilih kembali ke kampung halamannya untuk membangun Lembata bersama Eliaser Yentji Sunur.

Dalam masa pemerintahan Eliaser-Langoday, Lembata yang dulunya dikenal masyarakat luar lewat kebolehan para nelayan Lamalera dalam memburu ikan paus dengan cara-cara tradisional, perlahan mulai mengenal Lembata lebih dekat.

Artinya, Lembata tidak hanya memiliki atraksi berburu ikan paus sebagai jualan wisata, tetapi memiliki sejumlah objek wisata yang dapat diandalkan sebagai sumber pemasukan bagi kas daerah. Sektor pariwisata di Lembata, memang belum digarap secara maksimal dan belum juga dikelola secara memadai sebagai salah satu sumber pendapatan bagi daerah.

Sebagai seorang pengamat ekonomi, Thomas Ola Langoday tampaknya tidak mau menyia-nyiakan ilmu ekonomi yang digelutinya, terutama bagaimana mengembangkan sektor pariwisata di Lembata agar bisa mendatangkan keuntungan bagi daerah dan masyarakatnya.

Dalam tahun anggaran 2018, pemerintahannya menggelontorkan dana sebesar Rp17 miliar dari APBD Lembata untuk mengembangkan sektor pariwisata di daerah itu. Anggaran sebesar itu tampaknya dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur pendukung di destinasi wisata, selain untuk menggenjot promosi pariwisata yang selama ini tertidur lelap dari pandangan pemerintahan sebelumnya.

Dari segi promosi, pemerintah membuat kalender event tahunan untuk pelaksanaan festival dan kegiatan ekspo. Selain itu, infrastruktur jalan ke sejumlah objek wisata pegunungan di daerah itu juga akan dibenahi dengan anggaran yang ada.

“Akses jalan menuju ke Lamalera, Ile Lewotolok, dan Ile Werung tahun ini akan kami benahi semua. Ketiga wilayah tersebut sarat dengan obyek wisata seperti perburuan ikan paus secara tradisional di perkampungan Lamalera, di selatan Pulau Lembata,” katanya.

Pemerintahan Eliaser Sunur-Langoday tampaknya berkomitmen untuk menjadikan pariwisata sebagai motor penggerak pembangunan karena sudah didukung dengan berbagai potensi yang menarik seperti wisata pegunungan, alam, budaya dan bahari.*

COMMENTS