Budiarto Shambazy: Pilpres 2019 Sudah Antiklimaks

Budiarto Shambazy: Pilpres 2019 Sudah Antiklimaks

Menurut Budiarto, berbagai upaya dan gerakan untuk menjatuhkan dan mendelegitimasi pemerintahan Jokowi telah dilakukan, mulai dari aksi 212 yang berjilid-jilid itu sampai pada isu asing, aseng dan komunis. (Foto: Budiarto Shambazy - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Kompetisi politik menjelang Pemilihan Presiden 2019 sebetulnya sudah antiklimaks. Hal itu disampaikan Wartawan Senior Harian Kompas Budiarto Shambazy, dalam diskusi dan Buka Puasa Bersama bertajuk “Generasi Milenial Generasi yang Diperebutkan” yang digelar di Restoran Cwie Mie Malang, Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (31/5).

Menurut Shambazy, berbagai upaya dan gerakan untuk menjatuhkan dan mendelegitimasi pemerintahan Jokowi telah dilakukan, mulai dari aksi 212 yang berjilid-jilid itu sampai pada isu asing, aseng dan komunis dan maraknya informasi bohong atau hoax yang beredar melalui media sosial.

Namun, ia menilai, Pemerintahan Joko Widodo tidak goyah. “Jadi, sebetulnya Pilpres itu sudah antiklimaks,” papar Shambazy dalam diskusi yang diselenggarakan sekelompok akademisi, professional dan aktivis pendukung Jokowi yang menamakan diri BK52.

Baca juga: PA 212 Rekomendasikan Rizieq Shihab Maju dalam Pilpres 2019

Lebih lanjut, Shambazy menjelaskan, Teka-teki yang mungkin terjadi menjelang pendaftaran pasangan calon presiden-wakil presiden pada 4-10 Agustus mendatang adalah munculnya figur baru yang selama ini dikunci rapat-rapat oleh kompetitor Jokowi. Tampilnya figur kompetitor yang sama sekali baru dimaksudkan untuk memberikan efek kejutan dan dapat diliputi secara luas oleh media.

Ancaman Radikalisme

Selain itu, Shambazy sempat menyinggung soal ancaman nyata yang dihadapi Indonesia saat ini, yakni radikalisme. Menurutnya, ancaman ini harus disikapi serius oleh masyarakat. “Kata ‘gerakan’ sangat pas, itulah yang harus dikerjakan bersama,” tegas Shambazy.

Narasumber lain, Maharani Ardi Puri, Dosen Universitas Pancasila dalam paparanya menekankan perlunya mengenali karakter generasi milenial dengan baik, sehingga pendekatan dan metode yang dipakai untuk mempengaruhi mereka agar berpartisipasi dalam politik tepat sasaran.

Baca juga: Komentar Cak Imin Soal Kunci Kemenangan Pilpres 2019

Dalam acara diskusi yang berlangsung santai dan penuh antusiasme itu, salah satu penanya mengajukan pertanyaan tentang tips memilih kepada milenial yang melampaui pendekatan berbasis agama. Menanggapi pertanyaan tersebut, Maharani menjelaskan pentingnya kompetensi.

“Perumpamaannya, kalau kita naik pesawat, kita peduli kah agama pilot itu apa? Tentu yang kita pedulikan apakah dia bisa menerbangkan pesawat apa tidak. Jadi berdasarkan kompetensinya. Hal itu bisa dilihat dari rekam jejaknya. Data-data itu kita serap dan putuskan sesuai dengan nilai yang kita punya. Bukan karena emosi. Karena agama maupun sukunya,” pungkasnya.

Putri juga menghimbau kepada generasi milenial agar memilih wakilnya di DPR, DPD dan DPRD maupan calon presiden yang diinginkannya pada Pemilu 2019 mendatang tidak berdasarkan emosional. Ia menaruh harapan kepada para generasi milenial agar bisa berpikir kritis tetapi harus berdasarkan fakta yang ada.

“Dari sisi politik, generasi milenial menjadi penentu kemenangan Pemilihan Kepala Daerah 2018 dan Pemilu 2019,” tegasnya.

Strategi Libatkan pemilih Milenial

Diskusi yang ditutupi dengan Buka Puasa Bersama ini dimaksudkan untuk melibatkan pemilih milenial sekaligus mengajak mereka bersikap dan bersuara menjelang Pilpres 2019. Pasalnya, Kompetisi politik elektoral 2019 diperkirakan akan diwarnai perebutan posisi politik (suara) generasi milenial.

Berdasarkan proporsi usia pemilih, Pemilu 2019 akan diikuti oleh sekitar 40% pemilih usia 17-35 tahun, atau sekitar 84 juta orang. Itu artinya generasi milenial akan turut mewarnai peta dukungan politik 2019, bahkan akan menentukan siapa calon presiden Indonesia mendatang.

Baca juga: Pilpres 2019: Kehadiran Prabowo dan Tantangan Berat Jokowi

Sayangnya, dalam menghadapi Pemilu 2019, para pemilih muda kebanyakan masih labil dalam menentukan pilihan. Berdasarkan data survei Poltracking Indonesia pada Februari 2018, potensi partisipasi pemilih milenial pada pemilu 2019 pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan generasi pemilih matang (36 tahun ke atas). Potensi partisipasi (responden yang menjawab akan menggunakan suaranya pada pemilu 2019) kedua kelompok ini berada pada angka 76%-77%.

Namun demikian, hal yang menarik adalah ketetapan pilihan generasi milenial terhadap pilihan partai dan kandidat capres lebih rendah dibandingkan generasi matang. Ada sekitar 60% pemilih milenial yang tidak punya ketetapan pilihan politik dibandingkan pemilih matang yang separuhnya (50%) sudah matang dengan pilihan politiknya.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Poltracking, preferensi pilihan figur capres oleh milenial belumlah solid apalagi dikotomis sebagaimana produk politik pemilu 2014. Pemilih milenial akan mencari tahu dan meverifikasi kandidat secara mandiri tidak bergantung pada sosialisasi politik di dalam keluarga.*

COMMENTS