Bongkar Muat Batu Bara di Kupang Dihentikan, JPIC OFM: Kami Dukung

Bongkar Muat Batu Bara di Kupang Dihentikan, JPIC OFM: Kami Dukung

JPIC OFM Indonesia menyetujui rencana Polres Kupang Kota yang menghentikan sementara aktivitas bongkar muat batu bara di Pelabuhan Tenau, Kupang. (Foto: Aktivitas bongkar-muat Batu Bara di Pelabuhan - Ist).

KUPANG, dawainusa.com Komisi Justice, Peace, and Integrity Ordo Fratrum Minorum Indonesia (JPIC OFM Indonesia) menanggapi rencana Polres Kupang Kota terkait penghentian sementara aktivitas bongkar muat batu bara di Pelabuhan Tenau, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

JPIC OFM menilai, rencana tersebut sudah tepat. Pasalnya, aktivitas bongkar muat barang tambang tersebut telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang masif di sekitar kawasan tersebut.

Baca juga: Kerusakan Lingkungan dan Prinsip Etis Perlindungan Alam

“Tindakan Kepolisian Resor Kupang Kota saya kira sudah tepat dan sangat beralasan. Apalagi karena aktivitas bongkar muat batu bara mengganggu ekosistem laut di kawasan pelabuhan,” kata direktur JPIC OFM Indonesia Alsis Goa OFM kepada dawainusa.com melalui pesan Whatsapp, Rabu (28/3).

Menurut dia, batu bara dapat membunuh manusia secara perlahan. Debu anorganik batu bara bersifat korosif, tak berwarna dan tak berbau namun lengket.

“Partikel kecil berukuran satu hingga lima mikron bisa langsung masuk ke paru-paru dan menyebabkan jaringan paru setelah 10-20 tahun ke depan akan mengeras. Penyakit ini akan berlanjut terus menjadi paru-paru hitam dan berakhir fatal,” tandasnya.

JPIC OFM: Penghentian Jangan Hanya Sementara

Pastor Alsis menuturkan, JPIC OFM menyambut baik rencana Polres Kupang Kota tersebut. Rencana tersebut, jelasnya, tentu karena ada dampak yang sudah mulai terasa.

“Kami sangat mendukung langkah dan tindakan tepat yang diambil oleh kepolisian resor Kupang yang menutup aktivitas bongkar maut batu bara tersebut,” ujarnya.

Baca juga: Tolak Tambang di Sabu, Ini Petisi Warga untuk Lebu Raya

Namun demikian, menurut dia, rencana penutupan jangan hanya untuk sementara saja. Kalau tutup, harus total karena akibat dari aktivitas itu menyangkut hidup banyak orang.

“Kami harap dan mendesak tidak hanya sampai pada penghentian sementara tetapi harus total berhenti atau ditutup. Karena ini menyangkut ancaman terhadap ruang hidup dan keselamatan masyarakat,” ungkap pastor yang giat mengadvokasi masyarakat Flores tentang dampak industri tambang itu.

Soal Recana Penghentian Sementara

Rencana Polres Kupang Kota memberhentikan aktivitas bongkar muat batu bara di Pelabuhan Tenau Kupang mengemuka setelah adanya indikasi kerusakan lingkungan dari aktivitas tersebut. Pasalnya, kerusakan itu muncul karena banyak batu bara yang tercecer di sekitar area bongkar muat di pelabuhan tersebut.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota AKP Pinten Bagus Satrianing Budi mengatakan, pihaknya sudah bulat dengan rencana tersebut. Menurut dia, sudah ada police line di area tersebut.

“Untuk areal bongkar muat, saat ini sudah kami police line dan hari ini akan dilakukan pemanggilan kepada pihak dan dinas terkait yang memberikan izin,” terang Pinten, seperti diberitakan Kompas.com, Rabu (28/3).

Baca juga: Tolak Tambang, Ini Aspirasi Masyarakat Sabu Raijua ke DPRD NTT

Adapun kapal yang dilarang Polres Kupang Kota, ujar Pinten, yakni kapal Tagboat TB Momentum dan Tongkang BG 3003. Kapal tersebut memuat batu bara asal Kabupaten Sangata, Kalimantan Timur, sebanyak 7.576 metric ton. Mereka melakukan bongkar muat di Pelabuhan Tenau Kupang.

Kegiatan bongkar muat itu berlangsung sejak Selasa (27/3) pukul 10.00 Wita dan dihentikan polisi pada pukul 19.30 Wita. Sebagian batu bara tersebut jatuh berhamburan ke sekitar dermaga Pelabuhan Tenau Kupang dan sekitar laut tempat bersandarnya kapal tersebut.

“Sementara kami hanya meminta kelengkapan dokumen-dokumen muatan serta pelaksana bongkar muat,” kata Pinten.

Pinten mengatakan, proses bongkar muat juga tidak memenuhi standar keselamatan kerja, dan peraturan bongkar muat yang dikeluarkan pihak Syahbandar.

“Untuk saat ini yang menjadi fokus pemeriksaan adalah kerusakan lingkungan yang disebabkan karena tercecernya batu bara di lingkungan sekitar area bongkar muat,” tutupnya.*

COMMENTS