Bongkar Kebohongan Novanto, Dari Infus Anak Hingga Kencing Berdiri

Bongkar Kebohongan Novanto, Dari Infus Anak Hingga Kencing Berdiri

Sebagai saksi, Indri berani membongkar kebohongan yang dilakoni Setya Novanto menjelang pemanggilannya oleh KPK sebagai saksi dalam kasus korupsi pengadaan e-KTP. (Fto: Novanto - Jurnal Politik)

JAKARTA, dawainusa.com Indri Astuti, seorang perawat pada Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau, dihadirkan oleh Jaksa KPK dalam sidang lanjutan dugaan perintangan penyidikan Novanto dengan terdakwa dr. Bimanesh Saturjo.

Sebagai saksi, Indri berani membongkar kebohongan yang dilakoni Setya Novanto menjelang pemanggilannya oleh KPK sebagai saksi dalam kasus korupsi pengadaan e-KTP. Menurutnya, banyak kejanggalan yang terjadi ketika Novanto tiba di RS Permata Hijau pada tanggal 16 November 2017.

Sebagaimana diketahui, KPK yang saat itu tengah mencari keberadaan Setya Novanto tiba-tiba mendengar kabar kecelakaan yang dialami Novanto. Mobil Fortuner yang ditumpangi Novanto saat itu disebut menabrak tiang listrik hingga akhirnya menyebabkan SN harus di rawat di RS.

Baca juga: Bantah Terlibat Skandal e-KTP, Politisi Asal NTT: Novanto Suka Membual

Indri yang saat itu sebenarnya ingin pulang diminta untuk kembali bekerja. Meski sempat khawatir lantaran pasien yang ditangani adalah Setya Novanto, Indri tetap bekerja dengan jaminan dari Bimanesh.

“Dokter Bima tanya ke saya, ‘lu takut ya?’, saya bilang iya. Dia bilang sudah tenang saja kalau ada apa-apa Kombes Pol Bimanesh yang bertanggug jawab,” kata Indri saat bersaksi dalam sidang perkara perintangan penyidikan dengan terdakwa dr Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin, (2/4).

Kemudian Indri menyebut Novanto datang ke RS diantar seorang sopir dan petugas keamanan rumah sakit. Dia mengaku tidak melihat wajah Novanto yang terbaring di brankar lantaran wajahnya ditutupi, tak jelas apa maksudnya.

Menurut Indri, Novanto saat itu langsung dibawa ke ruang inap VIP di lantai 3. Dia sempat melihat luka lecet di dahi kiri serta tangan kiri Novanto.

Gunakan Infus Anak

Sesaat kemudian, Bimanesh meminta Indri untuk menempelkan infus ke tangan Novanto. Namun, Indri tidak langsung melakukannya karena Bimanesh keluar ruangan.

Lalu Indri mengecek detak jantung Novanto serta memeriksa tensi. Saat akan memeriksa tensi, Bimanesh kembali masuk ke ruangan dan mengambil alih pekerjaan Indri.

“Diambil alih oleh dr Bimanesh, dan dr Bimanesh berkata ke pasien, tensinya 180 per 110 tapi pasien tetap diam saja,” ucap Indri.

Baca juga: Korupsi e-KTP: Disebut Novanto, Menseskab Pramono Anung Berang

Saat itulah, Indri baru menyadari adanya benjolan di dahi Novanto yang menurutnya hanya sebesar kukunya. Padahal, menurutnya, benjolan itu sebelumnya tidak ada.

Indri pun sempat kaget ketika akan meninggalkan ruangan karena Novanto berteriak padanya agar memasangkan perban di kepalanya. Indri juga terkejut ketika Novanto meminta obat merah padanya padahal tidak ada darah yang keluar dari luka Novanto.

Selain itu, Indri juga mengungkapkan tentang infus anak-anak yang dipasangkan ke Novanto. Indri mengaku memasangkan infus anak-anak itu karena tidak menemukan pembuluh darah Novanto.

“Saya mau pasang infus di tangan kanan. Karena pembuluh darah tidak kelihatan, saya mau pasang di pergelangan tangan, sebelumnya saya pasang alat, namun tidak kelihatan (pembuluh darah) saya coba pukul dengan tiga jari. Saat pukulan kedua saya terkejut karena tangannya itu (mengangkat), kayaknya marah,” kata Indri.

Indri mengaku telah meminta izin pada Novanto untuk memasang infus, tetapi gerakan-gerakan Novanto membuatnya bingung. Dia kemudian mengambil keputusan untuk memasang jarum infus anak kepada Novanto. Jarum infus untuk anak itu menurutnya memang tersedia di dalam kamar.

“Dengan keputusan saya sendiri karena pembuluh darah tidak kelihatan, tapi saat saya sentuh sekali dapat, saya menggunakan yang kuning itu jarum untuk anak-anak,” ucap Indri.

“Alasan Anda apa pakai itu?” tanya hakim.

“Pertama saya dikejutkan dengan tangan dia. Saya pikir bapak ini marah. Saya makin nggak berani. Saya membuat tindakan sekali tusuk saya dapat, karena (pembuluhnya) tidak kelihatan, saya pakai perabaan, saya raba ada saya tusuk dapat,” ujar Indri.

Kencing Berdiri

Kejanggalan lainnya disebut Indri terjadi ketika keesokan harinya ingin mengecek kondisi Novanto. Saat itu pagi pukul 06.00 WIB, Indri berniat mengecek tensi Novanto.

Namun saat masuk ke kamar, Indri mendapati Novanto masih tidur sehingga dia memutuskan untuk kembali lagi 5 menit kemudian. Saat akan kembali ke kamar itu, Indri membuka pintu perlahan karena takut Novanto masih tidur. Namun dia malah mendapati Novanto sedang berdiri dan kencing di samping tempat tidur.

Baca juga: Skandal E-KTP: Novanto Sebut Puan Maharani Ikut Terima Uang

“Saya kembali lagi ke situ, saya lihat bapak itu sudah berdiri tegak sedang buang air kecil. Dia berdiri tegak, kencing di urinal,” ucap Indri.

“Nggak di toilet?” tanya hakim.

“Nggak. Dia di sisi kiri tempat tidur,” jawab Indri.

“Begitu saya masuk, mungkin si bapak ini nggak mendengar karena saya buka pintu memang pelan-pelan karena saya pikir masih tidur dan tidak mau membangunkan. Saya lihat saya langsung bilang, ‘Pak, saya bantuin.’ Si bapak itu kaget, kayak naik badannya gitu. Setelah itu, dia merebahkan badannya dengan susah payah, padahal sudah bisa berdiri,” imbuh Indri.

Indri kemudian memeriksa tensi Novanto setelah selesai memeriksa, Indri keluar dari ruangan dan menunggu pergantian jam perawat.*

COMMENTS