Boko Haram dan Cerita Pilu di Balik Pengungsi Nigeria

Boko Haram dan Cerita Pilu di Balik Pengungsi Nigeria

Seikat kecil kayu bakar bisa ditukarkan dengan susu. Satu mangkuk ikan bayi yang tak dibutukan bisa memberi Anda minyak goreng. Kacang tanah adalah bahan yang banyak dicari. Begitulah cara hidup warga korban pengusiran Boko Haram, saat uang jadi hal yang langka di Bakasi. (Foto: Pengungsi Nigeria - ist)

FOKUS, dawainusa.com Uang bukanlah segalanya di kamp pengungsi Internally Displaced Persons (IDP), di Bakasi, Nigeria, tempat dimana para korban kekerasan Boko Haram kini berlindung.

Dengan hanya sedikit uang di saku dan bantuan bahan pangan yang seringkali tak sesuai dengan kebutuhan mereka, praktik barter menjadi alternatif bagi lebih dari 21.000 pengungsi Nigeria yang mendekam di kamp berdebu di timur laut negara tersebut.

Banyak dari para pengungsi menukarkan stok dan sedikit harta benda mereka untuk mendapatkan bahan dan barang yang mereka butuhkan, entah rempah-rempah dan bumbu untuk membuat sup, kacang tanah untuk membantu ibu menyusui memproduksi ASI, atau sabun cuci untuk mencuci pakaian.

Baca juga: Ijinkan Perempuan Kendarai Motor, Reformasi Kebijakan Konservatif Saudi

Di tempat ini pula, seikat kecil kayu bakar bisa ditukarkan dengan susu. Satu mangkuk ikan bayi yang tak dibutukan bisa memberi anda minyak goreng. Kacang tanah adalah bahan yang banyak dicari. Umaru Usman Kaski, salah seorang pengungsi menceritakan betapa susahnya hidup di kamp pengungsian.

“Kami tak punya uang, karena itulah kami melakukan ini,” kata Umaru, sebagaimana dilansir BBC, berharap bisa menjual seikat kayu bakar senilai 50 naira (sekitar Rp1.900) untuk menyokong keluarganya yang beranggotakan delapan orang.

Sementara banyak orang lain lebih memilih uang, distribusi uang tunai di Maiduguri, bekas benteng pergerakan Boko Haram, dipenuhi risiko. Sekitar 2 juta orang dipercaya telah dipaksa meninggalkan rumah mereka sejak 2009, ketika kelompok bersenjata itu memulai pemberontakan.

PBB telah menilai situasinya sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Laporan terjadinya korupsi dalam upaya menyalurkan bantuan untuk mengatasi krisis kemanusiaan sudah marak terjadi. Mereka yang terlibat, seperti pejabat pemerintah, pekerja bantuan dan tentara, diduga melakukan penilapan sebelum membagikan bantuan.

Banyak dari mereka yang merespons krisis juga khawatir dengan prospek ekonomi yang suram dalam waktu dekat, dan jutaan orang akan bergantung pada bantuan. Sampai situasi menjadi lebih baik, pengungsi Nigeria akan menggunakan cara mereka sendiri untuk menyiasati apa yang mereka terima untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Pembrontakan Brutal Boko Haram

Pada 2015 lalu, seorang wartawan BBC, Farouk Chothia melaporkan, kelompok Islamis militan Nigeria Boko Haram telah melakukan pemberontakan sangat brutal di Afrika. Mereka menguasai banyak wilayah, mengancam keabsahan wilayah Nigeria dan memulai perang dengan menargetkan negara tetangga Kamerun.

Dalam laporan tersebut, para pejabat memperkirakan sekitar tiga juta orang menjadi korban krisis kemanusiaan akibat pemberontakan lima tahun di timur laut.

Baca juga: Soroti Imigran dan Pengungsi, Paus Fransiskus: Jangan Padamkan Harapan di Hati Mereka

Kelompok ini dilaporkan terpecah menjadi sejumlah faksi yang beroperasi secara mandiri di Nigeria utara dan tengah. The International Crisis Group (ICG) memperkirakan terdapat enam kelompok yang paling terorganisir dan kejam di negara bagian Borno, dengan Boko Haram menguasai wilayah yang paling luas.

Penduduk desa dipaksa bergabung jika tidak ingin dibunuh. Menurut ICG, kelompok militan ini juga menggantungkan diri pada para penjahat dan membayar mereka jika melakukan serangan.

Sebagian besar milisi Boko Haram adalah dari suku Kanuri-asal pemimpin kelompok Abubakar Shekau-yang mengisyaratkan dia memiliki pengaruh terhadap penguasa tradisional di Nigeria timur laut.

Berawal dari Gombe

Gombe mulanya adalah sebuah kota yang indah dan tentram. Penghuninya adalah orang-orang muslim dari suku Fulani yang ramah, cerdas, dan baik. Meski seperti kebudayaan masyarakat Timur Tengah di era sebelum teknologi maju seperti sekarang ini, kota ini kadang dipenuhi oleh para penjudi dan pemabuk yang kemudian insyaf saat menjelang Ramadhan.

Baca juga: Mantan Legenda AC Milan Menangkan Pemilihan Presiden Liberia

Kini, Gombe merupakan area utama markas dan tempat pengoperasian rencana kelompok militan Boko Haram di Nigeria, yang memiliki tujuan demi mendirikan sebuah Negara Islam, dimana ajaran dan budaya Barat diberantas secara kejam.

John Hare, seorang barat yang ditugaskan pemerintah Britania Raya di Nigeria sejak usianya 22 tahun, seperti dilaporkan nigerianmonitor.com mengatakan: Boko Haram telah memaksakan interpretasi ekstrimis Islam di seluruh negara bagian di utara Nigeria.

Kini, kota yang ia diami hampir semasa hidupnya tersebut telah berubah menjadi lokasi terjadinya beribu-ribu pertumpahan darah.

Nigeria sendiri, 55 tahun setelah kemerdekannya, menjadi tempat lahirnya pasukan teroris dari orang-orang Islam fundamental, mereka yang rela melakukan bom bunuh diri dengan berkeyakinan jihad.

Kota-kota yang dulunya indah, tenang dan aman kini porak-poranda akibat teror. Di tahun 2014, sebanyak 276 siswi di Provinsi Borno diculik ketika mereka sedang bersekolah. Penculikan 276 siswi sekolah tersebut hanyalah satu dari 800 kejahatan asasi yang dilakukan Boko Haram.

Menurut catatan Human Rights Watch, sejak tahun 2009, sebanyak 6000 penduduk sipil tewas akibat kekejaman Boko Haram, 2500 orang diantaranya tewas di tahun 2014 lalu. Dulu pada tahun 1900, pangeran dari Barat dan Fulani setuju mendirikan Daerah Protektorat di Nigeria Utara (Protectorate of Northern Nigeria).

Perjanjian itu mengatakan bahwa jika kegiatan misionaris (Kristenisasi) di wilayah tersebut hanya boleh dilakukan kepada para penyembah berhala, bukan kepada muslim. Selama John Hare bertugas di Borno, penduduknya mayoritas merupakan penyembah berhala, dengan presentase 65%, sisanya adalah penganut Kristen (30%) dan Muslim (5%).

Namun sejak Nigeria merdeka, Kristenisasi semakin berhasil sehingga penduduknya kini mayoritas Kristen, mereka yang kini menjadi target utama aksi misionaris Boko Haram.* (AT)