Aniaya Bayinya Hingga Tewas, Polisi: Pelaku Sempat Menuduh Pacarnya

Aniaya Bayinya Hingga Tewas, Polisi: Pelaku Sempat Menuduh Pacarnya

SN aniaya bayinya sendiri yang masih berusia 15 bulan hingga berujung maut. Sebelumnya, SN menuduh pacarnya sebagai pelaku aksi keji tersebut. (Foto: Polisi melihat kondisi bayi sebelum akhirnya meninggal dunia - Kumparan).

KARAWANG, dawainusa.com Seorang ibu tega aniaya bayinya sendiri yang masih berumur 15 bulan hingga tewas di Karawang, Jawa Barat. Sebelumnya, pelaku sempat menuduh pacarnya sebagai pelaku tindakan bejat tersebut.

“Kepada penyidik, pelaku yang berinisial SN mengaku pacarnya yang menganiaya korban, yang adalah bayinya sendiri, namun setelah diselidiki lebih lanjut ternyata ia sendiri yang melakukannya,” kata Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Karawang AKBP Hendy F Kurniawan, Kamis (22/3).

Baca juga: Di Ende, Bocah Tiga Tahun Dianiaya Ayah Kandung Hingga Tewas

Adapun pelaku ditangkap aparat kepolisian di rumah kerabatnya yang bernama Empin di kawasan Mekarjati, Kecamatan Karawang Barat, Kota Karawang, Rabu (21/3).

Atas perbuatannya tersebut, perempuan tersebut terancam akan dijerat Pasal 80 ayat (2) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana 5 tahun dan maksimal 10 tahun penjara.

Pelaku Aniaya Bayinya karena Masalah Ekonomi

SN aniaya bayinya sendiri yang masih berusia 15 bulan berujung maut. Bayi mungil yang bernama Calista itu menghembuskan nafas terakhir pada Minggu (25/3). Sebelumnya, Calista mengalami koma selama 16 hari dan dirawat di Rumah Sakit (RS) Karawang, Jawa Barat.

Dari penyelidikan dan pengakuanya, tindakan keji aniaya bayinya sendiri telah dilakukan SN sejak bulan Februari hingga Maret 2018. Dalam kurun waktu dua bulan tersebut, SN aniaya bayinya dengan cara memukul, muncubit di bagian tangan, kaki, kepala dan punggung.

Baca juga: Pisah dengan Istri, Pria Ini Setubuhi Anak Kandungnya Sendiri

Adapun alasan SN melakukan tindakan bejat terhadap anak yang lahir dari rahimnya sendiri adalah tekanan situasi ekonomi.”Karena faktor ekonomi, SN mudah melampiaskan kekesalan kepada bayinya,” jelas AKBP Hendy.

Menanggapi kejadian tersebut, wakil ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati menuturkan, tekanan ekonomi seharusnya tidak dilampiaskan kepada anak. Kejadian itu, kata Rita, menjadi duka yang mendalam bagi anak-anak Indonesia.

“Beban hidup yang dialami SN seharusnya tidak dilampiaskan kepada ananda Calista. Kejadian ini membuat kita semua merasa pilu,” kata Rita di Jakarta, Senin (26/3).

Anak Adalah Anugerah

Peristiwa pilu, sebagaimana dialami Calista, bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Rita mengungkapkan, untuk tahun 2018 saja, tercatat sudah 18 kasus anak mengalami kekerasan fisik seperti dipukul, disekap, disulut rokok, ditanam hidup-hidup-hidup hingga diberi racun.

“Sampai Maret 2018 tercatat setidaknya sebanyak 23 kasus anak mengalami kekerasan mulai kekerasan fisik, dipukul berulang, disekap, setrika, dipasung, disulut rokok, ditanam hidup-hidup, bersama-sama menjatuhkan diri hingga diracun. Kemudian 16 meninggal di tangan ortu dan enam anak di antaranya kakak beradik,” ujarnya.

Orang tua, kata Rita, perlu meyadari bahwa anak adalah anugerah yang harus diterima sebagai amanah bagi orang tua. “KPAI mengimbau agar orang tua agar menyadari bahwa anak adalah amanah dari Sang Maha Pencipta yang tidak pernah dapat memilih siapa orang tuanya. Dalam kondisi apa pun, kondisi anak harus diterima sebaik-baiknya,” tuturnya.

Baca juga: Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Butuh Perhatian Gereja

Menurut Rita, kebanyak orang tua memandang anak sebagai harta milik yang bisa diperlakukan sesuai dengan keinginannya. Para orang tua lupa bahwa anak-anak juga memiliki martabat yang sama dan harus dihargai.

Rita menjelaskan, ibu menempati pelaku kekerasan tertinggi sebanyak 44 persen, ayah 18 persen, ibu dan ayah tiri sebanyak 22 persen, pengasuh 8 persen, dan pengasuh pengganti seperti tante dan ayah tiri sebanyak 8 persen.

Adapun ia menyinggung ibu menjadi pelaku kekerasan tertinggi karena konstruksi masyarakat patriarki, mereka tanpa dukungan keluarga dan pasangan.

Selain itu, perkawinan yang tidak diinginkan dan situasi tidak nyaman juga bisa menjadi penyebab. Sedangkan, penyebab orang tua melakukan kekerasan terhadap anak di antaranya karena ketidakharmonisan keluarga, faktor ekonomi, pengetahuan tentang pengasuhan yang kurang, dan masalah pribadi yang mengarah ke kesehatan mental.

Rita menambahkan, tingkat pendidikan dan profesi tidak mempengaruhi. Bahkan, ia pernah menemui pelaku kekerasan yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS).*

COMMENTS