Anggota DPRD Asal Ende Aniaya Petugas Bandara Ngurah Rai

Anggota DPRD Asal Ende Aniaya Petugas Bandara Ngurah Rai

Anggota DPRD Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur Abdul Kadir dilaporkan ke polisi lantaran menganiaya petugas boording gate maskapai Lion Air Bandara Ngurah Rai. (Foto: Bandara Ngurah Rai - ist)

DENPASAR, dawainusa.com – Anggota DPRD Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur Abdul Kadir dilaporkan ke polisi lantaran menganiaya petugas boording gate maskapai Lion Air Bandara Ngurah Rai, Rabu (2/1). Kadir menganiaya I Dewa Gede Adi Saputra di pintu nomor 5 Terminal Keberangkatan Domestik Bandara Ngurah Rai pukul 11.25.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden memalukan itu bermula ketika korban menutup pintu gate 5, sekitar pukul 11.20. Pada saat ditutup, politisi dari Fraksi PKB DPRD Ende ini datang secara tiba-tiba. Ia lalu bertanya kepada korban, apakah dirinya masih bisa berangkat?

“Pria yang bertugas sebagai ground staf ini lantas menjelaskan kepada terlapor bahwa terlapor sudah terlambat boording dan pintu pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 746 (DPS/UPG) tutup,” ungkap sumber di Polsek KP3 Bandara Ngurah Rai, seperti dikutip JawaPos.com, Rabu (2/5) siang.

Baca juga: Dianggap Haram, Sejumlah Warga Menolak Diimunisasi

Kadir marah setelah mendapatkan penjelasan dari petugas. Secara tiba-tiba ia menampar korban dan mengenai bagian telinga sebelah kanan. Akibatnya korban mengalami rasa sakit dan mendengung pada bagian telinga. Merasa dianiaya dan dipermalukan di depan umum, korban segera melapor ke Mapolsek KP3 Bandara Ngurah Rai.

“Sementara korban sedang divisum di rumah sakit,” imbuh sumber tersebut.

Kapolsek KP3 Bandara Ngurah Rai Kompol Krisna membenarkan insiden yang menimpa ground staf Bandara Ngurah Rai. “Sementara masih ditangani anggota di lapangan,” kata Kompol Krisna.

Anggota DPRD Kabupaten Ende

Anggota DPRD Ende Abdul Kadir Hasan (Foto: Radar Bali)

Kejadian Serupa

Aksi tidak terpuji yang dilakukan anggota dewan bukan baru pertama kali terjadi. Pada 2017 lalu, Anggota DPRD Provinsi Jambi H Salam, melakukan aksi yang sama di Bandara Sultan Thaha, Jambi Selatan, Kota Jambi.

Tindakan arogansi Salam berawal dari teguran petugas bandara karena memarkir kendaraan tak sesuai aturan. Rupanya Salam tak terima dan malah memarahi petugas tersebut hingga melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Baca juga: Soal Manuver Ruhut Sitompul yang Berseragam PDIP

Kejadian memalukan itu terekam oleh kamera ponsel amatir pengunjung. Lalu, video tersebut beredar pula di youtube.com. Video berjudul “anggota DPRD Jambi marah dan tampar petugas bandara” itu, berdurasi sekitar 3 menit. Di video itu jelas tergambar adegan saat H Salam menampar petugas bandara dengan tangan kirinya.

Sebelumnya, anggota DPR RI Andi Taufan Tiro yang menjadi tersangka dalam kasus suap terkait proyek di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pernah menjadi sorotan publik karena sikap arogannya pada 2012 lalu.

Saat itu, Andi diberitakan menampar pegawai Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta. Andi yang tidak sabar mengantre di pintu imigrasi kemudian mendorong seorang pegawai Bea dan Cukai. Akibat hal tersebut, Andi diberikan sanksi lisan oleh Badan Kehormatan DPR RI.

Gangguan Psikologis?

Beberapa pakar menyebutkan, orang yang melampiaskan amarahnya di depan umum punya kecendrungan mengidap gangguan psikologis yang berkaitan dengan masalah emosi. Para pakar psikologi menyebutnya sebagai kelainan Borderline Personality Disorder (BPD).

BPD adalah sebuah kelainan emosi dimana penderitanya kurang atau bahkan sama sekali tidak mampu dalam mengendalikan emosinya (tergantung seberapa parah tingkat penyakitnya).

Baca juga: Perlukah Regulasi Khusus Soal Netralitas ASN Dalam Pilkada?

Orang-orang yang mengidap gangguan ini biasanya mudah marah terhadap orang lain yang dianggap melakukan suatu kesalahan kepada dirinya.

Para penderita gangguan ini merasakan lonjakan emosi tersebut hampir setiap hari dan setiap saat serta seringkali untuk hal hal maupun alasan alasan yang sangat sepele.

Parahnya, karena kondisi emosi yang labil dan campur aduk, seringkali para penderita penyakit ini sangat tidak mampu dalam hal mengenali emosi yang sedang mereka rasakan.

Penderita penyakit ini bisa disembuhkan atau setidaknya dapat dikendalikan dengan baik, namun syaratnya harus mendapatkan perawatan dan terapi intensif dari psikolog atau psikiater.*

COMMENTS