Amnesty International: Aksi FPI Geruduk Tempo Tidak Boleh Didiamkan

Amnesty International: Aksi FPI Geruduk Tempo Tidak Boleh Didiamkan

Direktur Amnesty International Indonesia (AII) Usman Hamid menegaskan, aksi FPI geruduk kantor Majalah Tempo seharusnya tidak boleh didiamkan oleh negara. (Foto: Aksi FPI depan kantor Tempo - Merdeka.com).

JAKARTA, dawainusa.com Aksi massa Front Pembela Islam atau FPI geruduk kantor Majalah Tempo pada Jumat  (16/3) lalu mendapat sorotan dari Amnesty International Indonesia (AII).

Direktur AII Usman Hamid menegaskan, aparat kepolisian seharusnya tidak boleh tinggal diam terhadap aksi intimidatif yang dilakukan kelompok FPI tersebut.

Pihak kepolisian, jelas Usman, harus mengambil sejumlah langkah aktif dengan melihat kemungkinan adanya pelanggaran hukum yang dilakukan FPI kepada Tempo. “Kepolisian harusnya menimbang juga penggerudukan ini secara hukum,” tegas Usman di Jakarta, seperti diberitakan Tempo.co, Selasa (20/3).

Menurut Usman, negara seharusnya tidak boleh membiarkan hal seperti yang dilakukan FPI itu terjadi di Indonesia ini. Baginya, negara mesti menjamin perlindungan yang penuh kepada setiap media seperti Tempo sehingga dapat bekerja dengan aman dan mengungkapkan segala persoalan di negeri ini secara jujur, bebas dan tanpa intimidasi.

“Memang sudah tugas negara untuk menjamin bahwa media seperti Tempo dapat bekerja dalam atmosfer yang aman dan bebas dari tekanan massa,” tutur Usman.

Baca juga: Dinilai Lecehkan Rizieq Shihab, FPI Gelar Aksi di Kantor Tempo

Untuk diketahui, sekitar 200 anggota FPI berunjuk rasa di kantor Tempo, Jalan Palmerah Barat, Jumat (16/3) lalu. Dalam aksi tersebut, mereka menuntut dan mendesak redaksi Tempo untuk meminta maaf kepada FPI karena telah mempublikasikan karikatur di Majalah Tempo yang dinilai melecehkan imam besar FPI, Rizieq Shihab.

Tidak hanya sebatas unjuk rasa, ketika diterima untuk bermediasi di dalam kantor Tempo, seorang anggota FPI menggerebak meja dan melempar gelas air mineral ke tengah meja diskusi.

Selain itu, mereka juga mendesak Pemimpin Redaksi Tempo Arif Zulkifli agar keluar dan meminta maaf di depan massa FPI.

Saat Arif memberikan penjelasan di atas mobil massa, seorang dari antara kelompok FPI mengambil dan melemparkan kaca mata Arif ke tengah kerumunan massa. Arif juga dilempari gelas mineral oleh massa yang ada di sekitarnya.

FPI Geruduk Tempo, Ancaman Kebebasan Pers

Aksi FPI geruduk Tempo ini menuai kecaman dan kritikan dari sejumlah pihak. Salah satunya datang dari pengamat komunikasi Universitas Indonesia Nina Mutmainnah.

Ia menegaskan, tindakan massa FPI yang mengancam dan memaksa Tempo seperti itu merupakan sebuah ancaman bagi kebebasan pers di Indonesia. Baginya, hal semacam ini seharusnya tidak boleh terjadi di negara demokratis seperti di Indonesia.

“Mengancam hak warga negara serta mengancam hak publik untuk mendapat informasi. Sebenarnya ini sudah diatur dalam UUD yang mengatur kebebasan berpendapat,” kata Nina di Jakarta, Minggu (18/3).

Baca juga: Didemo FPI, Apa Salah Tempo?

Menurutnya, ancaman terhadap kebebasan pers seperti itu memang sudah sering terjadi untuk beberapa tahun terakhir. “Kalau dulu Orde Baru ancaman dari penguasa. Sekarang sudah berbalik dari masyarakat maupun dari kelompok masyarakat tertentu,” ungkapnya.

Adapun setelah aksi FPI berlangsung, sejumlah organisasi masyarakat sipil, yakni Alinasi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, LBH Pers, LBH Masyarakat, yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) datang ke kantor Tempo dan mememberikan dukungan moril kepada Tempo.

Sejumlah organisasi itu datang bersamaan dengan organisasi sipil lainnya seperti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK), Indonesia Coruption Watch (ICW), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Sindikat, Lokataru, KPA, Lembaga Penelitian Indonesia, Safenet, dan Pemuda Muhammadiyah.

Yeti Andriyani dari KontraS menjelaskan, kehadiran organisasi-organisasi tersebut ke Tempo merupakan bentuk dukungan mereka agar Tempo sebagai sebuah media tidak boleh takut terhadap ancaman dan intimidasi dari siapapun.

Akan Terjadi Degradasi Demokrasi

Selain menuturkan demikian, Yeti juga menyampaikan kutukan terhadap aksi yang dilakukan FPI tersebut. Ia mengatakan, kalau hal seperti ini terus dibiarkan, pasti akan terjadi degradasi demokrasi.

Ia menegaskan, aksi FPI geruduk Tempo sudah melebihi batas toleransi karena sangat intimidatif dan anarkis. “Seperti pelemparan botol air meneral saat audiensi, atau perebutan kaca mata Pemred Tempo. Ini sudah di luar konteks, ini sudah mengarah ke ancaman kebebasan pers. Ruang demokrasi, ruang pers akan terancam,” tutur Yeti.

Baca juga: Tempo: Tidak Ada Alasan untuk Tunduk Pada Tekanan FPI

Kecaman senada juga dilayangkan oleh Asfinawati dari YLBHI. Ia mengatakan, peristiwa seperti ini tidak boleh terjadi lagi di negeri ini karena akan menggerus kebebasan berekspresi dan berdemokrasi.

“Dulu kelompok-kelompok seperti ini tidak berani melakukan tindakan seperti ini. Namun karena tidak ada sikap tegas oleh penegak hukum, sekarang mereka semakin berani melakukan tindakan persekusi, semakin percaya diri,” kata Asfinawati.

Adapun dukungan organisasi sipil tersebut mendapat tanggapan positif dari redaksi Tempo sendiri. Pemimpin Redaksi Tempo Arif Zulkifli mengapresiasi dukungan tersebut. Ia mengungkapkan, masalah karikatur Tempo akan diselesaikan oleh Dewan Pers. “Apakah ada kode etik yang dilanggar dalam karikatur tersebut atau tidak,” ujar Arif.*

COMMENTS