Alasan di Balik Beralihnya Kader PDIP NTT Ke Benny K. Harman

Alasan di Balik Beralihnya Kader PDIP NTT Ke Benny K. Harman

Peta politik di Pilgub NTT berubah. Sejumlah kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) NTT memilih berlabuh ke pasangan calon lain. (Foto: Benny K. Harman & Benny Litelnoni saat mengikuti debat perdana Pilkada NTT - ist)

JAKARTA, dawainusa.com – Peta politik di Pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Timur (Pilgub NTT) berubah. Dikabarkan, sejumlah kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) NTT memilih berlabuh ke pasangan calon lain.

Sebelumnya, kader PDIP mendukung Calon Gubernur (Cagub) Marianus Sae (MS), yang diusung oleh PDIP dan PKB. Namun, saat ini banyak yang beralih dukungan kepada Cagub Benny K. Harman (BKH).

Baca juga: Pilgub NTT: Internal PDIP Retak, Demokrat Kian Solid

“Perubahan peta dukungan di Pilgub NTT akibat ancaman hukuman 20 tahun penjara yang dihadapi Marianus Sae setelah menjadi tersangka Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (OTT KPK),” ujar Juru Bicara Masyarakat Flores Bersatu (MFB) Yulius Sebastian di Flores, NTT, Kamis (5/4) malam.

Bahkan, menurut Yulius, sejumlah kader PDIP di Timor dan Flores sudah menyatakan dukungan untuk BKH.

“Sebenarnya, sebelumnya konflik sudah terjadi di PDIP ketika kader PDIP justru tidak dicalonkan oleh partainya sendiri sebagai cagub, dan malah memilih Marianus Sae. Sampai akhirnya, di pertengahan jalan Marianus tertangkap OTT KPK,” ucap Yulius.

BKH dan Frans Lebu Raya Semakin Mesra

Saat ini, kata Yulius, selain beralih ke BKH, kader PDIP ada juga yang memberikan dukungan ke Victor-Joss, seperti yang dilakukan Ray Fernandes, Bupati Timor Tengah Utara (TTU). Bahkan, sekretaris pemenangan Viktor justru dikomandani Honing Sani, mantan anggota DPR RI dari Fraksi PDIP.

“Namun, kader PDIP lebih banyak yang menyeberang memberikan dukungan ke Benny K. Harman daripada ke Victor. Dan saat ini, foto Frans Lebu Raya (FLB) bersama Benny K. Harman banyak beredar di Lamaholot. Ini seperti sinyal dan pesan kuat FLB memberi dukungan kepada Benny K. Harman,” ungkap Yulius.

Baca juga: Pengamat Politik: Flores Jadi Penentu Utama Pilgub NTT

Sebelumnya, tokoh PDIP Belu Herman Yosep Loe Mau menyatakan diri siap turun tangan memenangkan Paket Calon Gubernur Benny K. Harman dan Benny A. Litelnoni (Harmoni), menjadi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT.

Pernyataan itu disampaikan Herman Yosep saat menerima kedatangan Cagub Benny K. Harman di Kelurahan Tulamalae, Kabupaten Belu, Jumat (9/3) lalu. “Kampanye berikutnya saya ikut Pak Benny,” ujar mantan anggota DPRD Kabupaten Belu 1999-2004 itu.

Bahkan, Herman Yosep secara gamblang mendukung penuh paket Harmoni untuk mengunjungi kampung halamannya di Lamaknen, Kabupaten Belu.

“Dengan duet Benny K. Harman seorang politisi dan Benny A. Litelnoni seorang birokrat menjadi sinergi yang dapat membangun NTT,” jelas Herman.

Sementara, politisi senior PDIP Sikka EP da Gomez telah menitipkan harapan kepada Benny K. Harman untuk memperjuangkan penegrian Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, kelak ia terpilih menjadi Gubernur NTT.

“Saya harap Pak Benny bisa memperjuangkan Unipa menjadi perguruan tinggi negeri. Sudah sangat lama, masyarakat di Sikka dan Pulau Flores mendambakan ada perguruan tinggi negeri di Flores,” ujar Moat EP, sapaan EP da Gomez kepada BKH di Maumere, Jumat (12/1) lalu.

Megawati Sindir Kader PDIP yang Lupa Diri

Sebelumnya, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menyayangkan jika ada kader sampai lupa diri hingga tidak menyelesaikan masa jabatannya sebagai kepala daerah. Padahal kader tersebut diusung partai memimpin selama lima tahun.

“Kita tidak bisa menarik orang ini, kalau orang ini lupa diri. Saya wanti-wanti mereka yang sudah dipilih oleh PDI Perjuangan untuk bisa menangkis, mengingat, kalau orang Jawa bilang tatap hatinya bukan pikirannya, godaan-godaan yang ada,” kata Megawati dalam sambutannya di hadapan jajaran DPP PDIP dan ratusan kader banteng di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (7/1).

Baca juga: Pilgub NTT: Sebelumnya Mendominasi, Kini PDIP Hadapi Tantangan

Mega mengatakan, dirinya selalu memberi kesempatan kader-kader yang berhasil di periode pertama, untuk maju kembali pemilihan kepala daerah di periode berikutnya. “Saya tidak akan susah payah, ribut mencari yang lain, saya izinkan,” tutur Megawati.

“Kita bisa lihat tokoh-tokoh itu seperti Pak Djarot (Djarot Saiful Hidayat) setelah saya lihat lulus karirnya di partai, tidak langsung jadi tokoh, masuk di struktur pimpinan. Dua kali berarti 10 tahun jadi wali kota Blitar,” imbuh Megawati mencontohkan.

Ia melanjutkan, ada Ganjar Pranowo yang dikenalnya sejak masuk PDIP lalu berkiprah di DPR. Pada awalnya, beber Megawati, banyak orang sinis dengan keputusannya mengusung Ganjar di Pilkada Jateng. Elektabitas Ganjar ketika itu hanya 6 persen dalam survei dipandang tidak mumpuni.

“Bagi kami survei bukan pegangan, tapi hanya sekadar menambah modalisasi untuk tahu yang namanya peta, bagaimana memproyeksikan ke depan. Paling utama di PDI Perjuangan adalah soliditas. Kalau saya katakan semuanya maju tempur, tidak ada yang katakan saya tidak bisa,” tegasnya.

Partai PDIP, katanya, tidak butuh orang-orang yang tidak patuh. Bagi Mega, cukup lima orang yang betul-betul fighter atau pejuang bukan kepentingan pribadi, tapi untuk partai dan rakyat.

“Buat saya cukup lima orang daripada punya 100 orang tidak jelas keinginannya. Saya berupaya untuk mencari orang-orang itu dan mudah-mudahan dengan dukungan dari masyarakat yang nantinya nyoblos,” pungkas dia.*

COMMENTS