Ahmad Dhani Sebut Pengeboman di Surabaya Bukan Sebuah Terorisme

Ahmad Dhani Sebut Pengeboman di Surabaya Bukan Sebuah Terorisme

Sstilah Islam radikal dan Islam ekstrim sama sekali tidak terdapat di dalam kitab suci Al-Quran (Foto: Ahmad Dhani - Dream).

JAKARTA, dawainusa.com – Musisi Ahmad Dhani mengatakan, peristiwa bom bunuh diri yang menghantam tiga Gereja di Surabaya, Minggu (13/5) lalu bukanlah sebuah tindakan terorisme. Ia mengatakan, hal itu hanya merupakan sebuah konspirasi.

“Saya tidak menyebut mereka teroris, ini konspirasi kuasa gelap. Jadi, memang pelaku terornya, sebenarnya mereka bukan pelaku teror ya. Karena mereka mati, kemudian ada yang menyutradarai,” kata Ahmad Dani di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (14/5).

Dhani menerangkan, istilah Islam radikal dan Islam ekstrim sama sekali tidak terdapat di dalam kitab suci Al-Quran. Dalam sejarah Islam, jelas Dhani, terorisme sama sekali tidak ada.

Baca juga: Densus 88 dan Polda Sumsel Kembali Tangkap Dua Terduga Teroris

“(Islam) radikal dan ekstrim itu tidak ada di dalam wacana Islam, radikal islam teroris tidak ada kata-kata itu di dalam atau termasuk di dalam Al-Quran,” tutur Dhani.

“Teror itu di jaman khalifah gak ada di jaman Muhamad gak ada dalam khalifah usmani gak ada, jaman salahuddin ga ada kata-kata teror ekstrimis radikal itu ada setelah adanya Bahasa Inggris saja,” lanjut Dhani.

Meski demikian, ia tetap memberikan rasa belasungkawanya kepada setiap korban dalam peristiwa pengeboman tersebut. “Iya, ini rasa bela sungkawa terhadap korban-korban sutradara bom (yang terjadi di Surabaya),” ungkap Dhani sebelum mengikuti sidang putusan sela di Pengadilan Jakarta Selatan, Senin (14/5).

Terkait Terorisme di Surabaya

Sebagaimana diketahui, sejumlah rangkaian bom bunuh diri telah menghantam Kota Surabaya, Minggu (13/5) dan di Sidoarjo, Senin (14/5) kemarin. Aksi terorisme melalui ledakan bom tersebut pertama terjadi pukul 07.13 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya, Minggu (13/5).

Setelah itu disusul ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan di Jalan Arjuno. Terakhir di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro 146 di Jalan Raya Diponegoro.

Tidak berhenti di situ, pada malam hari, yakni sekitar pukul 21.20 WIB, ledakan bom kembali terjadi di area rusunawa kawasan Wonocolo, Sidoarjo. Dalam ledakan bom tersebut ada tida orang terduga pelaku yang tewas, yakni Anton (47) beserta istrinya, Puspita Sari (47), dan anak pertamanya, LAR (17).

Baca juga: Pesan Terakhir Korban Ledakan Bom di Surabaya untuk Sang Suami

Sementara pada Senin (14/5) pagi sekitar pukul 08.50 WIB, ledakan bom kembali terjadi di depan Polrestabes Surabaya. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak kepolisian, aksi pengeboman ini dilakukan oleh empat pelaku dengan memakai dua buah sepeda motor. Semua pelaku itu meninggal dunia.

Berdasarkan keterangan yang dirilis oleh pihak kepolisian, ada 21 orang warga dan 13 pelaku yang tewas dalam serangan bom tersebut. “Saya ingin update jumlah korban secara menyeluruh, khususnya di Surabaya dan Sidoarjo hingga hari ini. Total ada 21 orang masyarakat meninggal pagi ini di Surabaya. Kemudian 13 pelaku tewas,” ungkap Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin di Surabaya, Senin (14/5).

Pelaku pengeboman di Surabaya dan Sidoarjo tersebut, demikian Arifin, dipastikan melibatkan keluarga mereka. Hal ini diketahui dari hasil identifikasi dan pengecekan aparat dan ditemukan bahwa semua pelaku merupakan satu keluarga. “Perlu saya sampaikan kejadian(pengeboman) yang di Sidoarjo dan Surabaya semuanya satu keluarga,” jelas Arifin.

Pelaku Teror Terus Ditangkap

Serangan teroris tersebut berkemungkinan akan terulang kembali, sebab sejumlah orang yang diduga teroris masih berkeliaran di berbagai tempat di Indonesia saat ini dan terus dikejar oleh pihak aparat. Hal ini dibuktikan dari adanya penangkapan dua orang yang diduga teroris seperti yang dilakukan oleh Densus  88 dan Polda Sumatera Selatan (Sumsel) di Palembang, Senin (14/5) kemarin.

Berdasarkan keterangan Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara, kedua orang tersebut diketahui hendak melakukan aksi teror di Mako Brimob Kelapa Dua. Penangkapan kedua terduga teroris tersebut, jelas Zulkarnain, terjadi saat berada di KM 5 Palembang. Inisial keduanya ialah AA (39) dan HK (38), semuanya berasal dari Pekanbaru, Riau.

“Ya benar, Densus 88 yang mengamankan dua orang terduga teroris, warga Pekanbaru, Riau,” kata Zulkarnain seperti diberitakan Merdeka, Senin (14/5).

Baca juga: Usul Terbitkan Perppu, Ketua Pansus RUU Terorisme Minta Tito Mundur

Zulkarnain menerangkan, saat ini kedua terduga teroris itu sedang menjalani pemeriksaan. “Dari pengakuannya, mereka mau berbuat amaliah di Mako Brimob Kelapa Dua,” jelas Zulkarnain.

Selain di Palembang, pihak kepolisian juga telah melakukan penindakan terhadap 13 orang terduga teroris di Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, 4 orang di antaranya ditembak mati sementara 9 orang lainnya ditangkap dalam kondisi hidup.

Berdasarkan keterangan Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Frans Barung Mangera dalam konferensi pers di Mapolda Jawa Timur, Senin (14/5), 4 orang terduga teroris itu ditembak mati karena berusaha melawan petugas.

“Kita melakukan penindakan terhadap 13 orang yang akan melakukan tindakan teror, 4 orang kita tembak mati, kita lumpuhkan karena situasi, melawan petugas. Sementara 9 tertangkap dalam kondisi hidup,” jelas Frans.

Frans menjelaskan, penindakan terhadap terduga teroris itu terhitung sejak Senin pukul 02.30 WIB dini hari sampai pukul 16.45 WIB. Mereka semua, jelas Frans, tersebar di Sidoarjo dan Surabaya.*

COMMENTS