7 Fakta Tentang Paskah yang Wajib Anda Ketahui Menurut Alkitab

7 Fakta Tentang Paskah yang Wajib Anda Ketahui Menurut Alkitab

Sebagai salah satu peristiwa penting dalam Gereja, umat Kristiani sudah seharusnya mengetahui tentang pentingnya perayaan Paskah. (Foto: Ilustrasi perayaan Paskah - Konfrontasi).

LIFESTYLE, dawainusa.com Paskah merupakan salah satu hari besar dalam tradisi Kristiani selain hari Natal.  Setiap tahun, umat Kritiani selalu merayakan hari besarnya ini. Namun, sudahkah Anda tahu apa sebenarnya Paskah itu? Kenapa orang Kristiani merayakannya?

Apakah Paskah di Perjanjian Baru berbeda dengan yang tertulis di Perjanjian Lama? Apakah Paskah Kristen itu hanya untuk memperingati kematian Yesus atau memperingati kebangkitan-Nya, atau justru keduanya?

Baca juga: Di Larantuka, Pemprov NTT Siapkan Kapal untuk Peziarah Jumat Agung

Alkitab sendiri mengungkapkan, Paskah merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Kristiani. Karena itu, umat Kristiani sudah seharusnya mengetahui tentang pentingnya perayaan ini.

Dilansir rubrikkristen, berikut beberapa fakta yang perlu Anda ketahui tentang perayaan Paskah tersebut.

1. Berasal Dari Kata Ibrani Pesakh

Kata Paskah itu sendiri berasal dari kata Ibrani Pesakh yang berarti ‘melewati’. Hal ini hendak menunjuk pada peristiwa di mana Tuhan melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir yang telah dibubuhi dengan darah anak domba.

Dalam tradisi Yahudi, setiap rumah yang telah dibubuhi oleh darah anak domba diyakini tidak akan mendapat tulah atau hukuman dari Tuhan (Bdk. Keluaran 12:13).

Sedangkan, rumah-rumah orang Mesir yang tidak dibubuhi dengan darah, akan mendapat tulah dari Tuhan, yakni anak sulung mereka akan mati, mulai dari anak sulung para tawanan hingga anak sulung raja Mesir, Firaun.

2. Peristiwa Keluarnya Umat Israel dari Mesir

Paskah ialah sebuah upacara untuk memperingati peristiwa keluarnya bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah dari tanah perbudakan di Mesir menuju tanah perjanjian, yakni Tanah Kanaan. Dalam Alkitab, peristiwa pembebasan ini sendiri telah dinubuatkan oleh para nabi sebelumnya.

Waktu itu, Tuhan melepaskan umat-Nya dengan cara menulahi bangsa Mesir, yakni bangsa penjajah mereka sampai sepuluh kali. Tulah terakhir, yakni kematian anak-anak sulung bangsa Mesir yang membuat Firaun terpaksa membiarkan umat Israel keluar dari tanah mereka setelah sebelumnya memperbudak mereka selama 430 tahun.

Untuk mengenang peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir ini, Tuhan memerintahkan agar mereka merayakan upacara ini agar mereka selalu mengingat perbuatan Tuhan tersebut secara turun temurun. (Bdk. Keluaran 12:1-42).

Baca juga: Kronologi Pengerusakan Gereja Katolik di Palembang

3. Menyembelih dan Memakan Anak Domba

Menyembeli dan memakan anak domba adalah unsur utama dari perayaan Paskah Israel. Mereka menyembelih dan memasak anak domba itu dengan cara dipanggang, lalu mereka memakannya saat perayaan suci itu tiba. Itulah yang disebut anak domba Paskah.

Anak domba yang disembelih bukanlah anak domba sembarangan, tetapi harus anak domba yang tidak bercacat dan masih muda. Sekalipun kambing atau lembu juga diperbolehkan, tetapi anak domba adalah yang paling umum dipakai dalam tradisi orang Israel hingga saat ini.

Anak domba tersebut dimakan bersama roti yang tidak beragi dan sayur pahit. Roti yang terbuat dari gandum adalah makanan pokok orang Israel. (Bdk. Keluaran 12: 1-11).

4. Yesus Juga Ikut Merayakan

Selama Yesus hidup di dunia, sebagai orang berketurunan Yahudi, ia beberapa kali merayakan Paskah (Bdk. Yohanes 2:23). Sehari sebelum wafat, Yesus dan murid-murid-Nya juga merayakan perayaan tersebut. Saat itu, Yesus dan para murid-Nya dipandang sebagai satu keluarga dan sebagai kepala keluarganya ialah Yesus sendiri.

Sebagaimana Paskah orang Israel pada zaman itu, Yesus dengan para murid-Nya juga merayakannya dengan memakan roti dan meminum anggur. Tetapi tidak dijelaskan apakah mereka menyembelih anak domba atau tidak.

Pada hari Paskah tersebut, Yesus juga berbicara banyak tentang kematian dan kebangkitan-Nya kepada para murid-Nya, termasuk soal pengkhianatan yang dilakukan oleh salah seorang murid-Nya, Yudas Iskariot (Bdk. Matius 26:17-25).

5. Genapi Paskah Yahudi, Tahbiskan Paskah Kristen

Yesus tidak hanya sekedar merayakan Paskah orang Israel terkait peristiwa untuk mengenang keluarnya mereka dari tanah perbudakan di Mesir menuju tanah perjanjian. Ia juga menahbiskan Paskah Kristen.

Ketika ia bersama para murid-Nya merayakan Paskah Yahudi dengan makan roti dan minum anggur, ia sebenarnya juga menyatakan bahwa roti tersebut adalah lambang tubuh-Nya yang diserahkan bagi manusia dan anggur itu ialah lambang darah-Nya yang ditumpahkan untuk pengampunan dosa manusia.

Yesus sendiri menyebut hal ini sebagai Perjanjian Baru yang sebelumnya sudah dinubuatkan oleh Nabi Yeremia (Bdk. Yeremia 31:31-34).

Dengan demikian, orang Kristen merayakan Paskah tidak lagi dalam rangka untuk memperingati keluarnya umat Israel dari perbudakan di Mesir, tetapi untuk memperingati keluarnya orang beriman yang percaya kepada Yesus dari perbudakan dosa melalui kematian-Nya di kayu salib.

Baca juga: Detik-detik Penyerangan di Gereja St Lidwina Sleman

Darah anak domba yang dioleskan pada tiap ambang pintu rumah bangsa Israel adalah lambang darah Yesus yang ‘dioleskan’ dalam diri setiap orang yang percaya. Barangsiapa mempunyai darah itu, maka ia selamat, dilewati (Pesakh) oleh Tuhan dan tidak akan mendapatkan hukuman.

Demikian juga dengan anak domba yang mereka sembelih adalah lembang Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang tak bercacat.

Dalam hal inilah, Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Bdk. Yohanes 1:29), dan Rasul Paulus yang menyebut Yesus sebagai ‘anak domba Paskah kita’ (Bdk. 1 Korintus 5:7).

6. Merayakan Lewat Perjamuan Kudus

Pada zaman Perjanjian Baru, orang Kristen merayakan Paskah lewat Perjamuan Kudus dengan memakan roti dan meminum anggur sama seperti yang telah dilakukan oleh Yesus.

Roti dan anggur tidak hanya dipakai karena kedua hal itu pernah dipakai oleh Yesus, tetapi karena kedua hal itu dipakai oleh Yesus untuk meresmikan Paskah Kristen, yakni untuk mengingat kematian-Nya.

Jadi, orang Kristen di Perjanjian Baru tidak merayakan Paskah Yahudi, tetapi untuk memperingati pembebasan orang beriman dari belenggu dosa melalui kematian Yesus di kayu salib.

7. Memperingati Kematian dan Kebangkitan Yesus

Pada awalnya, Paskah Kristen hanya untuk memperingati kematian Yesus. Akan tetapi, dalam Perjanjian Baru, perayaan itu juga merupakan sebuah perayaan untuk memperingati peristiwa kebangkitan Yesus.

Hal ini tampak dari hari ibadah umat Kristiani yang diadakan pada hari Minggu di mana Perjamuan Kudus diadakan (Bdk. Kisah Para Rasul 20:7). Hari Minggu adalah hari kebangkitan Yesus (Bdk. Matius 28:1), sedangkan hari kematian Yesus adalah hari Jumat (Bdk. Markus 15:42).

Jika umat Kristiani hanya mengingat kematian Yesus, makan tentu mereka akan melakukan Perjamuan Kudus pada hari Jumat, yakni hari kematian Yesus. Faktanya, mereka melakukan Perjamuan Kudus pada hari Minggu, yakni hari kebangkitan Yesus.*

COMMENTS